Angin berhembus menerpa kulitku yang masih belum memiliki bulu lebat layaknya monyet dewasa. Kutatap ibuku yang selalu nampak cantik di sana, lantas bertanya: "Bu, mengapa kita harus pindah?" Sorot mata itu bak rintik hujan setelah badai. Menenangkan, namun juga penuh kesedihan. "Rumah kita sudah hancur, anakku. Sudah tidak ada lagi pepohonan dan hewan yang menetap di sana."
"Mengapa bisa?" Tanyaku yang masih tak mengerti.
"Manusia menjadikan itu rumah mereka."
"Lagi?" Ujarku tak menyangka. Entah berapa kali aku pindah dengan para sekelompok monyet lain yang sudah kuanggap keluarga. Ibuku pernah berkata bahwa manusia punya kuasa di tempat yang kusebut sebagai, rumah.
"Bukankah mereka juga membangun rumah di rumah kita yang dulu, bu? Karena itu kita yang pindah, kan?"
Ibuku tersenyum dengan penuh ketulusan. Ia mendekat, memangkuku, lalu mengusap lembut puncak kepalaku yang mulai ditumbuhi bulu lebat. "Dengarkan ibu, nak. Tuhan sudah menyuruh kita untuk menghargai manusia, karena mereka yang menjadi pemimpin di muka bumi. Mereka yang akan bertanggung jawab atas keadaan hutan, pohon, binatang, serta lain-lainnya yang ada di sini. Jadi kita tak bisa melawannya."
"Mengapa tak bisa, bu?"
"Karena itu adalah tugas mereka."
Hatiku bergemuruh mendengar jawaban ibuku. Aku tak tau kuasa apa yang ia maksud hingga kami harus terus mengalah dan hidup berpindah-pindah tanpa tau mana yang akan menjadi rumah sebenarnya.
"Bagaimana jika kita tak mau mengalah? Mereka terlalu serakah."
"Tidak semuanya serakah, nak."
"Jika tidak semua manusia serakah, lantas di mana mereka yang tak serakah, mengapa mereka diam saja? Apakah mereka tidak ingin membantu kita?"
Mendengar pertanyaanku kali ini, ibu mulai terdiam. Aku hanya menunggu, menunggu ia menjawab pertanyaanku yang tak akan pernah ada habisnya, menunggu ia akan berkata apa lagi untuk membela manusia. Sedangkan tanpa kuduga, sebuah peluru melesat mengenai punggung ibu. Aku berteriak! Kupeluk erat tubuhnya yang mulai rubuh, lalu kusandarkan di batang pohon.
"Ibuuu... "
"Larilah!" Ucapnya padaku sambil menahan rasa sakit.
"Tidak, tidak, tidak bu. Ayo kita lari bersama!" Aku mulai ketakutan. Sedangkan dari kejauhan, kudengar suara bersahutan yang semakin mendekat.
"Cepatlah!"
Aku menangis tersedu-sedan melihat ibuku yang mulai tak berdaya, aku tak akan ingin meninggalkannya sendirian, aku akan tetap bertahan. "Tidak bu... Aku akan tetap di sini, menemanimu."
"Ibu bilang pergilah, carilah bantuan."
"Tidak bu... Mereka akan menangkap ibu selagi aku pergi." Air matanya kini juga ikut menetes.
"Setidaknya salah satu dari kita akan selamat."
Aku menggeleng, kupeluknya erat-erat, kudengar para manusia itu berteriak, seolah menemukan mangsa mereka. Tangisku semakin keras, sedangkan ibu berulangkali berkata agar aku segera pergi dan lari. Berulangkali juga aku berkata 'tidak'. Lalu di samping telinganya aku berkata, "ibu salah, mereka semua serakah. Mereka telah mengambil rumah kita, tapi masih tidak merasa puas. Lalu sekarang mereka ingin menangkap kita, mengapa ibu tidak marah? Mereka tidak layak dihormati, bu ... Mereka pembunuh."
Tangisku tak henti-hentinya keluar, pelukanku pun tak kalah kencang. Namun aku tak merasakan lagi pergerakan dalam dekapan, ibuku sudah pingsan. Dan sekarang aku sendirian, aku berteriak, kupanggil semua monyet yang barangkali ada di sekitar. Aku tak tau harus bagaimana, aku tak tau harus berbuat apa. Hingga, pasrah adalah keputusan yang ada.
Kurasakan tubuhku ditarik paksa lalu dimasukkan ke dalam kotak kayu, sebelum tubuhku benar-benar sepenuhnya menghilang, kulihat mereka memasukkan ibuku ke dalam kotak yang lebih besar, lalu menghilang dari pandangan. Kini semuanya pun menjadi gelap gulita, aku tak melihat cahaya. Kotak ini begitu rapat, begitu sesak.
"Bu, kali ini aku tak bisa menerima semua. Mengapa Tuhan, membiarkan mereka menjadi penguasa? Mereka bahkan tidak lebih baik daripada sekawanan monyet."
Komentar
Posting Komentar