Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben
(Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani).
Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp.
Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwanya terguncang, lalu apati, dan yang terakhir kondisi psikologis setelah dibebaskan.
Jiwa terguncang/syok terjadi ketika pertama kali tahanan Nazi tiba di kamp konsentrasi. Di tempat itu mereka tidak diperlakukan layaknya manusia. Mereka disuruh telanjang, menerima kekerasan fisik, juga berbagai macam bentuk penghinaan. Para tawanan yang semula hidup nyaman dan damai harus bisa beradaptasi dengan kehidupan yang terbalik. Sebagian tahanan yang tidak kuat akan melakukan bunuh diri, sedangkan mereka yang terjangkit sakit akan dimasukkan ke dalam kamar gas dengan udara yang dapat merusak sistem pernapasan. Ini adalah tahap berat yang harus dilewati oleh tahanan, sebab sehari akan serasa seperti satu minggu bagi mereka. Namun yang paling menyiksa adalah kenyataan bahwa mereka tidak tahu harus sampai kapan berada dalam penderitaan ini.
Viktor seringkali menggunakan kalimat Nietzsche untuk memperkuat batin para tahanan yang sudah tidak lagi memiliki makna hidup. “He who has a why to live for can bear with almost any how.”
Setelah semua rasa sakit dan penderitaan mereka alami, sampailah pada tahapan yang kedua yakni apati. Menumpulnya semua jenis perasaan empati, mereka sudah tidak lagi merasakan sakit, tubuh mereka seolah sudah terbiasa dengan segala bentuk pukulan. Mereka tidak lagi menangis, juga terguncang melihat berbagai macam penyiksaan. Di sinilah mereka paling banyak kehilangan eksistensial. Pertanyaan tentang apa makna hidup mereka sekarang sudah sering sekali berputar. Pada tahapan ini mereka layaknya robot yang tak diperbolehkan menggunakan perasaan mereka sebagai manusia.
Lama-kelamaan mereka akan beradaptasi hingga mulai menciptakan humor diatas penderitaan.
Kemudian yang terakhir adalah kondisi setelah dibebaskan. Viktor menjelaskan bahwa kebebasan adalah mimpi yang sering dialami oleh para tahanan, mereka begitu mengidamkan sebuah kebebasan sehingga ketika kebebasan itu menjadi kenyataan, mereka merasa bahwa itu hanya khayalan. Mereka terjebak bahwa semua ini adalah mimpi, mimpi yang selalu hadir di sisa-sisa malam sebelum mereka menelan kecewa karena dibangunkan. Angan-angan dan kenyataan seakan tak dapat dibedakan. Dalam tahap ini respon keluarga juga turut menentukan kondisi psikologis mereka. Apabila respon keluarga tak seperti yang diharapkan oleh para tahanan maka mereka akan mengalami kekecewaan. Mereka akan merasakan semua penderitaan yang dia rasakan selama ini sia-sia dan tak memiliki makna. Orang tercinta yang mereka anggap akan menjadi tempat berpulang dan mendengarkan segala macam penderitaan ternyata tidak peduli dengan mereka. Maka hal ini akan sangat mempengaruhi kondisi psikis tahanan yang sudah bebas.
Viktor sebenarnya ingin menjelaskan bahwasanya penderitaan memang diperlukan untuk menemukan makna kehidupan. Namun bukan berarti kita harus mencari penderitaan. Ia hanya bermaksud agar orang-orang menemukan makna di dalam penderitaan yang sedang mereka jalani. Tujuan manusia bukanlah untuk mencari kesenangan, melainkan menemukan makna dalam hidupnya. Kesenangan subjektif tak akan membantu dalam menemukan tujuan/makna. Manusia saat ini cenderung memikirkan kesenangan sementara yang justru menjerumuskan mereka pada jalan kehampaan hidup.
Manusia selayaknya memang mencari kebahagiaan, namun kebahagiaan tidak boleh dijadikan sebagai tujuan. Kebahagiaan haruslah menjadi efek samping dari jalan yang sudah kita ambil. Kebahagiaan adalah hasil dari perbuatan yang telah dibuat, begitulah menurutnya.
Saya memulai membaca buku ini ketika tak sengaja muncul di beranda Quora, sebuah rekomendasi buku yang menarik sehingga saya putuskan untuk mulai membaca. Dan benar saja bahwa ada banyak topik bahasan yang memang seru untuk dikaji lebih dalam. Khususnya untuk manusia zaman sekarang yang mulai kehilangan makna dalam kehidupan. Ada banyak sekali tipu daya duniawi yang menyebabkan kebahagiaan sejati sulit ditemui oleh orang-orang. Alhasil itu dapat menjadi penyebab timbulnya rasa hampa. Banyak pasien dari Viktor yang mengalami khasus ini, sehingga ia akhirnya mulai mengamini kalimat Nietzsche, dia yang memiliki mengapa untuk hidup bisa menanggung semua hampir bagaimana.
Maka cari dan temukanlah makna dalam hidup anda, seperti Viktor yang ketika diminta oleh mahasiswa untuk mengekspresikan makna hidupnya sendiri dalam satu kalimat. Yakni membantu orang lain menemukan makna hidup mereka.
“Dunia tengah berada dalam kondisi buruk, tetapi semuanya akan tetap buruk, kecuali masing-masing dari kita melakukan yang terbaik.”
Teruntuk rekan saya.
N. Anisa

Komentar
Posting Komentar