Ketika membaca bahwa penyakit berasal dari 90 persen pikiran negatif dan 10 persen dari pola makan saya tak acuh apakah penelitian itu valid atau tidak. Akan tetapi setelah kejadian ini saya mengamini kalau pikiran memang mempengaruhi reaksi tubuh. Begini ceritanya.
Saya sudah tidak tahu harus berbuat apa, nafasnya tidak teratur, tangan kanan dari pundak hingga ujung kuku mengkaku. Selama saya menangani siswi sakit semasa SMA, tidak pernah dihadapkan langsung dengan peristiwa seperti ini. Ditambah ilmu kesehatan yang saya punya sebenarnya minim, ekstra kulikuler PMR yang saya geluti semasa SMA juga tidak berjalan optimal sebab pembelajaran daring. Gadis di hadapan saya ini (Gita) katanya memang sering sakit-sakitan saat di sekolah, guru SMP pun sering mengantar pulang jika sakitnya kambuh.
Saat itu jilbabnya saya lepas, rambut hitam dengan potongan pendek khas laki-laki terlihat jelas. Ikat pinggang saya longgarkan, sepatu dan kaos kaki saya copot. Gita terus mengatakan bahwa tangannya tidak bisa digerakkan, dadanya sakit ketika mengambil napas. Mendengar itu saya menduga bahwa dia memiliki asma (sesak nafas) ditambah juga tangan kanannya mengalami kram. Sebab baru sebentar siku kanannya saya pegang, ia merintih kesakitan.
Dulu ketika guru PMR saya menangani siswi sesak napas, penderita di dudukkan di luar ruangan yang berangin. Lalu membantunya agar tidak panik, nafasnya pun dituntun perlahan. Namun ketika saya coba, itu tidak bisa menenangkan Gita, dia malah fokus pada rasa sakit di tangan dan dada.
Singkat cerita ia di bawa ke Puskesmas, saya kira Gita akan segera ditangani saat sampai. Namun ternyata tidak seperti itu. Petugas yang berjaga di UGD menanyai banyak hal, kemudian kami menjelaskan secara singkat kalau di sekolah sedang ada pelatihan PBB dadakan dari koramil setelah kegiatan pramuka, saya pun menjelaskan kembali kronologi Gita.
Setelah oksigen dipasang dan diperiksa sebentar, petugas UGD mengatakan kalau Gita mengalami kram dan harus melawan rasa sakit agar tangannya mau digerakkan. Beliau juga mengatakan kalau Gita memendam sesuatu yang tidak dilampiaskan, sehingga sakit yang awalnya bisa sembuh dengan mudah malah jadi susah. Dia disuruh menangis kencang namun tidak ia lakukan. Kemudian saya memancingnya agar bercerita tapi hanya sedikit yang saya dapat.
Beberapa saat kemudian temannya datang, kami mengobrol sebentar. Singkat cerita Gita memang memiliki masalah, entah apa yang mengganggu pikiranya. Ada banyak faktor, barangkali mungkin karena orang tua, kekerasan yang Gita alami dari keluarga (kata temannya), pertemanan, atau hal lain yang tidak pernah ia ungkapkan. Asumsi itu semakin kuat setelah saya tau bahwa luka pada ruas jari bagian kanan diciptakan oleh dirinya sendiri. Entah apa yang ia pukul hingga sampai menghasilkan luka seperti itu serta apa alasannya. Sayangnya, ketika saya tanyakan dia hanya diam saja.
Dari Gita saya belajar bahwa ada bagian lain dari diri manusia yang terluka namun bagian itu tak terjamah oleh indera penglihatan manusia. Luka itu kalau tidak segera disembuhkan akan menjalar dan mempengaruhi kestabilan tubuh. Sayangnya tak bayak orang menyediakan layanan penyembuhan untuk luka macam itu.
Semoga saja dia lekas sembuh.
Komentar
Posting Komentar