Langsung ke konten utama

Madura


Sudah hampir setengah tahun saya hidup di Madura namun masih terasa awam dengan masyarakatnya. Bagaimana saya bisa mengenal budaya, bahasa, dan tradisi jika setiap hari dihabiskan dalam ruang lingkup kampus dan kos-kosan yang mayoritas adalah suku Jawa. Bahkan terkadang saya tidak sadar kalau sedang berada di tanah orang.

Lalu akhirnya saya mendapat sebuah alasan untuk melakukan sebuah perjalanan. 

Untuk pertama kali saya naik bis mini dengan kursi yang berdesakan dan udara yang pengap. Keringat bercucuran dari dahi hingga memenuhi wajah. Berulangkali saya berdoa semoga kendaraan ini segera berangkat karena sudah tidak kuat dengan panas di dalam bis. 

Saya tidak bisa membayangkan sopir dan kernet bis yang menjalani rutinitas ini setiap hari. Wajah sang kernet ditutupi oleh kain hitam semacam masker. Ditambah dengan pakaian panjang yang menutupi seluruh bagian tubuh. Membuat saya beropini kuat bahwa baju seperti itu menambah panas dalam tubuh.

Tidak diragukan lagi mereka pasti sudah terbiasa dengan semua ini.

Perjalanan ini membawa saya bertemu dengan seorang seniman tari. Beliau adalah kakek-kakek yang memilih hidup berdampingan dengan seni, barangkali selama hidupnya hanya didekasikan kepada seni. Ada perkataannya yang terus terngiang-ngiang di kepala saya perihal seni itu indah, namun yang indah belum tentu seni. Hingga sampai kalimat itu saya tulis di bagian akhir dokumenter.

Saya menyukai seni, entah itu lukisan, tulisan, gambaran. Sehingga bertemu dengan beliau seakan menjadi kebetulan yang menyenangkan. 

Itu juga membuat saya sadar bahwa selama ini Madura memiliki seni dan kisah-kisah legenda yang seru bila didengarkan dan dipelajari. 

Sungguh, kemana saja saya selama ini?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...