Rerumputan dan pohon liar tumbuh subur di sana, tak ada seorang pun yang berniat menebasnya. Berita itu bermula ketika seorang warga pulang tengah malam selepas mengecek kebun yang tak jauh dari sana. Saat dia berjalan melewati lahan kosong nan rimbun tersebut tiba-tiba saja suara tangis terdengar. Ia mengaku suaranya terdengar dari dalam semak-semak.
Lalu saat ditanya mengapa tidak mengecek langsung pada sumber suara, si laki-laki tua itu mengatakan bahwa dia takut jika itu adalah perempuan jadi-jadian yang hanya mau menggodanya saja.
Alhasil kabar itu menyebar dari mulut ke mulut untuk dijadikan obrolan saat tengah meronda maupun oleh ibu-ibu yang selesai tahlilan. Di antara mereka juga ada yang mengaku mendapati kejadian yang serupa sehingga semakin panaslah berita itu sekarang.
Panji tidak pernah mempercayai tentang hal mistis. Segala hal yang sering warga desa sebut sebagai ulah setan pastilah memiliki alasan logis yang dapat dijelaskan. Bahkan saat ada seseorang yang berkata melihat setan, lelaki itu tak pernah percaya. Jika memang benar setan itu ada, maka manusialah wujud nyatanya. Sebab di dalam kalbu manusia selalu tersembunyi setan yang siap muncul kapan saja, hanya menunggu pemilik tubuh lemah.
Hingga suatu hari, Panji merasa muak dengan dugaan-dugaan masyarakat yang semakin nyeleneh. Seperti bahwa tangisan yang terdengar adalah suara nenek moyang mereka yang bersedih hati karena sudah dilupakan. Atau tangisan itu adalah ulah hantu perempuan yang menangis karena ingin menjerat laki-laki untuk dijadikan sebagai suami. Mereka sudah mulai menciptakan karangan-karangan yang membuat Panji tidak tahan lagi sehingga berniat mencari sumber suara misterius itu.
Lalu mulailah pada malam Jum’at Panji pergi ke kebun kosong untuk mencari pembenarannya sendiri. Laki-laki berusia dua puluh tahunan itu berjaga di sekitar kebun dengan berbekal senter dan seplastik kopi.
Pada pencarian pertama Panji tidak mendengar apa-apa. Hanya suara segerombolan nyamuk yang senang menyambut kedatangannya. Tak ingin menyerah, Jum’at berikutnya ia datang lagi. Ia berharap semoga kali ini mendengar sesuatu yang aneh, jika bukan tangisan setidaknya teriakan pun tak apa.
Panji sudah mulai kehilangan adrenalin pada misinya kali ini, semakin lama ia menunggu dan tak menemukan apa-apa membuat pencarian terasa membosankan.
Percarian kedua pun tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Panji mulai putus asa, ia merasa yakin kalau berita-berita yang tersebar sebenarnya hanya karangan oknum yang tidak bertanggung jawab dan hanya menyebarkan omong kosong untuk menakut-nakuti warga. Ya, Panji mulai meyakini pendapatnya sendiri.
Di minggu ke tiga sebenarnya Panji sudah enggan datang ke kebun yang penuh dengan segerombolan nyamuk itu. Dia berpikir percuma jika nanti akan mendapatkan hasil yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Panji rasa sudah cukup penasarannya tentang hal yang sudah jelas tidak masuk akal itu.
Akan tetapi tiba-tiba saja ia merasa ingin pergi, dalam hati ia bertekat jika dalam percobaan terakhir ini dia gagal lagi maka berita tentang tangisan itu memang hanya sebuah karangan.
Sekitar pukul sebelas malam ia datang sendirian, tangan kanan menggenggam senter dan tangan kiri membawa kresek berisi gorengan. Ia menunggu di dalam kebun, tikar alami dari daun pisang yang ia buat kemarin masih utuh. Dengan santai Panji duduk di sana, menaruh senter ke arah bagian yang penuh semak belukar.
