Ini cerpen tidak jelas yang saya buat. Ini sudah jauh dari tanggal update, jadi maafkan. Walaupun begitu, semoga kalian bisa menikmati ceritanya.
Mereka berdua hanya diam.
"Jawablah!"
Aku ingin mendapatkan jawaban, bukan kebisuan.
"Hikaru! kamu mengenal ayahku?" Aku menatapnya dengan tajam agar dia mau menjawab pertanyaan yang kuajukan. Lalu kemudian dia mengangguk.
"Sejak kapan?" Tanyaku.
"Sejak lama." Jawabnya dengan nada rendah.
Mendengar jawabannya aku merasa kebingungan, dia bilang baru pindah ke daerah ini. Lantas bagaimana dia bisa mengenal ayahku sejak lama? Aku seperti orang bodoh yang tidak tau harus berbuat apa. Aku butuh penjelasan. Tiba-tiba kurasakan kepalaku berputar, terasa sakit luar biasa. Aku hanya bisa mendengar suara ayah yang berulang kali memanggil namaku. Sakitnya terus bertambah, aku mulai mengerang kesakitan. Lalu setelah itu, semua menghitam.
Aku membuka mata, seketika aku sudah berada di tempat asing namun terasa familiar. Pandanganku menatap sekeliling, salju ada di mana-mana. Bukannya baru saja musim gugur tiba? Mengapa aku malah melihat salju. Di sini hanya terlihat gundukan putih dan jalan raya yang masih terlihat jelas. Aku berdiri mematung melihat mobil yang berlalu lalang, tak tau harus ke mana.
Alhasil aku berjalan pelan ke arah Timur jalan, kakiku terus saja berjalan tanpa tau tujuan. Dari kejauhan aku bisa melihat sebuab mobil putih yang melaju cukup kencang, sekali lagi itu terlihat familiar. Mobil itu tidak mengurangi kecepatan saat akan tiba di persimpangan jalan, terlihat seperti tidak terkontrol. Aku panik saat mobil itu membelokkan setir dan menabrak mobil lain yang berada di jalur berbeda. Bunyi dentuman cukup keras, aku langsung berlari ke arah sana disusul oleh pengemudi lain yang berhenti.
Aku mengetuk kaca mobil beberapa kali. Pengemudi masih ada di dalam. Tanpa berpikir panjang seseorang memecahkan kaca, saat itulah aku bisa melihat wajah yang berlumuran darah. Keterkejutanku bertambah saat menyadari bahwa orang mengalami kecelakaan adalah diriku.
Aku membuka mata perlahan, cahaya seketika menyambut. Orang pertama yang kulihat sedang menatap sendu ke arahku. Dengan susah payah aku menguarkan suara yang serak.
"Sudah berapa lama?"
Pria itu tersenyum, senyum yang kuingat selalu membuatku merasa nyaman saat bersamanya. "Tiga tahun. Aku menunggumu selama tiga tahun."
Tanpa sadar air mataku menetes, "mengapa tidak menemuiku selama itu?"
Dia memandangku lamat-lamat. "Sudah berulang kali. Barangkali kamu yang tidak menyadari bahwa itu aku."
Air mataku semakin meluncur deras. "Mengapa tidak langsung mengenalkan siapa dirimu?!"
Senyumnya kembali merekah, ia mengusap pipiku dan menciumnya.
"Cinta tidak perlu memperkenalkan diri. Aku mau kamu sendiri yang mengenal tanpa ada paksaan. Selama itu aku akan selalu setia menunggu, bahkan jika harus seumur hidupku."
Komentar
Posting Komentar