Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2024

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Standar Hidup

                Kadang saya ini suka berlebihan kalau sedang ngobrol sama diri sendiri. Sebab ada banyak sekali topik obrolan yang menarik untuk diproses setiap hari, jadi saya lebih suka jika sedang sendiri. Kalau lagi berkumpul dengan orang lain, atau mengobrol dengan mereka, itu saya anggap sebagai tempat istirahat setelah berpikir seharian. Tapi ya, namanya juga istirahat, lumrahnya sebentar saja, supaya bisa lanjut kerja.            Sesering apapun saya mendapatkan saran agar lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang, sesering itu juga rasanya tidak mempan untuk dicoba. Percayalah, saya dulu sudah pernah mencobanya, dan malah tidak tenang. Saya malah tidak tenang ketika banyak yang kenal, seolah ruang privasi saya sedang dicuri. Meskipun seolah-olah menyenangkan bisa dikenal banyak orang, tapi itu hanya ilusi. Kenyataannya adalah semakin banyak orang yang ingin membicarakanmu dari belakang. Gerak ge...

Membuat Jarak - Cerpen

foto by pinterest "Memangnya kenapa jika kau tidak menjadi apa-apa?"  Pertanyaan itu kulontarkan pada sahabatku yang sudah tidak bertemu selama hampir tiga tahun belakang. Setelah kelulusan kuliah, mereka seolah terlepas dari sangkar lalu mulai mencari jalannya masing-masing. Tak kerkecuali Herman, teman terdekatku. Dulu kami bertemu ketika dalam satu komunitas yang sama, yakni pendakian. Kulihat laki-laki ini sudah banyak berubah dari terakhir kali kita bertemu. Herman yang kukenal adalah seseorang yang suka melempar candaan di tongkrongan, dia ceria, dia tak pernah melakukan sesuatu yang tidak ia kehendaki. Aku masih ingat ketika dia kupaksa turun dari pendakian tanpa berhasil sampai puncak saat kakinya terluka. Aku juga masih ingat betul bagaimana dia bersikeras untuk terus melanjutkan perjalanan. Aku mungkin tak akan terlalu khawatir jika kita tidak pergi berdua saja saat itu, masalahnya jika dia kenapa-kenapa, aku juga tidak bisa berbuat banyak. Perlengkapan yang kita ba...