Kadang saya ini suka berlebihan kalau sedang ngobrol sama diri sendiri. Sebab ada banyak sekali topik obrolan yang menarik untuk diproses setiap hari, jadi saya lebih suka jika sedang sendiri. Kalau lagi berkumpul dengan orang lain, atau mengobrol dengan mereka, itu saya anggap sebagai tempat istirahat setelah berpikir seharian. Tapi ya, namanya juga istirahat, lumrahnya sebentar saja, supaya bisa lanjut kerja.
Sesering apapun saya mendapatkan saran agar lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang, sesering itu juga rasanya tidak mempan untuk dicoba. Percayalah, saya dulu sudah pernah mencobanya, dan malah tidak tenang. Saya malah tidak tenang ketika banyak yang kenal, seolah ruang privasi saya sedang dicuri. Meskipun seolah-olah menyenangkan bisa dikenal banyak orang, tapi itu hanya ilusi. Kenyataannya adalah semakin banyak orang yang ingin membicarakanmu dari belakang. Gerak gerikmu diperhatikan, kesalahanmu dijadikan senjata untuk menyerang. Jadi ya, setelah itu saya sudah memutuskan untuk jadi diri sendiri saja. Tak banyak interaksi, hanya dengan orang-orang yang memang sudah dipilih. Cukup begitu saja, saya sudah bahagia.
Saya jadi teringat tentang teori kebahagiaan Albert Einstein, kalau hidup yang sederhana memberi lebih banyak kebahagiaan. Setelah saya pikir, itu bisa jadi benar, namun perlu digaris bawahi dalam kalimatnya tertulis kata sederhana, bukan menderita. Sederhana adalah pilihan dengan kesadaran penuh kalau dia ingin menjalani kehidupan yang sederhana. Saya rasa orang seperti ini ada karena dua alasan, pertama sebab dia pernah menjalani hidup dengan penuh kesuksesan hingga merasa hambar dan akhirnya memilih jalan ketenangan dengan hidup sederhana. Tidak mengejar harta dunia.
Kedua adalah mereka yang memang sejak awal tidak sukses namun dikaruniahi kebijaksanaan. Ini mirip seperti cerita Umbu Landu Paranggi, seorang sastrawan Indonesia yang memilih hidup sederhana, tidak menikah, tidak mengejar hasrat kesuksesan, bahkan digambarkan oleh muridnya bahwa Umbu tahan tidak berinteraksi dengan orang lain dalam waktu lama. Dia hanya mengurung diri di rumah sendirian. Mengejar ketenangan batin yang hanya bisa dirasakan olehnya dan Tuhan YME.
Sedangkan menderita masuk dalam jajaran kata yang dipakai jika dalam situasi yang terpaksa, bukan keinginan sendiri, dia ada karena sebab luar yang dirasa tidak bisa di kontrol oleh pemiliknya. Ini sering terjadi kepada masyarakat kelas bawah, berada pada tingkatan masyarakat paling rendah. Saya pernah mengobrol salah satu dari mereka ketika berkunjung ke Pasar Waru. Beliau bapak-bapak yang bekerja sebagai tukang penyeberang jalan untuk kendaraan. Saya yakin tiap hari kesibukannya ialah tentang bagaimana besok perutnya bisa terhindar dari lapar. Sebenarnya, ini hanyalah spekulasi saya sendiri untuk menganggap beliau masuk dalam jajaran orang yang menderita. Saya juga tidak tanya langsung apakah beliau merasa menderita atau tidak. Semoga saja beliau tetap merasa bahagia.
Alhasil untuk mencapai kebahagiaan menurut Einstein pun tidak mudah, tidak bisa diterapkan menyeluruh pada semua orang.
Saya mengira semua ini hanyalah tentang standar hidup masing-masing orang, ada yang igin mencari ketenangan, kesuksesan, kebahagiaan, penderitaan, dan lain hal. Jadi tak perlu lagi menghakimi orang lain yang memilih jalan hidup yang tidak sesuai dengan standar hidup sendiri. Ah, saya jadi mulai membayangkan dunia dipenuhi dengan pengertian macam ini, seperti Atlantis yang dibayangkan oleh Plato. Saya sibuk membayangkan bangsa yang masyarakatya sibuk menjalani kehidupan dengan standar dirinya sendiri, bukan buatan orang lain. Bangsa khalayan ini akan saya beri nama nanti. Kalau nemu yang pas.
21 November 2024
N. Anisa

Komentar
Posting Komentar