Sudah hampir setengah tahun saya hidup di Madura namun masih terasa awam dengan masyarakatnya. Bagaimana saya bisa mengenal budaya, bahasa, dan tradisi jika setiap hari dihabiskan dalam ruang lingkup kampus dan kos-kosan yang mayoritas adalah suku Jawa. Bahkan terkadang saya tidak sadar kalau sedang berada di tanah orang.
Lalu akhirnya saya mendapat sebuah alasan untuk melakukan sebuah perjalanan.
Untuk pertama kali saya naik bis mini dengan kursi yang berdesakan dan udara yang pengap. Keringat bercucuran dari dahi hingga memenuhi wajah. Berulangkali saya berdoa semoga kendaraan ini segera berangkat karena sudah tidak kuat dengan panas di dalam bis.
Saya tidak bisa membayangkan sopir dan kernet bis yang menjalani rutinitas ini setiap hari. Wajah sang kernet ditutupi oleh kain hitam semacam masker. Ditambah dengan pakaian panjang yang menutupi seluruh bagian tubuh. Membuat saya beropini kuat bahwa baju seperti itu menambah panas dalam tubuh.
Tidak diragukan lagi mereka pasti sudah terbiasa dengan semua ini.
Perjalanan ini membawa saya bertemu dengan seorang seniman tari. Beliau adalah kakek-kakek yang memilih hidup berdampingan dengan seni, barangkali selama hidupnya hanya didekasikan kepada seni. Ada perkataannya yang terus terngiang-ngiang di kepala saya perihal seni itu indah, namun yang indah belum tentu seni. Hingga sampai kalimat itu saya tulis di bagian akhir dokumenter.
Saya menyukai seni, entah itu lukisan, tulisan, gambaran. Sehingga bertemu dengan beliau seakan menjadi kebetulan yang menyenangkan.
Itu juga membuat saya sadar bahwa selama ini Madura memiliki seni dan kisah-kisah legenda yang seru bila didengarkan dan dipelajari.
Sungguh, kemana saja saya selama ini?
Komentar
Posting Komentar