Langsung ke konten utama

CERPEN - Musim Gugur Tahun Ini (1)

Jika cinta adalah sebuah kata magis, maka mendapatkannya haruslah dengan penjemputan yang baik. Aku tidak mengerti bagaimana teman sekitarku mengartikannya, terkadang mereka bersemangat saat membahas tentang orang terkasih, terkadang juga dengan kesedihan mendalam. 

Hari ini adalah musim gugur di Jepang. Desaku terkenal dengan keindahan pohon dan alamnya kala musim gugur datang. Tak jauh dari rumah, ada sebuah tempat yang banyak di datangi orang karena keindahannya. Daun-daun keemasan, pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan. Itu seperti tempat khayalan yang begitu indah. Aku juga sering datang ke sana, hanya perlu sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumah. Serunya, di sana aku menemukan tempat rahasia yang jarang orang datangi. Di balik bangunan tua ada sebuah pohon besar, pohon itu akan terlihat megah ketiha musim gugur datang. Daunnya berjatuhan ketika angin bertiup. Berkali-kali aku datang ke sana dan tak pernah bosan dibuatnya. Pun sekarang aku sedang menuju ke tempat itu.

Usiaku telah menginjak 20 tahun, namaku Mitsuko. Temanku sering bilang aku memiliki wajah manis dan senyum yang menawan, tak sulit jika mendapatkan pasangan. Rambutku hitam panjang sedikit bergelombang, kata orang-orang mataku lebar. Jadi terkadang aku tak mengelak jika ada yang bilang aku cantik, karena itu memang benar. 

Tak terasa aku sudah sampai di depan bangunan tua. Aku tersenyum lalu berjalan ke belakang bangunan. Saat tiba aku melihat pohon besar itu masih sama, megah dan indah. Aku ingin mendekat sebelum sadar bahwa ada seseorang yang berbaring di bawah pohon sembari memejamkan mata. Dia menopang belakang kepala dengan lengan tapi aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari posisiku sekarang.

Aku berjalan mendekat, semakin dekat semakin jelas pula rupanya. Dia seorang pria, kulitnya putih pucat, bibirnya tipir kemerahan, bulu matanya lentik. 

Aku hendak membangunkannya, namun dia lebih dulu bangun. Pria itu terkejut melihatku, seperti melihat sosok hantu.

"Hai, maaf membuatmu bangun." Ucapku padanya.

Dia terlihat masih kebingungan, "ah iya. Kalau boleh tau jam berapa sekarang?"

Aku melihat jam yang kupakai di pergelangan tangan. "Jam 5 sore."

Ia terkejut, lalu bergegas mengambil tas. Aku hanya melihatnya yang tergesa-tesa hingga pergi dari sini tanpa mengatakan apa-apa. Aku baru sadar dia meninggalkan sesuatu, aku mau memanggilnya namun dia sudah hilang. Kulihat benda itu dengan seksama, sebuah kotak yang terbuat dari kayu, ukurannya kecil. Ada sedikit ukiran di atasnya, sepertinya ini barang berharga. Haruskah kubiarkan saja di sini barangkali dia sadar dan mendatangi tempat ini lagi? Tapi bagaimana jika hilang sebelum dia datang?

Sebuah ide muncul di kepalaku, aku mengambil kertas kemudian menuliskan sesuatu di sana. 

Kotakmu kubawa pulang, besok aku akan ke sini lagi di jam yang sama. 

Tulisan itu kurobek lalu menempelkannya di pohon besar ini. Setelah melakukannya aku berbaring di bawah pohon dan bersantai hingga malam mulai datang.


*


Keesokan harinya aku kembali di jam yang sama ke pohon besar kemarin. Kuharap pria itu membaca tulisanku. Saat sampai di sana, aku tersenyum saat melihat pria itu berdiri memandangi pohon besar. Aku mendekat lalu memangilnya, dia menoleh.

"Maafkan aku membawa barangmu pulang, aku takut akan hilang jika kutinggalkan di sini."

Pria itu tersenyum manis ke arahku. "Tidak masalah, terimakasih telah menyimpannya."

Aku mengambil kotak itu dari dalam tas setelah itu menyerahkannya. Dia mengamati kotak miliknya sejenak kemudian memandangku.

"Namaku Hikaru." Dia mengulurkan tangan. Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas uluran tangan itu, "namaku Mitsuko."

Lagi-lagi dia tersenyum, "senang bisa bertemu denganmu lagi Mitsuko."

Aku mengangguki ucapannya. Kami berdua lalu duduk di bawah pohon dan mengobrol. Obrolan itu membuatku tau bahwa dia adalah pindahan dari Tokyo ke mari. Saat tengah berkeliling tak sengaja dia menemukan tempat ini. Dia seusiaku, aku sedikit terkejut karena kupikir dia lebih tua dariku. Wajahnya terlihat dewasa, caranya bicarapun seperti orang dewasa. 

Kurasa aku mulai tertarik dengannya.

"Aku tidak kuliah, aku bekerja." Jawabnya saat kutanyai apakah dia sedang kuliah sekarang.

"Oh begitu ..." Aku tak tau harus mengatakan apa.

"Ikutlah denganku." Ucapnya tiba-tiba. Dia menarik lenganku. Aku mengikuti langkahnya yang cepat hingga mengantarkan kami ke sebuah kedai kecil pinggir jalan. 

"Aku bekerja di sini, masuklah ..." Dia mempersilahkanku untuk masuk. Aku tau kedai ini, walau tak sering tapi aku pernah membeli ramen di sini. Cukup lezat.

"Hikaru, siapa dia?" Hikaru tersenyum sembari menatapku, "dia temanku, paman. Mitsuko." 

Laki-laki paruhbaya itu mengangguk, menyapaku lalu kembali bekerja saat ada pelanggan lain yang datang.

"Tunggu di sini. Aku akan membuatkanmu sesuatu."

"Eh, tidak perlu Hikaru!" Ucapanku yang tak digubris olehnya.

Setelah beberapa menit menunggu Hikaru datang dengan membawa semangkuk ramen. Dia tersenyum kepadaku dan menyuruhku mencicipinya. "Kau tidak makan?"

"Tidak. Aku masih kenyang. Makanlah ..."

Aku mulai mencicipi kuahnya, lezat. Lebih lezat dari terakhir kali aku makan. Mataku sekarang mungkin sedang berbinar, Hikaru terkekeh pelan ketika melihatku berulangkali memuji masakannya.

"Mitsuko." Aku mendongak, kuah ramen yang ada di mulut belum sempat kutelan. "Senang akhirnya bisa bicara langsung denganmu. Selama ini aku  selalu memperhatikanmu dari kejauhan."



Part 2 publish
23 Agustus 2023 : 16.00


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...