Langsung ke konten utama

CERPEN - Musim Gugur Tahun Ini (3)

Ini cerpen tidak jelas yang saya buat. Ini sudah jauh dari tanggal update, jadi maafkan. Walaupun begitu, semoga kalian bisa menikmati ceritanya.


Aku berbalik dan berjalan mendekat. Kedua laki-laki berbeda usia itu menatapku dengan skeptis. "Apa maksud dari obrolan kalian barusan? Apakah kalian sudah saling mengenal? Apa kalian menymbunyikan sesuatu dariku?"

Mereka berdua hanya diam. 

"Jawablah!" 

Aku ingin mendapatkan jawaban, bukan kebisuan. 

"Hikaru! kamu mengenal ayahku?" Aku menatapnya dengan tajam agar dia mau menjawab pertanyaan yang kuajukan. Lalu kemudian dia mengangguk.

"Sejak kapan?" Tanyaku.

"Sejak lama." Jawabnya dengan nada rendah.

Mendengar jawabannya aku merasa kebingungan, dia bilang baru pindah ke daerah ini. Lantas bagaimana dia bisa mengenal ayahku sejak lama? Aku seperti orang bodoh yang tidak tau harus berbuat apa. Aku butuh penjelasan. Tiba-tiba kurasakan kepalaku berputar, terasa sakit luar biasa. Aku hanya bisa mendengar suara ayah yang berulang kali memanggil namaku. Sakitnya terus bertambah, aku mulai mengerang kesakitan. Lalu setelah itu, semua menghitam.

Aku membuka mata, seketika aku sudah berada di tempat asing namun terasa familiar. Pandanganku menatap sekeliling, salju ada di mana-mana. Bukannya baru saja musim gugur tiba? Mengapa aku malah melihat salju. Di sini hanya terlihat gundukan putih dan jalan raya yang masih terlihat jelas. Aku berdiri mematung melihat mobil yang berlalu lalang, tak tau harus ke mana. 

Alhasil aku berjalan pelan ke arah Timur jalan, kakiku terus saja berjalan tanpa tau tujuan. Dari kejauhan aku bisa melihat sebuab mobil putih yang melaju cukup kencang, sekali lagi itu terlihat familiar. Mobil itu tidak mengurangi kecepatan saat akan tiba di persimpangan jalan, terlihat seperti tidak terkontrol. Aku panik saat mobil itu membelokkan setir dan menabrak mobil lain yang berada di jalur berbeda. Bunyi dentuman cukup keras, aku langsung berlari ke arah sana disusul oleh pengemudi lain yang berhenti. 

Aku mengetuk kaca mobil beberapa kali. Pengemudi masih ada di dalam. Tanpa berpikir panjang seseorang memecahkan kaca, saat itulah aku bisa melihat wajah yang berlumuran darah. Keterkejutanku bertambah saat menyadari bahwa orang mengalami kecelakaan adalah diriku. 

Aku membuka mata perlahan, cahaya seketika menyambut. Orang pertama yang kulihat sedang menatap sendu ke arahku. Dengan susah payah aku menguarkan suara yang serak.

"Sudah berapa lama?"

Pria itu tersenyum, senyum yang kuingat selalu membuatku merasa nyaman saat bersamanya. "Tiga tahun. Aku menunggumu selama tiga tahun."

Tanpa sadar air mataku menetes, "mengapa tidak menemuiku selama itu?"

Dia memandangku lamat-lamat. "Sudah berulang kali. Barangkali kamu yang tidak menyadari bahwa itu aku."

Air mataku semakin meluncur deras. "Mengapa tidak langsung mengenalkan siapa dirimu?!"

Senyumnya kembali merekah, ia mengusap pipiku dan menciumnya.

"Cinta tidak perlu memperkenalkan diri. Aku mau kamu sendiri yang mengenal tanpa ada paksaan. Selama itu aku akan selalu setia menunggu, bahkan jika harus seumur hidupku."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...