Aku tidak tau mau menyebutnya kualat atau tantangan. Hari sudah malam, awan mendung menyelimuti hampir seluruh daerah. Bapak temanku di masa SMA meninggal, aku sudah bilang akan ikut datang melayat. Sengaja tidak mau memakai mantal hujan, nekat menerobos gerimis dan menghiraukan himbauan orang tua untuk tidak usah datang.
Tidak etis rasanya tiba-tiba membatalkan. Jadi walau gerimis aku nekat keluar.
Baru beberapa meter perjalanan hujan semakin lebat. Aku meminggirkan sepeda mencari tempat berteduh. Sialnya, aku mulai berpikir mungkin lebih baik mengikuti perkataan orang tua dan berdiam nyaman di rumah.
Dua kali aku berhenti di tempat berbeda karena hujan sebelum akhirnya berhasil sampai di rumah temanku untuk ke lokasi bersama. Rumahnya cukup jauh, Nogosari. Bagian Timur wilayah pacet yang sepi dan sunyi.
Lalu saat perjalanan dimulai aku sadar kalau pilihanku sudah benar. Jika tidak keluar aku tidak akan mengobrol panjang. Tidak akan tau kronologi meninggalnya ayah temanku itu. Juga tidak tau kabar mereka yang dulu tidak dekat.
Komentar
Posting Komentar