Langsung ke konten utama

Seni Lukis


Guruku pernah mengatakan untuk jangan menjadi seorang pelukis. Menjadi pelukis adalah pilihan hidup untuk menjadi miskin, perjalanannya akan sulit. Seorang pelukis sejati pastilah tidak lahir dengan segala kemudahan, sebab lukisan yang bernilai membawa misteri pesan yang tersirat.
Aku sempat tak terima karena ia menjadikan uang sebagai nilai ukur dalam suatu seni. Memang benar secara umum seni akan dihargai jika nilai uangnya tinggi. Akan tetapi dalam kesederhanaannya, aku tak perlu uang untuk mengukur hasil seni yang kubuat. Entah itu adalah karya terburuk yang pernah orang lain lihat, ataupun sebaliknya. 

Menghasilkan karya seni bukanlah untuk kepuasan orang lain melainkan untuk kelapangan hati pencipta seni itu sendiri. 

Ia kemudian melanjutkan dengan mengambil contoh kehidupan Van Gogh. Kurang apa dedikasi Van Gogh dalam mengartikan sebuah lukisan. Ia bahkan marah ketika berada di tempat yang menjadikan seni sebagai komoditas. Namun tetap saja pada saat itu karyanya sama sekali tidak bernilai. 

Apalah balasan seni untuk kehidupannya? Ia memotong telinganya sendiri kemudian mengabadikannya dalam lukisan. Lalu berakhir dengan bunuh diri. Bahkan sampai di akhir hidup lukisannya tetap tidak bernilai. Karya-karyanya baru bernilai setelah beberapa tahun kematiannya, itupun dikenal karena berdampingan bersama kisah hidupnya yang tragis.

Jadi, jangan pernah menjadi seorang seniman.

Aku hanya menatapnya dalam diam, mencerna baik-baik setiap kalimat yang ia ucapkan. Begitukah penilaiannya perihal seni? Padahal setelahnya aku tau ia juga menyukai seni. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...