Langsung ke konten utama

Cerpen - Sekawanan Monyet

Angin berhembus menerpa kulitku yang masih belum memiliki bulu lebat layaknya monyet dewasa. Kutatap ibuku yang selalu nampak cantik di sana, lantas bertanya: "Bu, mengapa kita harus pindah?" Sorot mata itu bak rintik hujan setelah badai. Menenangkan, namun juga penuh kesedihan. "Rumah kita sudah hancur, anakku. Sudah tidak ada lagi pepohonan dan hewan yang menetap di sana." 

"Mengapa bisa?" Tanyaku yang masih tak mengerti.

"Manusia menjadikan itu rumah mereka."

"Lagi?" Ujarku tak menyangka. Entah berapa kali aku pindah dengan para sekelompok monyet lain yang sudah kuanggap keluarga. Ibuku pernah berkata bahwa manusia punya kuasa di tempat yang kusebut sebagai, rumah.

"Bukankah mereka juga membangun rumah di rumah kita yang dulu, bu? Karena itu kita yang pindah, kan?" 

Ibuku tersenyum dengan penuh ketulusan. Ia mendekat, memangkuku, lalu mengusap lembut puncak kepalaku yang mulai ditumbuhi bulu lebat. "Dengarkan ibu, nak. Tuhan sudah menyuruh kita untuk menghargai manusia, karena mereka yang menjadi pemimpin di muka bumi. Mereka yang akan bertanggung jawab atas keadaan hutan, pohon, binatang, serta lain-lainnya yang ada di sini. Jadi kita tak bisa melawannya."

"Mengapa tak bisa, bu?"

"Karena itu adalah tugas mereka."

Hatiku bergemuruh mendengar jawaban ibuku.  Aku tak tau kuasa apa yang ia maksud hingga kami harus terus mengalah dan hidup berpindah-pindah tanpa tau mana yang akan menjadi rumah sebenarnya. 

"Bagaimana jika kita tak mau mengalah? Mereka terlalu serakah."

"Tidak semuanya serakah, nak."

"Jika tidak semua manusia serakah, lantas di mana mereka yang tak serakah, mengapa mereka diam saja? Apakah mereka tidak ingin membantu kita?"

Mendengar pertanyaanku kali ini, ibu mulai terdiam. Aku hanya menunggu, menunggu ia menjawab pertanyaanku yang tak akan pernah ada habisnya, menunggu ia akan berkata apa lagi untuk membela manusia. Sedangkan tanpa kuduga, sebuah peluru melesat mengenai punggung ibu. Aku berteriak! Kupeluk erat tubuhnya yang mulai rubuh, lalu kusandarkan di batang pohon.

"Ibuuu... "

"Larilah!" Ucapnya padaku sambil menahan rasa sakit.

"Tidak, tidak, tidak bu. Ayo kita lari bersama!" Aku mulai ketakutan. Sedangkan dari kejauhan, kudengar suara bersahutan yang semakin mendekat.

"Cepatlah!"

Aku menangis tersedu-sedan melihat ibuku yang mulai tak berdaya, aku tak akan ingin meninggalkannya sendirian, aku akan tetap bertahan. "Tidak bu... Aku akan tetap di sini, menemanimu."

"Ibu bilang pergilah, carilah bantuan."

"Tidak bu... Mereka akan menangkap ibu selagi aku pergi." Air matanya kini juga ikut menetes.

"Setidaknya salah satu dari kita akan selamat."

Aku menggeleng, kupeluknya erat-erat, kudengar para manusia itu berteriak, seolah menemukan mangsa mereka. Tangisku semakin keras, sedangkan ibu berulangkali berkata agar aku segera pergi dan lari. Berulangkali juga aku berkata 'tidak'. Lalu di samping telinganya aku berkata, "ibu salah, mereka semua serakah. Mereka telah mengambil rumah kita, tapi masih tidak merasa puas. Lalu sekarang mereka ingin menangkap kita, mengapa ibu tidak marah? Mereka tidak layak dihormati, bu ... Mereka pembunuh." 

Tangisku tak henti-hentinya keluar, pelukanku pun tak kalah kencang. Namun aku tak merasakan lagi pergerakan dalam dekapan, ibuku sudah pingsan. Dan sekarang aku sendirian, aku berteriak, kupanggil semua monyet yang barangkali ada di sekitar. Aku tak tau harus bagaimana, aku tak tau harus berbuat apa. Hingga, pasrah adalah keputusan yang ada. 

Kurasakan tubuhku ditarik paksa lalu dimasukkan ke dalam kotak kayu, sebelum tubuhku benar-benar sepenuhnya menghilang, kulihat mereka memasukkan ibuku ke dalam kotak yang lebih besar, lalu menghilang dari pandangan. Kini semuanya pun menjadi gelap gulita, aku tak melihat cahaya. Kotak ini begitu rapat, begitu sesak.

"Bu, kali ini aku tak bisa menerima semua. Mengapa Tuhan, membiarkan mereka menjadi penguasa? Mereka bahkan tidak lebih baik daripada sekawanan monyet."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...