Manusia Plintat-Plintut!
Lelah sekali rasanya. Lagipula siapa suruh jadi manusia plin-plan. Keputusan diambil tanpa mengukur kemampuan sampai membuat pikiran kocar-kacir mencari tempat. Sejak awal sudah dijelaskan jangan jadi manusia yang tidak punya pendirian, apa jadinya hidupmu jika keputusan saja tak becus kau pertahankan. Memangnya kekhawatiran apa yang ada dalam kepala bulusmu itu? Jangan-jangan tak lebih penting dari sekedar memikirkan perihal bumi itu datar atau bulat. Ataukah tentang matahari yang bergerak atau diam di tempat?
Pikiranmu berlari ke depan, tubuhmu terpaku berjam-jam. Ayolah kawan, yang benar saja?!
Sampai kapan kau mau jadi manusia Plintat-Plintut seperti itu? Tidakkah kau malu? Tidakkah justru orang lain akan memandangmu aneh seperti cacing kepanasan di bawah pohon beringin. Aku saja terheran-heran melihatmu seperti itu.
Pernah suatu ketika kau bertanya bagaimana bisa orang lain berhasil atas keputusan konyol mereka. Bagimu itu sangat konyol, sama sekali tak masuk dalam logika. Tapi sebenarnya dirimulah yang tidak bisa berlogika. Sadis memang, tapi bisa dibenarkan dengan lakumu yang mengambil satu keputusan lalu keesokan hari mengatakan keputusan itu tidaklah benar. Jika salah kenapa kau ucap?! Jika tak bisa tanggung jawab mengapa mengacungkan jari dan menawarkan diri. Itulah keanehan manusia Plintat-Plintut.
Serunya, dia memberikan bantahan. "Kau pasti juga pernah tidak tanggung jawab dengan keputusanmu! Jadi jangan sok hebat di depanku!"
Lah, siapa bilang aku ini orang hebat! Aku hanya seupil biji yang sedang beterbangan ke sana ke mari mengikuti arah angin. Kebetulan saja aku nyangkut di tempatmu berdiri, jadi ya sayang kalau aku pergi tanpa mengamati. Kalau nanti sudah tidak nyangkut lagi, tanpa disuruh aku akan pergi. Janji!
Manusia Plintat-Plintut ini selalu ada di mana-mana. Mereka membaur bersama segerombolan komunitas. Menyelip di antara yang terlihat dan tak terlihat, pun terselip di antara pribadi setiap manusia. Mereka tidak bisa dibasmi, apalagi dihilangkan dari bumi. Mereka akan selalu menjadi pelengkap, agar manusia tau bahwa Tuhan juga menciptakan orang seperti itu.
Jadi jangan heran lagi jika bertemu orang seperti itu, sebab kau sudah membaca tulisan ini.
"Mari kita pulang!"
"Pesta sudah selesai!"
"Kita rayakan esok hari lagi."
Komentar
Posting Komentar