Ketidakjelasan sepertinya sedang saya rasakan akhir-akhir ini. Bagaimana tidak? bahkan untuk sekedar menulis pun saya ragu dan bimbang. Padahal itu bukanlah persoalan rumit yang butuh teori khusus untuk diselesaikan.
Bagaimana tentang hal-hal lain yang lebih kompleks dari itu?
Entahlah.
Saya ingin membahas sedikit tentang pengendalian emosi. Tidak tau bagaimana seseorang yang dekat dengan saya selama berkuliah di sini bisa begitu mempunyai pengendalian emosi yang buruk. Pendekatan yang tanpa direncakan membawa kami harus berusaha saling mengenal. Benar saja, keterpaksaan itu sempat membuat saya sedikit stres karena pribadinya yang kasar. Tentu itu bukan hal yang terlalu buruk karena semua manusia punya sisi kasarnya masing-masing.
Akan tetapi masalahnya saya belum terbiasa.
Sempat saya melakukan analisis tidak bermutu lewat google untuk mencari apakah dia punya penyakit bipolar atau gangguan lain semacamnya. Setelah saya membaca beberapa artikel, saya tetap tidak berani memberikan klaim.
Menurut google bipolar adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati mulai dari posisi terendah depresif/tertekan ke tertinggi/manik
Dia menyadari bahwa dirinya memiliki tantrum, hal itu tentu bisa dibilang mengkhawatirkan jika terjadi. Dan ternyata memang benar.
Ketika dia menelpon ataupun video call, saya sudah lebih dulu mewanti-wanti apakah akan berakhir dengan tantrum atau tidak. Jika iya, saya akan pura-pura tidak menjadikan hal tersebut sebagai sebuah masalah besar, jika tidak maka saya bersyukur pada Tuhan malam itu bisa terlewati dengan tenang.
Pernah suatu malam dia mungkin berada di puncak emosi (menurut saya). Hingga bukan hanya kata-kata kasar lagi yang keluar melainkan ancaman untuk menyakiti diri sendiri. Saat itu sekitar tengah malam, saya sampai terjaga hingga pukul tiga dini hari dengan jantung yang berdebar. Tidak berani bergerak, tidak juga berani membuka suara.
Keresahan ini seakan menghantui saya, saya ingin bercerita namun ragu. Alhasil saya mencurahkan semuanya kepada saudara saya. Dengan penjelasan setenang mungkin agar dia bisa mencerna perkataan saya dengan tenang pula.
Kejadian ini sudah terjadi beberapa waktu lalu, dan sekarang sudah jarang terjadi lagi.
Pun saya sudah terbiasa dengan emosi yang dia punya.
Sempat terlintas dipikiran saya untuk meninggalkanya saja, namun rasa kasihan selalu mencegah. Dia seakan memegang pundak saya agar tetap berada di sampingnya, dia pernah bilang akan mengalami kebingungan jika kami berpisah.
Saya juga khawatir dia akan melakukan hal yang mencelakai diri sendiri jika sudah sendirian. Walaupun katanya itu hanya ancaman kosong saja.
Sepertinya baru sekarang saya menjalani hubungan yang tidak selaras dengan hati.
Saya tau dia sedikit banyak bisa memberi pengaruh kurang baik, namun saya tetap tidak berani meninggalkannya. Atau mungkin tidak tega.
Tapi saya juga bukan siapa-siapa, hanya sebatas teman saja. Teman yang merasa kasihan sekaligus takut secara bersamaan jika berada dekat dengannya. Terkadang juga kesal.
Jadi sudahlah.
Meskipun begitu ada kebaikan dalam dirinya. Saya hanya sedikit terpancing, sehingga tulisan ini mungkin terlalu berlebihan dalam penggambaran.
Terkadang manusia memang harus merasakan pahit asamnya kehidupan baru menikmati manis buahnya. Namun, gila saja jika kamu mengedepankan perasaan dibanding logika. Demi kesehatan mu, jangan memaksakan suatu hal yang jelas menyakitimu.
BalasHapusSemangat. Life must go on
Bukan tugas kamu untuk terus bertahan. Jika kamu terus menerus seperti itu, maka kamu yang akan merugi. Lagian jika kamu pergi, itu tidak masalah. Jangan merasa terbebani. Kamu tidak melakukan kejahatan. Dia harus bisa lebih mengontrol dirinya sendiri. Kita sudah dewasa. Jangan seperti anak kecil. Hahaha kita selalu punya pilihan, antara yang buruk atau paling buruk.
BalasHapus