Langsung ke konten utama

Jadi Begitulah


Aku duduk di sampingnya dengan perasaan canggung. Ingin membuka obrolan namun bingung mulai dari mana. Basa-basi mengenai alamat, kuliah, serta nama sudah terlontarkan. Sekarang hanya tinggal membuka obrolan untuk lebih tau pengalaman serta kepribadian yang ia punya. Lalu kemudian kulontarkan kalimat.

"Mbak, emm ... Di prodi kebidanan ada spesifikasi bidangnya kah?"

Mbak Natalia menoleh, "oh iya ada. Aku lebih ke ibu hamil dan melahirkan."

Jawabannya terdengar semakin menarik, pertanyaan kembali kuajukan. 

"Semester 5, sudah magang mbak? ataukah belum?"

Aku tidak tau apakah mbak Natalia merasa terganggu dengan gadis di sampingnya ini yang terus mengajukan pertanyaan.

"Sudah, di rumah sakit M. Aku magang di sana."

"Berarti pernah menangani langsung pasien ya mbak." Pertanyaan bodoh apa itu. "Emm maksudku apa mbak pernah menangani pasien sendiri tanpa didampingi dokter lain? Kayak hanya mbak yang menangani."

"Oh iya pernah. Waktu itu ibu melahirkan."

"Sudah berapa kali mbak menangani pasien langsung?"

"Dua kali dek." 

Keren. Membayangkan kondisi proses kelahiran saja membuatku merinding. Sedangkan mbak Natalia justru menghabiskan banyak waktu di keadaan seperti itu. 

"Emm ... Apa mbak pernah ngerasa nggak nyaman atau barangkali jijik saat melihat darah dan segala macamnya?"

Sebenarnya jika sudah bergelut di dunia medis hal itu tidaklah mejadi gangguan. Tapi aku tetap penasaran, barangkali saja awal-awal ia pernah merasa tak nyaman.

"Em ... Enggak sih dek biaja aja. Kalau lihat darah ataupun bersihin bayi juga biasa aja. Ngga ada perasaan kurang nyaman."

"Oh ... Gitu ya mbak. Sejak awal memang sudah punya rencana masuk kesehatan mbak?"

Mbak Natalia tersenyum manis.

"Iya. Sebenarnya dulu mau masuk keperawatan tapi kata mama masuk kebidanan aja. Jadi yasudah ngikut, yang penting masih kesehatan."

Memang ya, pekerjaan akan baik jika memang bidangnya.

Aku melihat mbak Natalia sebagai sosok perempuan dewasa yang sudah jelas tujuannya. Beliau ramah, baik, dan cantik. Sekilas sempat terpikir lelaki beruntung mana yang akan mendapatkannya. 

Obrolan itu berakhir panjang. Ia juga mulai menanyai tentang kuliahku, apa saja mata kuliahnya, juga mengapa memilih prodiku saat ini. Obrolan kami mengalir begitu saja tanpa terasa.  Hingga tiba-tiba saja rombongan adik-adik sudah selesai dan turun dari atas.

Perbincangan ditutup dengan kedatangan pembina dari acara ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...