Judul Buku : 86
Penulis Buku : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 252 halaman
Harga Buku : Rp 86.000,00
ISBN : 978-979-22-6769-3
Novel ini bercerita tentang Arimbi sebagai tokoh utama yang bekerja sebagai juru ketik di pengadilan. Dia adalah pegawai lugu yang hanya tau menyelesaikan pekerjaannya kemudian kembali ke kamar kosan yang sempit dan murah. Hidupnya terkesan monoton, dijalani dengan tempo yang sama setiap harinya. Hingga suatu hari ada tragedi kebakaran di daeran kontrakan dan mengharuskan dirinya pindah, dia pindah ke tempat yang berjarak lebih jauh dari tempat kerja.
Di tempat baru itu dia berkenalan dengan tetangga kamar, Ananta. Mereka mulai dekat dan saling bertukar cerita hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Ananta bekerja di perusahaan yang menjual kendaraan. Dia yang menagih cicilan motor kepada para pembeli jika sudah jatuh tempo.
Singkat cerita mereka akhirnya memutuskan untuk menikah, keduanya pulang ke kampung halaman untuk merayakan pernikahan bersama keluarga. Di kampung halaman Arimbi bertemu dengan kepala desa yang meminta bantuan kepadanya agar bisa memasukkan anak kepala desa ke kantor pengadilan. Kepala desa itu siap membayar 50 juta untuk itu namun ditolak oleh Arimbi.
Namun ternyata, saat Arimbi kembali bekerja di kantor dia menyadari bahwa ada banyak korupsi dan penyuapan di sana. Hanya karena membantu sekali dan mendapat bagian Arimbi merasa itu hal yang wajar walau sempat ragu melakukan. Atasannya, Bu Danti mengatakan bahwa itu adalah hal biasa.
Saat itulah Arimbi mulai gencar mengikuti arus perputaran uang di kantornya, dia semakin mengetahui bahwa kantor pengadilan tempatnya bekerja selama ini penuh dengan manipulasi. Mereka yang punya uang yang akan menang.
Suatu ketika Arimbi ditangkap KPK saat melakukan aksinya bersama Bu Danti. Keduanya menjadi berita dan dimasukkan ke dalam penjara. Bu Danti mendapatkan perlakuan berbeda karena berhasil membayar uang yang cukup besar, dia berada di kamar yang nyaman. Berbeda dengan Arimbi yang harus berdesakkan dengan narapidana lain.
Singkat cerita mereka berdua dijatuhi hukuman penjara beberapa tahun. Di dalam penjara Arimbi mengetahui kehidupan disana. Tentang penjualan narkoba. Karena faktor membutuhkan uang untuk ibunya yang sakit ia bergabung dalam pengedaran narkoba tersebut. Dia juga mengajak Ananta yang telah menjadi suami untuk ikut bergabung, awalnya Ananta menolak namun akhirnya menuruti permintaan istrinya.
Arimbi melakukan pekerjaan itu selama di penjara, setelah setengah masa penjara dia ditawari untuk bisa keluar namun dengan syarat membayar sejumlah uang. Walau sempat ragu dia akhirnya setuju dan membayar para petugas polisi dan bisa bebas sebelum waktunya.
Saat keluar dari penjara Arimbi merasa bahagia, dia dan Ananta sempat meninggalkan bisnis penjualan narkoba beberapa lama. Lalu saat mengetahui tentang kehamilan Arimbi, keduanya memutuskan untuk memiliki rumah, untuk membeli rumah mereka tidak memiliki uang yang cukup. Alasan itu yag membuat keduanya lagi-lagi memilih untuk kembali menjual narkoba.
Sampai anak mereka lahir, Ananta masih menjual narkoba. Arimbi sudah merasa was-was, dia menyuruh Ananta untuk berhenti saja. Namun Ananta menolak karena alasan mereka belum memiliki tabungan yang cukup, tunggu hingga tabungan mereka terkumpul lumayan banyak.
Hingga pada suatu ketika Arimbi melihat berita yang menampilkan suaminya ditangkap oleh polisi karena dugaan sebagai pengedar narkoba.
_
Okky Madasari menulis buku ke duanya berlatar belakangkan karena keprihatinannya pada praktik-praktik korupsi di Indonesia. Apalagi saat dirinya menjadi wartawan bidang hukum dan korupsi. Keresahan itulah yang membuat ia menulis buku berjudul 86 ini. Buku ini mengambil konflik yang terjadi, sehingga alurnya terkesan sesuai dengan apa yang memang sebenarnya terjadi di lapangan.
Akan tetapi saya pribadi memiliki beberapa catatan tentang novel cerita ini.
Pertama, tokoh utama memang digambarkan sebagai perempuan yang mudah terbawa arus. Dia akan mencoba cara agar mendapatkan uang dengan cara yang lebih cepat. Namun sayangnya itu memberikan kesan bahwa tokoh utama tidak memiliki hati nurani dan pegangan yang kuat. Meski sempat ragu, namun itu hanya terjadi secara singkat. Alangkah lebih menarik lagi jika Arimbi bergelut dengan hati nurani lebih jauh, antara benar dan salah. Agar pembaca ikut merasakan kebimbangan lebih dalam pada apa yang dirasakan Arimbi.
Kedua, buku ini ditujukan untuk orang yang terbiasa membaca cerita tanpa humor dan berat. Sebab selama alur cerita tidak ada humor yang diberikan, lebih kepada ketegangan-ketegangan konflik yang Arimbi alami.
Meskipun begitu buku ini sangat bagus dalam segi penataan alur cerita. Okky Madasari membuat 86 menjadi cerita yang paling sering ditemui di kehidupan nyata. Mulai dari tidak tau apa-apa hingga ikut-ikutan karena lingkungan sekitar melakukan hal itu dan menganggapnya hal yang biasa. Secara kenyataan itu memang yang terjadi di masyarakat. Meskipun ceritanya sedikit berat, namun penggunaan bahasanya ringan dan mudah dipahami. Buku ini berhasil memberikan kesan tersendiri setelah saya membacanya.
Komentar
Posting Komentar