Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain.
Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa?
Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib)
Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja.
Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar tidak berhenti di tengah jalan. Kalau memang sudah tahu perjalanannya akan panjang, jangan mengeluarkan semua tenaga di awal, sebab akan kehabisan dipertengahan. Gunakan energi seperlunya saja, tapi konsisten. Tahu kapan berjalan pelan, sedikit cepat, juga sangat cepat. Juga menjaga keseimbangan agar tak jatuh.
Kalau kamu sudah tahu cara mengatur iramamu sendiri, maka kemungkinan besar kamu juga bisa sampai garis finish yang diharapkan.
Meskipun setengah-setengah paham maksudnya, saya coba praktikkan sebisa saya. Ya, meskipun terkadang dianggap tidak serius, lambat, tidak berambisi, dan segala macamnya. Tapi semua itu saya lakukan bukan tanpa alasan. Kalau boleh jujur, saya ini memang tidak punya ambisi besar, bahkan jika impian saya tidak berhasil tercapai, mungkin cuma gerutu bentar pada diri sendiri karena tidak totalitas, lalu kembali biasa saja.
Mungkin jika mau dihubungkan dengan ilmu kebarat-baratan, Nihilisme milik Nietzsche menjadi teori yang saya pahami memiliki kesamaan. Meskipun dikenal sebagai seorang penganut atheisme, Nietzsche memiliki pemahaman yang berbeda dan unik dari kebanyak orang pada zamannya. Di saat semua orang sibuk mengejar kekayaan, kapitalisme berhamburan, rakyat jelata bersebaran, ditambah ia mulai meragukan tentang eksistensi Tuhan, bahkan menyebut bahwa Tuhan telah mati, dan kitalah yang membunuhnya. Di sanalah saya melihat garis pemahaman spiritual yang baru, Nietzsche mungkin saja merasakan ketidakstabilan hidup manusia di zaman itu. Ada irama yang tidak selaras, sehingga menghasilkan nada yang sumbang.
Misalnya seperti ajaran pada agama kristen pada abad 19 an di Jerman, gereja sering kali menyebut bahwa manusia adalah makhuk hina dan penuh dosa, terlalu fokus pada kelemahan manusia. Gereja mengajarkan pada umatnya untuk selalu melindungi yang lemah, menyelamatkan yang sakit dan menderita. Sekilas, tak ada salah, tapi itu membuat banyak orang terdoktrin, untuk tak bersikap tangguh. Nietzshe lebih menyukai ungkapan kalau manusia perlu memiliki keberanian, kekuatan, kecerdasan, dan kebanggaan. Saat itulah dia mencoba menghubungkan agama dengan logika dunia pada masanya. Dia mencoba menciptakan iramanya sendiri.
Padahal, tak ada salahnya menggabungkan semua hal tersebut secara bersamaan. Sehingga menghasilkan manusia yang tetap merasa rendah hati, agamis, namun juga dikenal berani, kuat, cerdas, dalam menghadapi dunia. Menggabungkan antara agama, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Ya, pasti akan sangat luar biasa.
Baiklah, sudah cukup tulisan panjang lebar ini, yang mungkin sedikit dipaksa antara keterkaitan satu sama lain. Hehe.
Saya akhiri sampai di sini dulu rekan-rekan semua.
Terimakasih
25 November 2024
N. Anisa

Komentar
Posting Komentar