Postingan ini mengalami keterlambatan.
"Apa maksudmu memperhatikanku?" Hikaru tak langsung membalas pertanyaanku. Dia tersenyum, kusadari ia sangat sering tersenyum padaku.
"Tidak. Bukan apa-apa."
Aku mengerutkan dahi, apa maksudnya bukan apa-apa?
Aku tak ingin memikirkannya lebih lama, kembali kulanjutkan memakan ramen yang ku punya.
Meskipun aku tidak melihatnya secara langsung tapi aku bisa merasakan Hikaru terus saja menatap ke arahku. Sesekali aku membalas tatapannya dan dia hanya tersenyum. Seakan ada yang aneh, kami baru bertemu kemarin akan tetapi terasa sudah kenal sejak lama. Hikaru selalu saja bisa membuka obrolan yang menarik bagiku, seakan dia tau apa yang membuatku tertarik.
Dia tiba-tiba beranjak, lalu kemudian kembali dengan membawa segelas Aojiru. Hikaru menyerahkannya padaku, sungguh aku tekejut, mulutku sampai terbuka. "Bagaimana bisa kamu mendapatkan minuman ini? Bukannya di sini tidak ada?"
"Aku membuatnya khusus untukmu, minumlah."
Lihatlah, lagi-lagi dia seolah telah mengenalku sejak lama. Aku selalu rutin meminum Aojiru, orang tuaku mengatakan itu sangat baik untuk kesehatan. Bagaimana tidak? warna hijaunya saja sudah bisa dipastikan bahwa minuman ini berkhasiat. Aku meminumnya sedikit, hanya seujung lidah. Hikaru menunggu responku tanpa mengedipkan mata, sedangkan aku menahan tawa melihatnya.
"Enak! Lebih enak dari buatan di rumah. Kamu pandai sekali membuatnya, Hikaru."
Hikaru terlihat senang dengan pujianku. Dia lalu menyuhku untuk menghabiskannya.
Tak terasa hari sudah malam. Setelah mengahabiskan ramen dan Aojiru aku berpamitan untuk pulang. Hikaru mengajukan diri untuk mengantar, aku sempat menolak namun akhirnya setuju juga. Alhasil kami berdua berjalan beriringan di antara pencahayaan lampu. Aku menatap wajah Hikaru dalam remang-remang. Dari posisiku sekarang aku memperhatikan garis wajah Hikaru yang jelas, rahangnya yang tegas, wajahnya yang terlihat seperti laki-laki tidak ramah, namun anehnya saat tersenyum dia menjadi laki-laki termanis yang pernah kulihat.
Hikaru menoleh, aku langsung membuang muka. Berpura-pura sibuk menatap jalanan, lalu berpindah menatap kakiku yang pendek jika dibandingkan dengannya.
"Apa kita bisa bertemu lagi besok?" Tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh. Sial! tatapannya membuatku tidak nyaman, aku bisa jadi salah tingkah jika terus menatap ke sana.
"Tentu saja, sekarang kita berteman. Kita juga berbagi tempat rahasia bersama. Tapi ingat ya, jangan ajak orang lain ke pohon besar itu. Hanya kita saja."
Hikaru tersenyum, akan tetapi ada yang aneh dengan senyumannya. "Baiklah, tentu saja. Tempat itu hanya milik kita berdua. Hahaha ...."
Di balik tawanya aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku cukup memiliki intuisi yang bagus. Tolong ingat itu.
"Rumahku di depan sana." Ucapku sambil menunjuk rumah yang kumaksud, "kamu bisa kembali, ayahku pasti sedang menunggu di luar. Dia bisa marah jika melihat aku pulang denganmu."
Entah kenapa ayahku selalu duduk di depan rumah ketika aku belum pulang. Aku tidak ingat sejak kapan itu menjadi sebuah kebiasaannya, padahal aku sudah dewasa dan bisa tinggal sendirian. Tetapi ibu dan ayah tidak pernah mengijinkanku, tanpa mau mengatakan alasannya.
Kulihat Hikaru yang terdiam sejenak sebelum akhirnya mengatakan, "tidak. Aku akan mengantarkanmu sampai rumah."
"Jangan Hikaru. Aku tidak ingin melihatmu dimarahi ayahku."
Hikaru tersenyum, "tidak akan, tenang saja."
Aku membiarkannya. Hikaru berjalan di sebelahku. Dia terlihat sangat santai, wajahnya bahkan tidak terlihat tegang. Lalu saat sampai di depan rumah, ayah sudah ada di sana. Dia menatapku kemudian menatap ke arah Hikaru. Untuk beberapa saat mereka berdua saling pandang, aku masih menunggu pertanyaan ayah tentang siapa dia? atau kenapa pulang dengan seorang pria? seperti pertanyaan biasa. Namun cukup lama aku menunggu, ayah tidak mengatakan apa-apa.
"Selama malam, shuuto. Maaf membuat Mitsuko pulang malam."
Aku sontak menoleh ke arah Hikaru, benarkah barusan dia memanggil ayahku dengan sebutan ayah mertua? Kulihat ayahku yang bergeming. Reflek aku menginjak kaki Hikaru. Lalu kubisikkan. "Hikaru! ayahku tidak suka bercanda!"
Hikaru membalasnya dengan santai, "aku tau."
"Tidak apa. Mitsuko, masuklah ...."
Jantungku berdegup kencang, ayah pasti akan memarahi Hikaru setelah ini. Sebenarnya bukan memarahi, tapi dia akan melontarkan kalimat yang bisa membuat Hikaru tidak mau bertemu denganku lagi. Dengan terpaksa aku berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Samar-samar sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah aku mendengar perkataan ayah yang mampu membuatku berhenti melanjutkan langkah. Baru saja dia mengatakan.
"Hikaru, dia pasti akan segera mengingatmu. "
Di balik pintu, aku mematung sendirian. Apa maksud dari perkataan itu?
Episode Terakhir
25 Agustus, 19.00 WIB
Komentar
Posting Komentar