Langsung ke konten utama

Kelilit Utang!

sumber diambil dari instagram @ahquote

Mengapa di zaman sekarang pacaran seakan menjadi tren yang harus dilakukan? Banyak sekali anak muda yang sadar maupun tidak sadar telah menghabiskan waktu hanya untuk satu kalimat itu. Bayangkan saja, diumur yang baru belasan tahun fokus mereka dipenuhi oleh pasangan. Bagaimana cara membuat pasangan kita senang? Bagaimana agar dia tidak marah? Bagaimana mempertahankan hubungan yang sudah seperti makanan sehari-hari yang mulai membosankan? 

Fokus itu kemudian menjadi boomerang bagi mereka untuk mengalihkan perhatian akan masa depan diri sendiri. Bahkan memikirkan perihal jadi apa nanti saat mereka dewasa saja sudah tidak sempat, apalagi memikirkan potensi yang harus dimiliki untuk bertahan di dunia yang keras ini.  

Saya punya teman, barangkali kisahnya bisa menjadi sebuah pelajaran. 

Dia seorang perempuan yang pernah cerita bahwa sejak SD hingga SMP sudah memiliki mantan kekasih lebih dari 30 orang. Tentu itu hal luar biasa bagi saya, mungkin juga bagi semua orang. Saat dia bercerita tentang pria matanya seakan bersemangat, ia menyebutkan satu-persatu bagaimana hubungan mereka bisa kandas dengan puluhan mantannya itu. Ada yang hanya bertahan selama sebulan, seminggu, juga ada yang hanya sampai dua hari.

Dengan bingung saya bertanya bagaimana bisa pacaran hanya dalam waktu dua hari. Kemudian ia mengatakan bahwa itu karena dirinya tidak tega menolak, hingga menerima begitu saja ajakan pacaran tanpa pikir panjang.  Lalu memutuskan hubungan beberapa hari setelahnya. Baginya pacaran seperti sebuah permainan, keseruan yang menyenangkan. Dia tidak bisa tahan menjomblo dalam waktu beberapa hari saja. Sebab ia ketagihan bermain.

Hingga bisa ditebak. Hari-harinya dipenuhi dengan berbagai kenalan laki-laki. Dia pernah menunjukkan kontak ponselnya, banyak sekali, dari yang tua sampai yang lebih muda. Barangkali saja segala penjuru laki-laki daerah sudah dia kenal semua.

Setelah lulus SMP saya mulai kehilangan kontak dengannya. Akan tetapi saya mendengar rumor bahwa dia menjadi seorang selebgram. Followersnya mencapai ribuan orang, postingannya penuh komenan pemuda-pemuda pencari cinta. Story Instagram berisi endors'an judi online, jual-beli followers instagram, kadang juga screenshot transferan uang dari hasil endorsan. 

Keren sekali! 

Diusia segitu sudah bisa menghasilkan uang dengan mudah, tinggal upload, uang datang. Begitu mungkin pendapat sebagian orang. 

Akan tetapi, sepertinya dia tidak merasa bahagia dengan hidupnya. Dia selalu membagikan story tentang betapa pria di sekekelingnya tidak ada yang setia. Sudah tidak ada lagi pria setia baginya, adanya mereka yang sering menyakiti. Hingga hari-hari story berisi keresahan hati.

Kesimpulannya, sudah berapa juta jam dia menghabiskan waktu untuk menjalin hubungan namun sekarang justru berakhir dia tidak mempercayai pasangan. Sudah berapa juta uang yang dia habiskan untuk memberikan kado ataupun hadiah kecil-kecilan untuk mantan-mantannya yang mungkin sekarang sudah mencapai lebih dari 50 orang. Beruntung dia seorang perempuan, jadi dogma pria yang harus membayar pengeluaran kencan tidak dia rasakan. Bagaimana jika ini terjadi pada laki-laki? 

Mungkin hasilnya akan seperti tulisan gambar di atas.

Kelilit utang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...