Langsung ke konten utama

Freedom!


Kebebasan menjadi sebuah kata ajaib yang sampai saat ini masih saya cari artinya. Ketika tulisan ini dibuat saya mengartikan kebebasan adalah ketika manusia memiliki hak penuh atas keputusan dan keinginannya tanpa campur tangan pihak ketiga. Kenapa pihak ketiga? Karena saya menaruh Tuhan sebagai pihak kedua. Sebagai contoh, ketika saya begitu penasaran tentang rasa daging babi dan selalu terpikir untuk mencobanya maka aturan dari Tuhan yang akan mengerem rasa penasaran saya, yang di mana disebut sebagai hukum agama. Namun jika agama tak kau pegang, maka tak ada pendapat soal itu.

Jika dipikirkan memang ketika menjadi manusia bebas maka ia punya hak penuh untuk melakukan apa saja. Sebab bebas adalah kata lain bahwa manusia tak berada dalam tembok penghalang yang mengatur segala tingkah lakunya. 

Lalu apakah manusia takkan pernah bisa bebas?

Kita membahas perihal bagaimana menjadi manusia bebas. Seperti yang ada pada Teori Segitiga Maslow. Teori ini menjelaskan tingkatan-tingkatan yang dialami oleh manusia dibagi menjadi 5 kategori. Kategori paling bawah dimulai dari kebutuhan Fisiologis, Rasa Aman, Sosial, Penghargaan, dan yang paling atas ialah Aktualisasi Diri. 

Fisiologis atau kebutuhan dasar manusia. Manusia tak akan bisa bertahan hidup tanpa adanya kebutusan dasar yang dipenuhi, kebutuhan dasar tersebut bisa berupa makanan, air, oksigen, tidur, dan lain sebagainya. Manusia purba harus mempertaruhkan nyawa melalui seleksi alam yang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. Sebagian mereka harus pergi berburu berbulan-bulan melewati medan yang terjal agar bisa terus bertahan hidup. Hal mendasar ini harus bisa dipenuhi manusia untuk bisa melangkah ke tingkatan selanjutnya yakni rasa aman. Rasa aman muncul ketika manusia merasa tak akan terancam untuk punah. Juga tak terancam dengan entitas asing yang ada diluar dirinya. Sehingga setelahnya mereka naik ke tingkat selanjutnya yakni sosial. 

Ada yang mengatakan manusia merupakan makhluk sosial yang berarti tak dapat hidup sendirian. Kalimat itu bukan tanpa alasan, manusia memerlukan sebuah ikatan emosial yang dapat mendukung gairahnya untuk hidup. Dalam kategori ini manusia menjalin ikatan keluarga, sahabat, bahkan juga percintaan. Ketika kategori ini tidak dipenuhi maka bisa terjadi kehampaan atau stres, merasa sendirian dan tak diharapkan. Mereka yang berpacaran barangkali berada pada tingkatan sosial yang membutuhkan dukungan emosional. Sebab ketika dukungan tersebut didapat, maka tingkatan selanjutnya bisa dicapai. Yakni penghargaan. 

Dalam kategori ini melakukan suatu hal kemudian mendapat penghargaan berupa piala atau ucapan menjadi contoh sederhananya. Namun menghargai diri sendiri merupakan penghargaan yang tinggi. Manusia mulai mengenal dirinya, mereka tau apa yang tidak diketahui orang lain sehingga tidak mudah untuk dikontrol atau ikut-ikutan. Karena tau jika melakukan karena ikut-ikutan hanya akan membuang waktu. Hingga pada akhirnya dia mencapai tingkat yang paling atas, yakni aktualisasi diri. 

Pada kategori ini saya menyimpulkan bahwa manusia sudah mulai melakukan apa yang mereka inginkan. Di sinilah ideologinya terbentuk. Mereka akan sungguh-sungguh dengan apa yang mereka kerjakan. Tanpa memikirkan lagi penilaian orang lain dan mulai menciptakan hal baru. Mungkin dititik ini mereka menjadi manusia bebas. 

Ya, untuk menjadi bebas berarti mengerti apa yang sedang dilakukan.

Untuk menjadi manusia bebas saya mengamini bahwa tak perlu ada persaingan. Setiap manusia tumbuh dari biji yang berbeda-beda. Alhasil ketika dewasa memiliki hasrat yang bermacam-macam pula. Sehingga bebas menentukan jalan hidup sesuai apa yang mereka inginkan. Persaingan seakan hanya menyediakan satu jalan saja untuk dilewati. Saya tidak suka menganggap orang lain sebagai pesaing, saya lebih senang menyebutnya sebagai pembelajar. Baik bagi dirinya dan diri saya.

Akan tetapi nyatanya di kehidupan ini penuh dengan persaingan. Bahkan sejak kecil sampai dewasa persaingan ada di mana-mana, saling membandingkan. 

Alhasil ujung kebebasan bagi saya ialah ketika sudah terbebas dari semua persaingan. Bebas menjalani hidup dalam ideologi yang dianutnya sendiri tanpa berebut mana yang lebih baik. Melakukan sesuatu karena memang menginginkannya, bukan karena paksaan. Serta menerima semua konsekuensi dengan dagu terangkat. Dan itu masih belum sanggup untuk saya capai. 

Sedangkan kebebasan bagi orang lain bisa saja berbeda penafsiran.


Kamis, 20 Juni 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...