Langsung ke konten utama

Cerpen - Gadhis



Kata mayoritas orang memiliki paras yang rupawan akan sangat membantu dalam lingkungan sosial, entah asmara, pekerjaan, maupun pertemanan. Mereka (yang memiliki paras rupawan) konon katanya tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Barangkali hanya melihat senyumannya saja kesalahan yang telah dibuat bisa terlupakan dalam sekejap. 

Tentu, hal ini tidak selalu berlaku pada semua orang. Akan tetapi bagi Gadhis, pernyataan itu benar adanya. Syukur pada Tuhan, dia menyandang status sebagai perempuan yang rupawan. Tubuhnya indah bak biola, matanya lebar layaknya anak kucing yang selalu ingin bermain, juga kulit putih bersih yang sering mendapat banyak pujian. Rambutnya hitam legam menjuntai hingga pinggang, bibirnya tipis berona merah, hidungnya kecil, pipinya tirus dengan lesung pipi di bagian kanan. Dan ketika ia sedang tertawa, semua pasang mata terhipnotis olehnya.

Dengan paras seperti itu Gadhis tentu merasa tak pernah kesulitan dalam pertemanan, hubungan dengan lelaki, maupun tugas-tugas yang memberatkan dalam dunia perkuliahan. Seringkali hanya dengan ajakan sekali kencan, lelaki yang diajaknya mau melakukan apa saja yang dia pinta agar ada kencan untuk kedua kalinya. Saat itulah Gadhis menyuruh untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Dalam kata lain lelaki itu harus menyelesaikan pekerjaanya jika ingin kencan lagi untuk yang kedua kali. 

Entah apa isi kepala pria yang mau melakukan apa yang dimintai oleh Gadhis, mungkin saja itu seperti syarat logis yang layak mereka lakukan jika ingin mendapat apa yang diinginkan. 

Barangkali mereka mengibaratkan itu seperti Bandung Bondowoso yang menerima syarat dari Roro Jonggrang untuk membuat seribu candi dalam semalam agar lamarannya bisa diterima. Bahkan tanpa memikirkan kembali maksud lain dari Roro Jonggrang atas syarat tersebut, yang sebenarnya dalam lubuk hati menolak lamaran Bandung Bondowoso. Sebab sesungguhnya perempuan adalah makhluk yang pandai memberikan pesan tersirat pada kalimat yang sudah diucap.

Mungkin saja, itu isi kepala mereka.

Sedangkan Gadhis memandang hal itu sebagai hal biasa, itu hal lumrah. Dia mulai membanding-bandingkan usaha lelaki satu dengan yang lain dalam menarik perhatiannya. Dan tanpa dia sadari ia telah menjadi angkuh dari hari ke hari. 

Keangkuhan itu semakin lama semakin mengakar kuat dalam dirinya, dia memandang rendah lelaki. Dia merasa tidak ada yang tidak akan jatuh hati padanya, Gadhis yakin  bisa mendapatkan lelaki mana saja yang dia mau. 

Sikapnya mulai semena-mena, perkataannya seringkali melukai hati laki-laki yang menyatakan suka padanya. Gadhis telah menjadi perempuan angkuh, perempuan yang meski angkuh tetap saja masih banyak lelaki yang mengejar di belakang.

Tapi kata sebagian orang keangkuhan itu menambah daya tariknya, semacam tantangan yang seru jika bisa dimenangkan. Padahal sebenarnya mereka hanya masuk dalam jebakan.

Pujian-pujian dan godaan selalu Gadhis dapatkan setiap hari, jika ia sedang malas menanggapi godaan itu maka tak ada yang ia gubris. Namun jika ia mempunyai keinginan terselubung maka Gadhis akan membalas godaan-godaan itu hingga berhasil mendapatkan apa yang ia mau.

Akan tetapi seperti halnya semua keindahan itu milik Tuhan, maka Dia berhak kapan saja mengambilnya. Gadhis menjadi angkuh hingga lupa bahwa kecantikan yang dia punya itu tidaklah berlaku selamanya, dia yakin akan memiliki paras cantik seperti ini hingga sampai kapanpun. Bahkan sampai diusia tuanya.

Sehingga suatu ketika saat Gadhis bangun dari tidur, ia merasakan sakit luar biasa di seluruh wajah. Wajahnya memerah, bengkak di mana-mana. Pagi itu juga Gadhis pergi ke rumah sakit, dia melakukan beberapa pemeriksaan. Diagnosis dokter mengatakan itu penyakit kulit atas alergi dari benda asing yang pernah Gadhis sentuh atau jenis debu tertentu. Dokter mangatakan penyakit itu akan sembuh dalam waktu beberapa minggu.

