Langsung ke konten utama

Pandangan Makna Emosi Menurut Jean Paul Sartre

Judul           : Theory of the Emotions

Penulis        : Jean-Paul Sartre

Penerbit       : Ecosystem Publising

Tahun terbit  : 1962 (Prancis)
                         2017 (Indonesia)

ISBN              : 978-602-1527-20-7

Halaman       : 100


“Emosi timbul ketika mereka memilih untuk memandang dunia dengan suatu cara tertentu, yaitu secara ajaib.”


Ungkapan ini sesuai dengan realita sekarang utamannya pada generasi z, yang sering menjadi fokus menarik untuk diperhatikan. Banyak kejadian menimpa generasi ini salah satunya tentang kesehatan mental dan pengendalian emosi. Mereka rawan mengalami krisis emosi (mental). 

Nah, dalam buku Jean Paul Sartre yang berjudul Theory of the Emotions ini membahas tentang pengendalian emosi yang ada pada manusia. Bagaimana dalam pendapatnya Jean Paul mengatakan bahwa emosi bukanlah bagian inti dari manusia, sehingga memiliki karakter yang tidak tetap. Dalam hal ini yang dimaksudkan Sartre terkait emosi bukan bagian utama pada diri manusia, melainkan ide-lah yang menjadi bagian inti dari manusia itu sendiri. Selain itu ketika setiap individu mendapatkan klaim bahwa emosi bukan karakter tetap artinya tiap individu memiliki emosi nya masing-masing, baik mereka yang memiliki over emotion atau minim emosi. Sedangkan ketika manusia merasakan emosi yang tidak sesuai, artinya mereka mengalami kerusakan dalam system kontrol yang terjadi. Hal itu bisa disebabkan oleh faktor eksternal antara lain seperti kekecewaan atau trauma.

Contoh kongkrit dari penjelasan tersebut, bisa kita lihat dalam kehidupan sekitar. Kerap kali muncul informasi atau berita di media sosial perihal anak yang melakukan tindakan bunuh diri sebab tidak diberikan izin oleh orang tua untuk bermain ponsel. Dalam hal ini, emosi yang dimaksud adalah wujud dari tindakan yang telah dilakukan. Ia melakukan tindakan tersebut tanpa memperkirakan akibat yang akan terjadi.

Sehingga gambaran seperti inilah yang menjadikan generasi z selalu digadang-gadang sebagai generasi strawbery. Di mana pada generasi ini, mereka memiliki ketahanan mental yang lembek (lemah), tidak mampu menerima kritik, bahkan kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan level agak berat.

Sebenarnya tidak masalah jika orang tua zaman sekarang mementingkan kesehatan mental anak, atau menggunakan gaya parenting modern, namun ada baiknya jika orang tua tetap memberikan batasan, tidak memberikan pemakluman secara berlebih. Contohnya seperti ketika seorang anak meminta kepada orang tua untuk membeli mainan yang sudah pernah dibeli dan orang tua menuruti karena tidak tega melihat anak menangis. Karena hal tersebut yang justru membuat anak akan lebih mudah marah, susah mengontrol nafsu, atau bahkan merasa kecewa berlebih ketika mengalami penolakan. 

Dari penjelasan tersebut terlihat jelas bagaimana pandangan Sartre mentranslate fenomena tertentu yang dikemas dalam sebuah teori khusus. Ia juga menjelaskan ketika manusia lebih mengutamakan emosi daripada akal, mereka dianggap sebagai orang yang kurang cerdas, karena tidak memikirkan akibat dari tindakan yang telah dilakukan. 

Dijelaskan lebih dalam, pendapat yang dikembangkan oleh Jean Paul terkait pengendalian emosi yang melibatkan psikologis. Dalam konteks ini emosi manusia dipengaruhi oleh pengalaman yang pernah dialami sebelumnya, kita ambil contoh ketika ada seorang anak yang mudah marah hanya karena masalah sepele, bisa saja perilaku tersebut terjadi karena ketika berada di rumah orang tuanya memarahi jika anak melakukan hal yang sama. 

Dalam buku ini Sartre juga mengkritik teori milik Janet yang mengungkapkan bahwa emosi adalah kegagalan. Kegagalan yang dimaksud yakni saat manusia tidak mampu mengutarakan emosi yang dirasakan dengan perilaku yang diperlihatkan. Semisal saat seorang pasien mengalami rasa sakit sehingga reaksi yang diberikan adalah tangisan. Dalam peristiwa inilah keluarnya air mata ialah wujud dari proses emosi. Sedangkan menurut Sartre saat mengeluarkan air mata bukan berarti pasien mengalami emosi yang dibayangkan, yaitu rasa sakit. Namun bisa jadi pasien tidak ingin mengatakan lukanya sehingga hanya bisa diwujudkan dalam bentuk air mata. 

Sartre memberikan contoh lain yakni ketika seorang wanita mengungkapkan perasaan cintanya kepada lelaki yang disukai. Respon yang akan di tangkap setelah mendengar ungkapan cinta itu, lelaki tersebut pasti mengalami emosi yang seakan ingin melompat bahagia. Akan tetapi di sisi lain ia mempunyai kontrol penuh atas emosi yang akan ditunjukkan. Maka lelaki itu hanya diam dan tidak menunjukkan kebahagiaan itu kepada sang wanita. Namun di sisi lain, emosi tidak bisa disembunyikan secara penuh, maka lelaki itu hanya menunjukkan perhatian kecil, juga mengamati dari kejauhan. 

Emosi yang muncul di permukaan memang hasil keinginan dari subjek manusia itu sendiri. Akan tetapi di sisi lain emosi tidak dapan disembunyikan, emosi akan timbul tanpa sadar walau dalam skala kecil.

Buku ini terdiri dari 100 halaman, termasuk singkat dalam buku yang membahas sebuah teori. Sehingga langsung berfokus pada apa yang ingin disampaikan. Jean Paul juga memberikan contoh konkret dalam pembahasannya sehingga bisa memberikan gambaran pada pembaca. Akan tetapi, dengan penjelasan yang singkat sehingga menggunakan kalimat yang padat. Kata-kata asing seperti hodologis, percipient, dan heteroclite bertebaran di mana-mana tanpa dijelaskan lebih rinci lagi. Sehingga dapat membingungkan pembaca yang belum pernah mendengar kata tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...