Langsung ke konten utama

Sekumpulan Yang Terbuang

Nabi Adam turun ke Bumi untuk menjadi Khalifah bagi makhluk yang ada di dalamnya. Lalu kemudian para keturunannya mulai belajar adaptasi, membangun kelompok-kelompok kecil hingga kemudian menjadi sebuah golongan besar. Golongan itu terpecah-pecah menjadi berbagai etnis, agama, budaya, dan wilayah. Sebagian mereka mengaku memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain. 

Setiap wilayah kemudian memiliki paradigma sendiri yang diukur dari komposisi sejarah, budaya, etnis, dan agama, lalu menentukan golongan  mana yang harus di hormati, dipertahankan, dan dibantai. Seringkali mereka yang dibuang adalah manusia-manusia yang tersisihkan oleh perkembangan zaman, atau lahir dalam sejarah yang tak diharapkan.

Bagaimana bisa manusia memberi label pada spesiesnya sendiri tentang suatu tingkatan sosial yang berbeda. Dari perspektif manakah penilaian itu diukur? 

Saya rasa masyarakat Rohingya hanya menginginkan pengakuan bahwa mereka juga adalah makluk Tuhan yang diutus menjadi Khalifah di Bumi. Sebagai Khalifah mereka selayaknya diberi kedaulatan hidup, kedaulatan beragama, dan kedaulatan wilayah. Bukan malah pembantaian massal yang mengharuskan mereka mencari perlindungan diri dari spesiesnya sendiri.

Mereka mendapat penolakan diberbagai negara, bukan karena faktor kebencian melainkan aturan lain yang mengatakan bahwa penduduk di dalamnya merasa terganggu dan sistem yang mengatur juga berdalih bahwa itu akan menjadi beban negara. Alasan lainnya juga karena Rohingya adalah kaum yang susah diatur. Mereka sering melanggar norma dan tidak menghargai penduduk asli wilayah yang mereka datangi.

Lalu pertanyaannya sekarang, siapakah yang mengajari mereka perihal norma-norma yang ada serta saling menghargai jika sejak lahir saja mereka sudah berdampingan dengan kerusakan norma dan diskriminasi. Kemudian tentang mereka yang membuat kerusakan barangkali adalah Rohingya tua yang ideologi berpikirnya sudah melekat dari pengalaman hidup yang berat. 

Negara yang menolak pun tidak salah karena mereka hanya ingin mencegah kericuhan dan tanggungan biaya. Anak sendiri saja masih banyak yang mengalami kemelaratan bagaimana bisa mengadopsi anak orang lain.

Lalu siapa yang harus dikritik jika sudah seperti ini?

Saya juga tidak tau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...