Langsung ke konten utama

CERPEN - Musim Gugur Tahun Ini (2)

Postingan ini mengalami keterlambatan.


Seketika tubuhku terpaku mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Hikaru. 

"Apa maksudmu memperhatikanku?" Hikaru tak langsung membalas pertanyaanku. Dia tersenyum, kusadari ia sangat sering tersenyum padaku.

"Tidak. Bukan apa-apa." 

Aku mengerutkan dahi, apa maksudnya bukan apa-apa? 

Aku tak ingin memikirkannya lebih lama, kembali kulanjutkan memakan ramen yang ku punya. 

Meskipun aku tidak melihatnya secara langsung tapi aku bisa merasakan Hikaru terus saja menatap ke arahku. Sesekali aku membalas tatapannya dan dia hanya tersenyum. Seakan ada yang aneh, kami baru bertemu kemarin akan tetapi terasa sudah kenal sejak lama. Hikaru selalu saja bisa membuka obrolan yang menarik bagiku, seakan dia tau apa yang membuatku tertarik. 

Dia tiba-tiba beranjak, lalu kemudian kembali dengan membawa segelas Aojiru. Hikaru menyerahkannya padaku, sungguh aku tekejut, mulutku sampai terbuka. "Bagaimana bisa kamu mendapatkan minuman ini? Bukannya di sini tidak ada?"

"Aku membuatnya khusus untukmu, minumlah."

Lihatlah, lagi-lagi dia seolah telah mengenalku sejak lama. Aku selalu rutin meminum Aojiru, orang tuaku mengatakan itu sangat baik untuk kesehatan. Bagaimana tidak? warna hijaunya saja sudah bisa dipastikan bahwa minuman ini berkhasiat. Aku meminumnya sedikit, hanya seujung lidah. Hikaru menunggu responku tanpa mengedipkan mata, sedangkan aku menahan tawa melihatnya.

"Enak! Lebih enak dari buatan di rumah. Kamu pandai sekali membuatnya, Hikaru."

Hikaru terlihat senang dengan pujianku. Dia lalu menyuhku untuk menghabiskannya. 

Tak terasa hari sudah malam. Setelah mengahabiskan ramen dan Aojiru aku berpamitan untuk pulang. Hikaru mengajukan diri untuk mengantar, aku sempat menolak namun akhirnya setuju juga. Alhasil kami berdua berjalan beriringan di antara pencahayaan lampu. Aku menatap wajah Hikaru dalam remang-remang. Dari posisiku sekarang aku memperhatikan garis wajah Hikaru yang jelas, rahangnya yang tegas, wajahnya yang terlihat seperti laki-laki tidak ramah, namun anehnya saat tersenyum dia menjadi laki-laki termanis yang pernah kulihat. 

Hikaru menoleh, aku langsung membuang muka. Berpura-pura sibuk menatap jalanan, lalu berpindah menatap kakiku yang pendek jika dibandingkan dengannya.

"Apa kita bisa bertemu lagi besok?" Tanyanya tiba-tiba.

Aku menoleh. Sial! tatapannya membuatku tidak nyaman, aku bisa jadi salah tingkah jika terus menatap ke sana. 

"Tentu saja, sekarang kita berteman. Kita juga berbagi tempat rahasia bersama. Tapi ingat ya, jangan ajak orang lain ke pohon besar itu. Hanya kita saja."

Hikaru tersenyum, akan tetapi ada yang aneh dengan senyumannya. "Baiklah, tentu saja. Tempat itu hanya milik kita berdua. Hahaha ...."

Di balik tawanya aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku cukup memiliki intuisi yang bagus. Tolong ingat itu.

"Rumahku di depan sana." Ucapku sambil menunjuk rumah yang kumaksud, "kamu bisa kembali, ayahku pasti sedang menunggu di luar. Dia bisa marah jika melihat aku pulang denganmu."

Entah kenapa ayahku selalu duduk di depan rumah ketika aku belum pulang. Aku tidak ingat sejak kapan itu menjadi sebuah kebiasaannya, padahal aku sudah dewasa dan bisa tinggal sendirian. Tetapi ibu dan ayah tidak pernah mengijinkanku, tanpa mau mengatakan alasannya.

Kulihat Hikaru yang terdiam sejenak sebelum akhirnya mengatakan, "tidak. Aku akan mengantarkanmu sampai rumah."

"Jangan Hikaru. Aku tidak ingin melihatmu dimarahi ayahku."

Hikaru tersenyum, "tidak akan, tenang saja."

Aku membiarkannya. Hikaru berjalan di sebelahku. Dia terlihat sangat santai, wajahnya bahkan tidak terlihat tegang. Lalu saat sampai di depan rumah, ayah sudah ada di sana. Dia menatapku kemudian menatap ke arah Hikaru. Untuk beberapa saat mereka berdua saling pandang, aku masih menunggu pertanyaan ayah tentang siapa dia? atau kenapa pulang dengan seorang pria? seperti pertanyaan biasa. Namun cukup lama aku menunggu, ayah tidak mengatakan apa-apa. 

"Selama malam, shuuto. Maaf membuat Mitsuko pulang malam." 

Aku sontak menoleh ke arah Hikaru, benarkah barusan dia memanggil ayahku dengan sebutan ayah mertua? Kulihat ayahku yang bergeming. Reflek aku menginjak kaki Hikaru. Lalu kubisikkan. "Hikaru! ayahku tidak suka bercanda!"

Hikaru membalasnya dengan santai, "aku tau."

"Tidak apa. Mitsuko, masuklah ...."

Jantungku berdegup kencang, ayah pasti akan memarahi Hikaru setelah ini. Sebenarnya bukan memarahi, tapi dia akan melontarkan kalimat yang bisa membuat Hikaru tidak mau bertemu denganku lagi. Dengan terpaksa aku berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Samar-samar sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah aku mendengar perkataan ayah yang mampu membuatku berhenti melanjutkan langkah. Baru saja dia mengatakan. 

"Hikaru, dia pasti akan segera mengingatmu. "

Di balik pintu, aku mematung sendirian. Apa maksud dari perkataan itu?



Episode Terakhir
25 Agustus, 19.00 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...