Langsung ke konten utama

Pulang

Aku tidak tau bagaimana memaknai arti kata pulang sesungguhnya, barangkali arti pulang adalah ketika seseorang menemukan tempat ternyaman yang menjadikan dirinya menjadi utuh. Tidak ada kepalsuan yang ditunjukkan sehingga hanya akan memunculkan pribadi yang selama seharian ditutupi tanpa sadar. Mungkin saja malam ini aku lelah hingga merindukan rumah, mungkin saja aku merindukan segala hal yang ada di sana. Dari mulai suara burung peliharaan bapak yang bersiul tengah malam, dinginnya kamar, pun hangatnya percakapan antara ibu dan anak hingga larut malam. Kusadari betapa nyamannya semua itu setelah tidak bisa lagi merasakannya.

Masih perlu waktu tiga bulan untuk liburan, tiga bulan untuk pulang. Ternyata mewujudkan keinginan untuk pulang hanya saat liburan panjang itu tidak mudah. Dan ya, aku sudah tau itu sebelumnya.

Akan tetapi tidak boleh kerinduan ini menyiksaku semalaman, sebab malam masih panjang.
 
Akhirnya aku memutuskan menelepon seseorang yang sudah kenal dekat denganku selama bertahun-tahun. Dia yang selalu menemaniku saat aku merasa sendirian di dunia yang pelik ini. Setelah telepon terhubung kami mulai bercerita panjang, percakapan itu seperti obrolan dua perempuan yang saling menceritakan dunia mereka masing-masing. Khayalan ada di mana-mana, mimpi, cita-cita, harapan, semua teracak menjadi satu. Mereka memang seperti itu, senang sekali berkhayal, entah apa yang dipikirkan Tuhan saat menciptakan pikiran perempuan yang pandai berangan-angan. 

Entah apakah memang semua perempuan selalu hidup dalam khayalan atau hanya sebagian saja, aku tidak tau. Tapi syukurlah, itu mengalihkan siksaku dari kata rindu.

Lalu dalam salah satu obrolan dia mengajukan pertanyaan. “Kau tau kenapa kau merasa sendirian padahal sebenarnya tidak?”

“Kenapa?” Tanyaku.

“Karena kau seperti punya dunia sendiri yang tidak memperbolehkan sembarang orang masuk. Itulah kenapa kau merasa sendirian di sana, padahal banyak orang disekelilingmu saat ini.”

Aku tidak bisa menyembunyikan tawa mendengar perkataan sahabatku itu. Tuh kan! Sudah kuduga dia mengenalku dengan baik dibandingkan aku mengenal diriku sendiri. Obrolan kami berlangsung lama sampai berjam-jam hingga jam menunjukkan pukul tengah malam. Kami akhirnya mengakhiri obrolan panjang itu dengan perasaan lapang.

Namun nyatanya aku tak langsung tidur, aku membuka ponsel dan membaca kalimat-kalimat yang muncul di akun media sosial. Lalu fokusku terhenti saat menemukan satu ungkapan puisi, salah satu sajaknya kurang lebih berbunyi seperti ini:

Dunia seperti kapal yang karam

Terjerembab pada kedalaman tanpa batas

Tiada yang lebih pasti daripada gelap

Tatkala bulan kehilangan cahaya

Dan halilintar kehilangan kilatnya

Puisi itu penggalan dari karya Medy Loekito yang berjudul “Rindu”, menjadi penutup kegiatanku berselancar di dunia hasil buatan manusia ini. Kumatikan ponsel dan menaruhnya di samping bantal. Malam ini aku berhasil selamat dari bayang-banyang rindu akan pulang. Tidak tau apakah besok akan kembali terselamatkan. Namun lupakan, esok akan tetap terjadi, tak perlu memikirkannya saat ini, biarkan berjalan semestinya. Sebab saat ini aku ingin segera memejamkan mata agar mulai bermimpi tentang perjalanan Pulang.

Dan teruntukmu yang membaca tulisan absurd ini, kuucapkan selamat malam walau mungkin harimu sedang siang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...