Langsung ke konten utama

Generasi Beda Zaman


Saya memang tidak terlalu menyukai perdebatan, apalagi perihal politik. Sebab rasanya tidak akan berujung apa-apa kecuali salah satu pihak merasa pemikiran serta kepercayaannya berhasil mendapatkan tempat pada lawan bicara. Apalagi sebentar lagi pemilihan presiden, segala kericuhan sedang terjadi di mana-mana. Tidak hanya di media sosial, di kalangan masyarakat kelas bawah pun tengah sibuk mencari tau siapa yang akan memberi sogokan paling besar. 

Terutama jika sedang membahas politik dengan bapak. Rasanya semua argumen yang saya keluarkan tidak bernilai jika kalimat mutiara yang sering beliau pakai keluar. 

"Ya namanya juga pemimpin tidak ada yang sempurna. Semua orang punya kekurangan, semua orang juga punya kebaikan."

Barangkali mungkin bapak sudah terlanjur jatuh hati dengan bapak presiden yang sekarang ini. Terkenal dengan segala kebijakan yang katanya pro dengan rakyat miskin. Bantuan yang berceceran dalam segala nama, seperti menjadi senjata untuk mengambil hati masyarakat yang menganggap bahwa pemimpin yang memberi uang mentah-mentah adalah pemimpin yang luar biasa baik. 

Sehingga saat anaknya menjadi kandidat wakil presiden dari mantan musuh pemilu yang lalu bapak mendukungnya tanpa ragu.

Pernah dulu saya mengatakan fakta bahwa di masa pemerintahan beliau utang negara menjadi bengkak, bapak dengan tenangnya mengatakan. 

"Namanya negara tidak ada yang tidak pernah punya hutang. Bahkan presiden-presiden sebelumnya juga pasti berhutang."

Saya menghela napas, sepertinya tidak bisa dilanjutkan.

Saya memang sadar betul sepertinya cara kami mengolah informasi itu berbeda. Logika saya dengan bapak seringkali tidak menemukan titik kesamaan. Barangkali memang karena faktor riwayat hidup dan pengalaman hidup yang berbeda sehingga mempengaruhi seseorang memandang suatu masalah. Akan tetapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa hal yang bapak ucap bisa saya setujui. Walau itu jarang terjadi.

Jika saja ketegangan sudah mulai terasa di antara kita maka ibu akan berkata. 

"Sudah, ayo ganti topik."

Jika begitu ibu langsung menanyakan pertanyaan personal kepada anaknya. Maka saya akan hanyut dalam obrolan dan mengabaikan perdebatan dengan bapak.

Perbedaan berpikir pastilah terjadi pada orang tua dan anak. Generasi baru selalu membawa pola pikir yang baru pula. Namun dalam perbedaan itu saya sadari ada kesamaan sikap dalam dua generasi yang memiliki hubungan darah tersebut. Entah dinamakan gen, atau apalah hingga tercipta sebutan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

.

Saya memang tidak menyukai perdebatan, namun saya menyukai ketika dua jiwa sedang bertukar sudut pandang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...