Langsung ke konten utama

Semester Pertama


Segala angan-angan dan khayalanku mengenai dunia perkuliahan sudah menjadi sebuah realita yang hampir terlewati selama satu semester ini. Realita itu mengubah caraku berpikir, caraku melihat, dan caraku menyelesaikan konflik. Gadis kecil yang dulu sering bertanya lebih dulu untuk mengambil keputusan kini sudah berdaulat atas setiap langkah yang diambilnya. Bahkan mendorong dan mendobrak ideologinya sendiri dan memunculkan pemikiran baru.

Ketika pertama kali menjalani ospek yang terfikir hanyalah betapa mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu, berapi-api dengan ideogi yang mereka bawa perihal tugas mahasiswa. Sorak sorai selalu terdengar dari awal hingga akhir acara, apakah semua mahasiswa seperti ini? 

Mereka berteriak menjelaskan bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa, pembawa perubahan. Sayangnya aku tidak punya keberanian untuk bertanya langsung tentang perubahan apa yang dimaksud. 

Kalimat itu sempat bertahan di kepalaku beberapa hari sebelum kutemui mahasiswa lain yang menghabiskan waktunya bersembunyi di ujung jalan sepi antara lelaki dan perempuan. Mahasiswa yang mendekati mabanya sendiri untuk mendapatkan kepuasan. Mahasiswa yang hanya peduli perihal nilai dan penilaian personal. Mahasiswa yang saling berebut citra baik dengan memanfaatkan kawan. Mahasiswa yang hanya senang memamerkan kekayaan. Mahasiswa yang sudah berpangkat tinggi lalu menyepelehkan yang ada di posisi rendah. Begitukah yang akan merubah bangsa?

Dilema melanda karena penilaian awamku terhadap mahasiswa adalah baik semua. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran penuh untuk melanjutkan pendidikan dan mematangkan pola pikir dan moral. Dan pastinya tidak semua demikian, naifnya pemikiran itu saat mengingatnya sekarang. Memalukan.

Aku benar-benar belajar banyak sekali di sini, hingga kutemukan jalan apa yang sebenarnya ingin kulewati.

Itu saja, terimakasih sudah membaca tulisan singkat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...