Guruku pernah mengatakan untuk jangan menjadi seorang pelukis. Menjadi pelukis adalah pilihan hidup untuk menjadi miskin, perjalanannya akan sulit. Seorang pelukis sejati pastilah tidak lahir dengan segala kemudahan, sebab lukisan yang bernilai membawa misteri pesan yang tersirat.
Aku sempat tak terima karena ia menjadikan uang sebagai nilai ukur dalam suatu seni. Memang benar secara umum seni akan dihargai jika nilai uangnya tinggi. Akan tetapi dalam kesederhanaannya, aku tak perlu uang untuk mengukur hasil seni yang kubuat. Entah itu adalah karya terburuk yang pernah orang lain lihat, ataupun sebaliknya.
Menghasilkan karya seni bukanlah untuk kepuasan orang lain melainkan untuk kelapangan hati pencipta seni itu sendiri.
Ia kemudian melanjutkan dengan mengambil contoh kehidupan Van Gogh. Kurang apa dedikasi Van Gogh dalam mengartikan sebuah lukisan. Ia bahkan marah ketika berada di tempat yang menjadikan seni sebagai komoditas. Namun tetap saja pada saat itu karyanya sama sekali tidak bernilai.
Apalah balasan seni untuk kehidupannya? Ia memotong telinganya sendiri kemudian mengabadikannya dalam lukisan. Lalu berakhir dengan bunuh diri. Bahkan sampai di akhir hidup lukisannya tetap tidak bernilai. Karya-karyanya baru bernilai setelah beberapa tahun kematiannya, itupun dikenal karena berdampingan bersama kisah hidupnya yang tragis.
Jadi, jangan pernah menjadi seorang seniman.
Aku hanya menatapnya dalam diam, mencerna baik-baik setiap kalimat yang ia ucapkan. Begitukah penilaiannya perihal seni? Padahal setelahnya aku tau ia juga menyukai seni.
Komentar
Posting Komentar