Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia.
Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan
kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini
adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan,
barangkali anda juga.
Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan
saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal
ini atau tidak, cukup anda baca saja.
Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas
Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan
oleh beliau.
Tentang takdir dan free will. Apa yang membedakannya?
Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan
sejak sebelum kelahirannya di dunia?
Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir
adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika
anda terlahir di keluarga Rafi Ahmad, itu sudah takdir anda, begitu pun jika
anda dilahirkan di keluarga lainnya.
Akan tetapi free will adalah serangkaian usaha anda
untuk membentuk nasib. Baik, mari kita buat definisi sederhananya agar memiliki
pandangan konsep yang sama. Anggap dunia adalah sebuah permainan yang dibuat
oleh Tuhan, di setiap permainan akan selalu ada rule (aturan). Di dalam dunia, rule
of the game-nya adalah sebab-akibat.
Mengapa begitu?
Sebagai manusia kita punya keterbatasan, di mana itu
tidak dimiliki oleh Tuhan. Ada juga sebab akibat yang dijadikan sebagai aturan jalan
nasib manusia. Jika anda sejak awal memang suka dengan makan gula berlebih, maka
kemungkinan besar terserang diabetes di masa depan akan ada. Lebih umumya
dikenal sebagai hukum karma sebab akibat.
Saya punya sedikit cerita, ketika umur belasan saya
punya pertanyaan mengapa Tuhan tega membuat neraka jika takdir manusia saja Dia
yang menentukan. Mengapa harus susah-susah menakuti manusia kalau bisa dengan
sekali tepuk membalikkan hati yang merongkoli (buruk) saat di dunia karena Tuhan pasti punya kuasa melakukannya.
Ternyata bukan seperti itu. Saya percaya
kalau sebelum lahir kita sudah melakukan dialog dengan Tuhan tentang jalan
hidup yang akan dijalani ketika di dunia. Bahkan bisa saja saya atau anda
sendiri yang minta model kurikulum hidup seperti sekarang ini.
Maka saat nanti, ketika saat perhitungan tiba, saat
hijab di buka, lalu kita menyadari dan mengingat semua perbuatan selama di
dunia dengan ingatan penuh tanpa limitasi. Maka apa yang bisa manusia rasakan?
Malu, bagi mereka yang melakukan keburukan di dunia.
Untuk menghilangkan rasa malu, hina, tercela itulah
manusia rela masuk ke dalam neraka. Saya suka ungkapan tentang, “bisa saja nanti
manusia sendiri yang meminta dimasukkan ke dalam neraka, Tuhan maha Pengasih,
Ia tak akan tega. Tapi manusia, dengan sukarela akan meminta hukuman untuk
menghilangkan rasa hinanya selama di dunia.”
Maka kembali lagi kepada free will, uniknya, ada
sebuah penelitian yang menunjukkan kalau keputusan seringkali diambil sebelum
otak menyadari kalau itu adalah sebuah keputusan. Jenis keputusan ini muncul
ketika anda membuat keputusan-keputusan cepat. Seperti memilih antara kopi dan teh,
dengan sepersekian detik anda bisa langsung memilih.
Sedangkan ada suatu jenis keputusan di bawah alam
sadar, keputusan ini terwujud atas hasil anda mengambil makna dari semua
peristiwa yang anda alami. Sehingga otak secara langsung membuat sistem
keputusan atas hasil pengambilan makna sebelumnya. Misalkan, jika anda
mengalami penderitaan karena harus berjalan kaki lima kilometer, anda memaknai
itu sebagai derita sehingga jika diminta melakukan hal itu lagi anda akan
menolaknya. Berbeda jika seseorang memaknainya sebagai sebuah kegiatan
olahraga untuk kesehatan tubuh, maka dia akan mau melakukan lagi karena
berhasil menemukan makna untuk melakukannya.
Maka sederhananya ialah, manusia punya free will untuk
memilih sebab akibat mana yang ingin dia lalui. Keputusan kecil sehari-sehari
yang sudah diambil akan menuntun pada nasib yang sudah sesuai dengan sebab-akibat
sebelumnya. Tidak perlu terpaku pada takdir yang anda terima, karena memang mau
bagaimana pun itu tidak bisa diubah. Tapi reaksi atau sikap yang ada perbuat
atas takdir itulah yang menentukan nasib anda, dan manusia punya kebebasan memilihnya.
Jika penjelasan ini tidak dapat anda pahami dan terkesan
muter-muter, anda bisa kembali satu tahun lagi. Mungkin saat itu anda bisa lebih siap memaknai.
Saya tutup dulu tulisan ini.
N.A
20/5

Komentar
Posting Komentar