Udara semakin dingin, angin malam berhembus tiada henti. Aku memasukkan tangan ke dalam saku hoodie, telinga dan mataku terfokus menyimak cerita laki-laki paruh baya yang telah berjualan es teh dan minuman botol di taman Bungkul Surabaya sejak tahun 2007.
Katanya, beliau telah berjualan jauh sebelum taman Bungkul ini menjadi indah seperti sekarang. Dulu sering terjadi perkelahian antara anak sekolah maupun mahasiswa di tempat ini, para pedagang juga dulu sangat ramai, tidak sepi seperti sekarang. Saat covid pertama kali masuk taman ini menjadi sepi, para pedagang terpaksa berhenti jualan karena larangan pemerintah untuk beraktivitas di luar rumah.
Nahasnya, setelah larangan itu dihilangkan para pedagang sudah menghilang. Tidak tau apa yang terjadi, taman Bungkul tidak seramai dulu.
Laki-laki paruh baya itu bercerita dengan semangat, hampir tidak bisa mengakhiri obrolan jika tidak keluar kalimat. “Terimakasih pak, sudah mau cerita. Kami harus segera pergi.”
Aku dan rekanku berpamitan dan kami kembali melanjutkan perjalanan.
Taman Bungkul dulu sebenarnya adalah makam dari mbah Bugkul sebelum akhirnya dirubah menjadi taman tempat persinggahan seperti sekarang. Taman ini tak pernah sepi pengunjung, bahkan sangat ramai saat hari libur tiba. Banyak orang datang ke sana untuk berkumpul dengan komunitas, menikmati suasana taman, juga tak jarang dijadikan tempat pacaran. Di sana juga di sediakan taman bermain untuk anak-anak, jadi tak heran banyak orang tua yang mengajak anak mereka datang ke sana.
_
Perjalanan masih terus berlanjut, kali ini pukul tiga dini hari. Aku dan rekan-rekan berjalan kaki menuju pasar Waru. Kulihat mereka yang sudah kelelahan sekaligus mengantuk, barangkali dalam hati mereka berharap perjalanan ini segera usai agar bisa membalaskan dendam tidur yang belum puas.
Tidak ada keramaian kali ini, semua hening dalam pikiran masing-masing. Tak terkecuali aku yang menatap langkah kaki sembari memikirkan kapan kami akan tiba di pasar Waru. Udara masih terasa dingin, kantuk sudah mulai datang lagi, kupeluk erat-erat tubuhku sambil bergumam. “Sebentar lagi.”
Ketika adzan subuh berkumandang kami menginjakkan kaki di tempat tujuan. Misi kami kali ini adalah mencari pedagang, pembeli, tukang becak, tukang sapu jalanan untuk diwawancarai seputar pasar Waru ini. Rekan-rekan menuju Masjid untuk salat yang ada di dalam pasar sebelum menyelesaikan misi. Sedangkan sebagian kami yang tidak salat memutuskan untuk mulai mencari.
Di antara keramaian pasar, mataku tertuju pada penjual lamtoro atau petai cina. Aku dan satu rekanku berjalan mendekat, tatkala ibu penjual itu menoleh kulemparkan senyum terbaikku yang dibalas senyuman pula. Lalu, obrolan kami pun di mulai.
Beliau baru berjualan di pasar ini beberapa minggu yang lalu. Sekedar menjual lamtoro yang diikat kecil menggunakan plastik, harga satu plastiknya dibandrol seribu rupiah. Walau begitu beliau juga melayani pembeli jika ingin membeli langsung satu plastik besar. Dikarenakan hanya menjual satu jenis dagangan, hasil penjualan beliau tidak terlalu banyak, sekedar cukup untuk bertahan hidup di kota besar ini.
Sebelum menjual lamtoro beliau pernah menjual bahan masakan yang lain, seperti bawang merah dan putih.
Katanya, beliau memanen lamtoro ini sendiri, setelah dipanen biasanya ada orang lain yang bekerja memisahkan biji dan kulitnya. Aku cukup terkesima, meski penghasilan dari menjual lamtoro pas-pasan beliau masih mempekerjakan orang lain.
