Langsung ke konten utama

Resensi: Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk 

Penulis: Ahmad Tohari 

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2003

ISBN: 978-979-22-7728-9

Jumlah halaman: 404


Buku ini berhasil membuat saya memahami maksud penulis tanpa harus berpikir keras. Tokoh utama Srintil adalah perempuan atau barangkali korban dari kebodohan, kemiskinan, serta kemelaratan yang terjadi di Dukuh Paruk. Budaya yang kental telah diartikan menjadi pilar-pilar kehidupan yang mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Kepercayaan itu membawanya menjadi seorang penari yang harus menjalankan semua tradisi sebagai seorang Ronggeng. Tradisi itu bagi saya menyalahi moral, agama, juga kemanusiaan. 

Bagaimana bisa seorang gadis yang masih belasan tahun harus menjalani tradisi bukak-klambu, yaitu tradisi yang mengharuskan seorang Ronggeng melepas keperawanannya dengan lelaki yang berhasil memenuhi syarat yang diberikan. Sang Ronggeng tidak boleh menolak siapapun yang berhasil lolos, Srintil harus menjalani malam panjang dengan lelaki yang tak dikenalnya.

Saya rasa itu masih terjadi di sudut wilayah Indonesia terdalam yang barangkali saja masih belum tersentuh oleh modernisasi secara keseluruhan. Di mana logika berpikir masih belum berkembang dan tradisi nenek moyang menjadi pegangan hidup. Hal mistis adalah perihal nyata yang masih dipercaya dan diberdayakan secara turun temurun di sana.

Jika Srintil telah menjadi korban Dukuh Paruk, maka bagi saya Rasus adalah implementasi kepekaan terhadap keadaan di desanya. Ia menyadari kedunguan yang tidak masuk akal, hati nuraninya mengatakan itu tidaklah baik dan benar. Walau perasaan itu bermula karena ketidakrelaan Rasus terhadap tradisi bukak-klambu yang dilalui Srintil. Namun perasaan itu akhirnya berkembang sehingga membuat akal Rasus tidak lagi sejalan dengan Dukuh Paruk lalu membawanya keluar dari desa. 

Pergi dari desa ke desa dan mempelajari pola pikir yang berbeda pula. Dari sanalah nanti Rasus akan menjadi pelindung bagi Dukuh Paruk itu sendiri.

Ada banyak bagian lain yang sebenarnya ingin saya tulis, namun saya tidak ingin tulisan ini menjadi terlalu panjang. Buku ini adalah buku pertama karya Ahmad Tohari yang saya baca. 

Ahmad Tohari adalah sastrawan Indonesia yang lahir pada tahun 1948. Beliau telah menulis banyak buku, Ronggeng Dukuh Paruk hanyalah salah satu dari buku-bukunya yang berhasil mendapat ketenaran. Bahkan sampai diterbitkan dalam berbagai bahasa. 

Kebanyakan karyanya mengangkat lapisan bawah masyarakat serta pedesaan. Beliau juga begitu menyukai tentang keasliaan alam serta wawasan yang luas terhadapnya. Barangkali itu menjadi alasan dibalik semua tulisannya yang penuh filosofi kehidupan masyarakat desa. Dengan segala ideologi yang masih kental. Di mana juga sering digambarkan Ahmad Tohari dalam desa Dukuh Paruk, yaitu penuh kebodohan, kemiskinan, serta kemelaratan.

Ah, buku ini bagus sekali bagi anda yang ingin mempelajari filosofi masyarakat desa yang sering disebut sebagai ketinggalan zaman.

Saya merekomendasikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...