Langsung ke konten utama

Penulis atau Pengarang

Tere liye pernah mengatakan bahwa jangan samakan antara menjadi seorang penulis dengan pengarang sebab keduanya berbeda. Penulis adalah orang yang menulis apapun yang diminta walaupun dia merasa topik yang diangkat tidak menarik perhatiannya. Penulis bisa menulis berbagai jenis tulisan, entah ilmiah ataupun sastra. Sedangkan pengarang hanya menulis apa-apa yang ada dalam kepala mereka. Ide tulisan tidak bisa dipaksakan, itu hanya bisa muncul begitu saja. Dia tidak menulis jika tidak ingin menulis, serta tidak ada paksaan dalam tulisan. Dan jika dipaksa, maka gaya tulisannya berbeda.

Sejak awal saya merasa masuk dalam kategori pengarang, karena dulu saya tidak suka jika harus menulis tulisan ilmiah maupun essay. 

Seringkali saat diminta untuk membantu menulis essay, kemampuan menulis saya seakan langsung menghilang. Tidak ada rangkaian kalimat di kepala, seketika menjadi terbata-bata. 

Mungkin saja itu menjadi salah satu alasan saya merasa kesal jika dipanggil sebagai orang yang bisa menulis, padahal sebenarnya tidak. Entah sejak kapan panggilan itu bermula, barangkali saat teman sekelas saya mulai tau tentang novel amburadul yang saya buat di story whatsapp, atau dari pamflet seminar menulis yang sering saya unggah. Entah dari mana saja, yang pasti saya merasa muak saat itu (meski muak tetap saja saya masih mengshare tulisan).

Alhasil semua tugas yang berkaitan dengan menulis akan diserahkan kepada saya (kecuali tugas individu, saya tidak akan mau). Seperti saat kelas mengadakan pentas seni wayang beber, tanpa menanyakan lebih dulu saya langsung disuruh membuat naskah. Masalahnya, semua naskah harus menggunakan bahasa Jawa. 

Jadi susunan kalimat bahasa Indonesia yang dirangkai akan menjadi sia-sia jika sudah diartikan dalam bahasa Jawa. Bahkan seringkali memiliki arti yang tak sama. Bayangkan jika sewaktu-waktu harus diartikan ke dalam bahasa Mandarin, mereka pasti akan tetap memaksa saya mengerjakan walau sudah menolak sambil menangis.

Itulah mengapa dulu saya berpikir ingin berhenti menulis atau hanya diam-diam menulis tanpa orang lain tau.

Padahal jika mereka tau, mengarang cerita itu mudah. Tidak diperlukan kemampuan khusus, selagi ada ide cerita di kepala maka tulisan itu bisa jadi. Coba saja lihat novel-novel yang ada di wattpad, kebanyakan para penulis pemula menggunakan gaya bahasa sehari-hari. Mereka bebas menulis tanpa ada aturan, entah menggunakan titik, koma, spasi, huruf kapital, ataupun tidak sama sekali. Tidak akan ada yang peduli dan memarahi selagi alur ceritanya disukai. 

Saya percaya semua orang bisa menulis, hanya saja mereka belum terbiasa.

Berbeda jika sedang menulis tulisan ilmiah, ada banyak sekali aturan tak kasat mata dalam penulisaannya. Jika melanggar, satu Indonesia bisa menyalahkan.

Akan tetapi sekarang saya sudah bisa menerima, tidak ada lagi pemikiran ingin berhenti menulis. 

Sehingga keresahan ini bisa dihilangkan bersamaan dengan tulisan ini muncul.

Sebenarnya hanya itu yang ingin saya tulis, jelas tidaknya saya akhiri sampai di sini.

Sampai jumpa lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...