Singkat cerita, kami mengobrol cukup panjang. Beliau terlihat antusias menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari dua bocah yang penuh rasa penasaran ini. Mulai dari dagangan hingga keluarga, beliau merantau dari Mojokerto ke Surabaya seorang diri. Seolah tak mau membahas lebih jauh lagi tentang keluarga beliau mengalihkan topik, kami pun menghargainya.
Sebenarnya, fakta bahwa aku juga berasal dari Mojokerto membuat komunikasi kami semakin akrab. Mungkin jika kami tidak harus mencari narasumber lain dan terbatas waktu, aku akan duduk di sana lebih lama lagi. Sembari menunggu dan melihat langsung lamtoro yang akhirnya terjual satu persatu.
Cahaya matahari mulai terbentang di ufuk Timur. Pasar ini berada dekat dengan rel kereta api, tak jarang jual-beli harus berhenti karena menunggu kereta yang akan lewat. Aku yang melihatnya berpikir apakah mereka tidak merasa terganggu oleh suara bising kereta? Atau oleh penjaga palang pintu yang berteriak mirip orang emosi (atau memang emosi, entahlah) ketika ada orang yang menerobos masuk palang pintu kereta api, atau orang yang berdiri cukup dekat dari rel kereta.
“Barangkali mau main ke rumah, langsung saja ke sana.” Aku tersenyum kaku menanggapi ucapan bapak-bapak yang sudah lanjut usia saat lagi-lagi narasumberku ini berasal dari Mojokerto. Apalagi saat tau bahwa kami satu desa, aku cukup terkejut dibuatnya.
“Inggih, pak.” Ucapku menanggapi.
Aku sedikit bingung ingin menyebut pekerjaan beliau ini sebagai apa. Karena sejak tadi kuperhatikan hanya berdiri di persimpangan jalan, melambaikan tangan, sembari mengatakan, “iya ayo terus.” Tanpa benar-benar memperhatikan bahwa di seberang ada kendaraan lain. Alhasil banyak pengemudi yang tidak nganut seruannya. Jika sudah begitu beliau akan berkata. “Oh dasar!”
“Tadi sampai mana?” Tanyanya saat mulai mengabaikan pengendara.
Penghasilan beliau ini tidak pasti, jam kerjanya juga tidak pasti. Kalau lelah sampai siang, kalau tidak sampai malam. Biasanya hanya kendaraan besar seperti mobil dan truk yang memberikan uang recehan pada beliau. Sangat jarang sepeda motor memberikan uang.
Mungkin baru aku yang menanyai beliau ini, jadi antusiasnya besar sekali. Beliau bahkan tidak ragu menceritakan tentang rumah tangganya.
“Sebenarnya dulu saya itu jual sayur, tapi berhenti gara-gara istri. Gini ya mbak, tak kasih tau. Mumpung sampean ini juga perempuan, besok jadi istri. Kalau suaminya kerja itu jangan terlalu di kekang, istri saya itu sering marah-marah karena berpikir saya main perempuan pas jualan. Padahal ya cuma teman biasa. Cuma guyon!”
Aku tersenyum, tapi dalam hati berkata, guyonan yang seperti apa dulu sampai-sampai istrinya marah begitu.
Aku dan rekanku saling pandang seolah mengerti isi pikiran, aku mengangguk. Akhirnya kuakhiri obrolan kami dengan mengatakan terima kasih. Meskipun begitu beliau masih mengatakan sesuatu, sambil berjalan menjauh aku hanya tersenyum. Lalu memalingkan wajah saat celotehannya sudah tidak terdengar lagi di telinga.
Beliau ini memiliki kepercayaan diri cukup tinggi. Tidak malu bekerja apa saja untuk anaknya yang katanya masih sekolah SMP. Tapi mungkin alangkah lebih baik lagi jika mencari pekerjaan yang lebih layak daripada sekarang. Bahkan aku belum menemukan sebutan yang pas untuk pekerjaan satu ini. Bukan tukang parkir, penjaga jalan, apalagi pengemis.
Entahlah, apapun sebutannya itu juga takdir Tuhan.
Kami akan melanjutkan perjalanan.
Ini adalah perjalanan pertama yang berbeda, kesan pertama yang berbeda. Dan yang pertama kali itu adalah yang paling berkesan.
Perjalanan masih panjang, tapi tulisan ini cukup sampai di sini. Bersama rekan-rekan, aku kembali melanjutkan perjalanan.
Komentar
Posting Komentar