Langsung ke konten utama

Kevin Carter


Foto ini tidak akan asing lagi dalam dunia jurnalistik. Terlihat seorang anak kecil sekarat akibat kelaparan hebat lalu ada seekor burung bangkai yang menunggu dibelakang. Barangkali burung itu sedang menunggu hidangan makan malamnya.

Kevin Carter mendapatkan penghargaan atas hasil fotonya tersebut. Ia menjelaskan tentang krisis kelaparan hebat yang sedang terjadi di Sudan. Seketika ia mendapat banyak atensi dari orang-orang, namanya langsung melejit. 

Banyak yang memuji hasil fotonya, pun banyak yang bertanya perihal nasib anak yang ada di dalam foto. Karena banyaknya pertanyaan pihak New York Times menuliskan sebuah cacatan editor untuk foto itu.

“Fotografer melaporkan bahwa bocah tersebut cukup pulih untuk melanjutkan perjalanan setelah burung bangkainya diusir."

Saya tidak tau apakah itu benar atau tidak, namun barangkali jika Kevin Carter benar-benar mengetahui nasib anak itu maka ia tidak akan bunuh diri dua bulan setelah hasil karyanya dirilis. 

Penyelewengan moralitas dalam jurnalistik tentang mengapa Kevin masih sempat mengambil foto dalam situasi seperti itu menjadi sebuah pertanyaan. Mereka mengatakan bahwa tidak seharusnya Kevin mengambil gambar, seharusnya ia langsung mengangkat dan memberinya makan. 

Tidak ada yang tau apa kesulihat yang dihadapi Kevin Carter setelahnya, mungkin saja batinnya sedang mengalami pergolakan yang luar biasa hebat hingga akhirnya memilih untuk bunuh diri. Bahkan kisahnya ditulis dalam sebuah buku dan dijadikan Dokumenter yang diberi judul, The Death of Kevin Carter: Casualty of the Bang Bang Club.

Kisahnya kemudian menjadi pelajaran berharga bagi dunia jurnalistik. 

"Kepedihan hidup menimpa kegembiraan sampai-sampai kegembiraan itu tidak ada." Tulis Kevin Carter di kursi penumpang bawah ransel saat melakukan aksi bunuh diri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...