Segala angan-angan dan khayalanku mengenai dunia perkuliahan sudah menjadi sebuah realita yang hampir terlewati selama satu semester ini. Realita itu mengubah caraku berpikir, caraku melihat, dan caraku menyelesaikan konflik. Gadis kecil yang dulu sering bertanya lebih dulu untuk mengambil keputusan kini sudah berdaulat atas setiap langkah yang diambilnya. Bahkan mendorong dan mendobrak ideologinya sendiri dan memunculkan pemikiran baru.
Ketika pertama kali menjalani ospek yang terfikir hanyalah betapa mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu, berapi-api dengan ideogi yang mereka bawa perihal tugas mahasiswa. Sorak sorai selalu terdengar dari awal hingga akhir acara, apakah semua mahasiswa seperti ini?
Mereka berteriak menjelaskan bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa, pembawa perubahan. Sayangnya aku tidak punya keberanian untuk bertanya langsung tentang perubahan apa yang dimaksud.
Kalimat itu sempat bertahan di kepalaku beberapa hari sebelum kutemui mahasiswa lain yang menghabiskan waktunya bersembunyi di ujung jalan sepi antara lelaki dan perempuan. Mahasiswa yang mendekati mabanya sendiri untuk mendapatkan kepuasan. Mahasiswa yang hanya peduli perihal nilai dan penilaian personal. Mahasiswa yang saling berebut citra baik dengan memanfaatkan kawan. Mahasiswa yang hanya senang memamerkan kekayaan. Mahasiswa yang sudah berpangkat tinggi lalu menyepelehkan yang ada di posisi rendah. Begitukah yang akan merubah bangsa?
Dilema melanda karena penilaian awamku terhadap mahasiswa adalah baik semua. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran penuh untuk melanjutkan pendidikan dan mematangkan pola pikir dan moral. Dan pastinya tidak semua demikian, naifnya pemikiran itu saat mengingatnya sekarang. Memalukan.
Aku benar-benar belajar banyak sekali di sini, hingga kutemukan jalan apa yang sebenarnya ingin kulewati.
Itu saja, terimakasih sudah membaca tulisan singkat ini.
Komentar
Posting Komentar