Selama berminggu-minggu itu Gadhis tak masuk kuliah, dia tak ingin orang lain tau tentang kondisinya sekarang. Tetapi, meski sudah berminggu-minggu penyakitnya tak juga kunjung sembuh. Bahkan, alergi itu telah berubah menjadi daging yang hidup di luar kulit wajahnya. Bentuknya seperti benjolan, namun merata. Warnanya merah kecoklat-coklatan, siapapun yang melihat pasti akan mengira penyakit itu telah ada selama bertahun-tahun lamanya hingga sampai separah itu.

Gadhis merasa stress, dia selalu menangis setiap malam, ia juga mengabaikan semua pesan yang menanyai tentang bagaimana kabarnya sekarang. 

Karena dilanda kekhawatiran atau mungkin penasaran, teman-teman Gadhis memutuskan untuk datang ke rumahnya tanpa mengabari lebih dulu. Ketika bel pintu rumah berbunyi, seorang wanita paruh baya keluar. Dia menyuruh teman-teman Gadhis untuk masuk lalu memanggil anak dari majikannya itu.

Hampir satu jam mereka menunggu namun Gadhis tak kunjung turun, mereka sudah mulai lelah menunggu. Namun sesaat sebelum mereka memutuskan untuk menyerah Gadhis turun dari kamar. Wajahnya ditutup oleh hijab sembari menundukkan kepada. Semua teman-temannya merasa aneh, matanya memicing penasaran.

“Ada apa denganmu Gadhis? Apa kau masih sakit?”

Gadhis mengangguk.

“Sebenarnya kau ini sakit apa?” tanya yang lain.

Gadhis terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, “akupun tidak tau sedang sakit apa.”

Semua yang ada di sana merasa kebingungan.

“Kalian temanku, apa kalian akan tetap berteman denganku walau aku sedang dalam kondisi buruk?” ucap Gadhis.

“Tentu saja! Kami ini temanmu!”

Gadhis tersenyum mendengar jawaban itu. 

“Aku akan menunjukkan penyakitku. Tapi sebelumnya ingatlah bahwa aku menganggap kalian teman, jadi tolong jangan katakan ini pada siapapun.”

Ketiga perempuan yang ada di sana mengangguk mantap, mereka sudah sangat penasaran tentang apa sebenarnya penyakit Gadhis.

Perlahan Gadhis membuka kain yang menutupi wajahnya. Bersamaan dengan terlihat jelas benjolan menakutkan itu, ketiga temannya membuka mulut tak percaya. Bahkan salah satu dari mereka memalingkan wajah. Tidak tau bagaimana mereka mendeskripsikan wajah Gadhis sekarang yang sudah sangat berbeda dengan parasnya yang dulu, bisa dibilang sekarang Gadhis menjadi menakutkan untuk dipandang.

“Tolong, jangan beri tau siapapun.” Pinta Gadhis pada ketiga temannya.

Mereka bertiga saling pandang, dengan ragu-ragu kemudian menganggukkan kepala bersamaan.

Gadhis merasa lega, setidaknya sekarang dia punya teman cerita setelah berminggu-minggu memendamnya sendirian. Mereka kemudian mengobrol tentang banyak hal hingga berjam-jam dan pulang setelah puas mengobrol. 

Gadis merasa beruntung masih memiliki teman seperti mereka. Sejak awal mereka selalu menuruti apa yang Gadhis inginkan tanpa percecokan, sehingga kali ini pun Gadhis yakin bahwa ketiganya akan menuruti ucapannya untuk tidak mengatakan pada siapapun mengenai wajahnya sekarang.

Hingga keesokan harinya, sebuah berita menghebohkan seisi kampus. Berita itu menjadi perbincangan hangat. Sebuah foto perempuan berwajah mengerikkan sebagai latar utama, di bawahnya tertulis, wajah baru Gadhis yang membuat orang lain merasa takut dan jijik. Padahal dulu selalu dipuja-puja.

Di dalam foto terlihat bahwa Gadhis difoto secara diam-diam dengan pakaian yang ia pakai kemarin saat menjamu ketiga temannya. Dalam foto Gadhis tertawa, seakan semua baik-baik saja. Tawa yang sama, namun terlihat sangat berbeda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...