Hidup yang Biasa Saja.
Malam itu Jiwatrisna (kita panggil saja Jiwa) datang menemui saya dengan keadaan ngos-ngosan seperti habis lari maraton. Mata saya memandangnya bingung, wajahnya lelah, bajunya kusut, jilbab yang morat-marit, juga mulut yang terbuka guna membantu menghirup oksigen ekstra. "Loh ada apa?" Tanyaku.
Ia mengatur napas, "anu ..."
"Anu apa?"
Saya masih menunggu.
"Numpang mandi di tempatmu. Di tempatku airnya mati." Jawabnya kemudian. Saya segera menyuruhnya masuk dan dia langsung menuju kamar mandi, setelah selesai kami berbincang sebentar. Jiwa ini bisa dibilang adalah orang yang jarang membuka obrolan jika tidak ditanya, apalagi tidak penting-penting amat. Akan tetapi jika dengan saya dia bisa bercerita dengan lugas, barangkali karena kita memang dekat.
"Setelah kuliah kesibukanmu apa biasanya?" Tanyaku setelah ia keluar dari kamar mandi.
Dia terkekeh mendengar pertanyaan dariku, "kau ini kayak tidak kenal aku saja. Tentu saja balik langsunglah, apa lagi selain itu memang?"
Tentu saja, tidak ada. Sejauh ini dia sosok perempuan paling santai dan cuek yang pernah saya temui. Di saat semua teman sekelasnya sedang panik karena tugas yang susah hingga sampai menangis karena tidak kuat. Dia malah tidak merasakan itu semua. Orang-orang yang cukup dekat dengannya juga pasti akan mengatakan itu, ia lamban seperti siput. Akan tetapi anehnya, tugasnya selalu selesai.
"Kau tidak ingin mencari hal lain selain hanya pergi belajar, pulang, lalu tidur?"
Jiwa menatap saya dengan dahi yang berkerut. Terlihat jelas dia sedang menimang-nimang pertanyaan yang saya ajukan. Terlintas dia akan mengucapkan kalimat panjang, namun dia hanya mengatakan. "Tidak."
"Lah, kenapa kamu diam lama sekali kalau akhirnya bilang tidak. Dasar!"
Ujung bibirnya tertarik. "Memang kau mengharap aku menjawab apa?"
Satu hal yang seringkali saya lupa ialah untuk jangan pernah mengharapkan jawaban sesuai logika saya jika bertanya kepada Jiwa. Terkadang jawabannya kasar, keras, tak pernah tak jadi diri sendiri. Terkadang saya merasa iri, saya ingin menjalani hidup seperti Jiwa, tak mau menghamba pada kepalsuan hidup. Selalu mengatakan dan melakukan apa yang dia mau, tak pernah ragu mengatakan 'tidak' jika memang tak sesuai dengan pribadinya yang berbeda. Tapi apa boleh buat, nyatanya saya masih mengamini budaya masyarakat tentang citra baik itu adalah satu hal yang penting dalam hidup.
"Bukan apa-apa ... Aku mau tanya satu hal."
Dia mengangguk mendengar kalimat yang saya ajukan. "Apa yang kau khawatirkan dalam hidup?"
Pandangannya seketika berubah, seakan memandang jauh ke depan. "Emm ... satu hal yang aku khawatirkan, jika suatu saat aku tidak menjadi diri sendiri karena menuruti omongan orang lain yang bertentangan dengan apa yang ada di dalam diriku."
Aku terpaku mendengar jawaban yang dia lontarkan. "Apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi padamu?"
Jiwa terkekeh, "mana kutahu, belum kualami." Senyumnya perlahan memudar, "tapi saat itu mungkin jiwaku sudah mati."
Kalimat terakhirnya seketika membuat suasana menjadi diam.
"Hallah, palingan saat bertemu pujaan hati jiwamu hidup kembali." Saya mencoba menanggapi. Setelah itu kami mulai membahas hal lain. Sesekali soal kuliah, orang tua, dan cita-cita.
Tapi kurang lebih seperti itulah percakapan kami terjadi. Setelah pembahasan itu dia pamit pulang, tak ada kalimat yang bisa keluar dari mulutku. Saya mengantarnya sampai di depan pintu, lalu masuk ke dalam setelah sosoknya menghilang dari pandangan. Barangkali malam ini saya tidak akan bisa tidur karena memikirkan apa yang Jiwa katakan barusan.
Komentar
Posting Komentar