Dia tidak merasakan kejanggalan apa-apa, satu demi satu gorengan tempe yang ia bawa berhasil tertelan dengan perasaan lapang. “Tuh kan, seharusnya aku tidak perlu datang lagi ke mari sebab memang tidak ada suara perempuan seperti yang warga bilang.” Ucapnya pada hembusan angin yang datang.
Semakin malam, udara memang semakin dingin, nyamuk pun semakin ramai memanggil kawanan. Panji sudah membawa persiapan yang lebih matang sejak kemarin, yaitu krim oles pengusir nyamuk. Ia memakai krim itu ke seluruh kulit yang tidak tertutup oleh kain baju miliknya. Setelahnya Panji terlentang merebahkan tubuh di atas dedaunan.
Sudah ketiga kali Panji mengamati langit malam dari posisi tidurnya sekarang. Langit yang menjulang tinggi dengan warna hitam pekat dihiasi oleh bintang yang sudah bisa dihitung jumlahnya. Padahal dulu waktu kecil Panji ingat bahwa menghitung bintang dilangit terdengar sebagai hal yang mustahil karena ada begitu banyak yang terpajang.
Ia menyebut ini sebagai efek keserakahan manusia, jika diamati dari para peneliti bintang-bintang tersebut semakin tidak terlihat karena manusia yang tinggal di atas bumi telah merasa tidak membutuhkan bintang. Barangkali itu sebuah keangkuhan, membangun berjuta-juta gedung dengan cahaya glamor di sekelilingnya. Seakan menyiratkan bahwa tidak lagi membutuhkan penerangan dari bulan dan bintang.
Selama tiga tahun Panji hidup di ibu kota yang penuh keriuhan sebelum memilih kembali ke desa, selama itu pula ia tak pernah merasakan kegelapan seperti sekarang. Berbekal hanya dengan cahaya bulan dan sedikit bintang membuat Panji membayangkan bumi malam yang tenang dan damai.
Baru saja kelopak mata Panji terpejam, ia menangkap suara yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Panji segera bangkit dari tidur, entah mengapa jantungnya berdebar, adrenalinnya terpacu. Tangisannya terdengar pilu memang, seolah menumpahkan semua kekalutan seorang perempuan yang terlalu lama di pendam. Panji berdiri mematung dari tempatnya sekarang, ia menghidupkan senter yang tadi sudah ia matikan. Bersamaan dengan senter yang menyala tangisan itu berhenti.
“Siapa di sana?!” Ucapnya cukup keras agar bisa menembus semak-semak yang tumbuh merapat.
Panji berjalan dengan pasti sembari menyingkirkan belukar yang menghalangi jalan. Lalu ia berhenti melangkah. Dari posisinya berdiri sekarang ia melihat sesosok tubuh perempuan dengan rambut tergurai yang sedang membelakangi. Panji mengecek kakinya, ternyata masih menyentuh tanah.
“Mbak kenapa sering menangis di sini malam-malam?” Tanyanya.
Panji tak mendapat sahutan, namun ia masih yakin bahwa perempuan itu bukan setan.
“Tolong jangan membuat warga resah karena tangisan mbak.”
Perempuan itu tetap saja tidak menjawab. Suhu tubuh Panji mulai panas dingin sekarang. Apa dirinya lari saja?
Tidak. Dia sudah bertekat untuk tidak lari seperti pengecut, bukankah dia sendiri yang percaya bahwa setan itu tidak ada. Panji tidak ingin melewatkan kesempatan, alhasil dia mendekat dan berdiri di hadapan perempuan itu untuk melihat wajahnya dengan jelas. Seketika seluruh tubuh Panji menegang. Bola mata bulat itu menatapnya tajam, genangan air masih tersisa di sana. Perlahan senyumannya tercipta, saat itulah perempuan itu mengatakan.
“Mas Panji mengapa senang sekali menunggu saya di sini? Karena Mas Panji selalu berada di sini sejak dua minggu kemarin membuat saya tidak bisa menangis dengan lepas.”
Tamat.
Komentar
Posting Komentar