Jika dipikirkan memang ketika menjadi manusia bebas maka ia punya hak penuh untuk melakukan apa saja. Sebab bebas adalah kata lain bahwa manusia tak berada dalam tembok penghalang yang mengatur segala tingkah lakunya.
Lalu apakah manusia takkan pernah bisa bebas?
Kita membahas perihal bagaimana menjadi manusia bebas. Seperti yang ada pada Teori Segitiga Maslow. Teori ini menjelaskan tingkatan-tingkatan yang dialami oleh manusia dibagi menjadi 5 kategori. Kategori paling bawah dimulai dari kebutuhan Fisiologis, Rasa Aman, Sosial, Penghargaan, dan yang paling atas ialah Aktualisasi Diri.
Fisiologis atau kebutuhan dasar manusia. Manusia tak akan bisa bertahan hidup tanpa adanya kebutusan dasar yang dipenuhi, kebutuhan dasar tersebut bisa berupa makanan, air, oksigen, tidur, dan lain sebagainya. Manusia purba harus mempertaruhkan nyawa melalui seleksi alam yang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. Sebagian mereka harus pergi berburu berbulan-bulan melewati medan yang terjal agar bisa terus bertahan hidup. Hal mendasar ini harus bisa dipenuhi manusia untuk bisa melangkah ke tingkatan selanjutnya yakni rasa aman. Rasa aman muncul ketika manusia merasa tak akan terancam untuk punah. Juga tak terancam dengan entitas asing yang ada diluar dirinya. Sehingga setelahnya mereka naik ke tingkat selanjutnya yakni sosial.
Ada yang mengatakan manusia merupakan makhluk sosial yang berarti tak dapat hidup sendirian. Kalimat itu bukan tanpa alasan, manusia memerlukan sebuah ikatan emosial yang dapat mendukung gairahnya untuk hidup. Dalam kategori ini manusia menjalin ikatan keluarga, sahabat, bahkan juga percintaan. Ketika kategori ini tidak dipenuhi maka bisa terjadi kehampaan atau stres, merasa sendirian dan tak diharapkan. Mereka yang berpacaran barangkali berada pada tingkatan sosial yang membutuhkan dukungan emosional. Sebab ketika dukungan tersebut didapat, maka tingkatan selanjutnya bisa dicapai. Yakni penghargaan.
Dalam kategori ini melakukan suatu hal kemudian mendapat penghargaan berupa piala atau ucapan menjadi contoh sederhananya. Namun menghargai diri sendiri merupakan penghargaan yang tinggi. Manusia mulai mengenal dirinya, mereka tau apa yang tidak diketahui orang lain sehingga tidak mudah untuk dikontrol atau ikut-ikutan. Karena tau jika melakukan karena ikut-ikutan hanya akan membuang waktu. Hingga pada akhirnya dia mencapai tingkat yang paling atas, yakni aktualisasi diri.
Pada kategori ini saya menyimpulkan bahwa manusia sudah mulai melakukan apa yang mereka inginkan. Di sinilah ideologinya terbentuk. Mereka akan sungguh-sungguh dengan apa yang mereka kerjakan. Tanpa memikirkan lagi penilaian orang lain dan mulai menciptakan hal baru. Mungkin dititik ini mereka menjadi manusia bebas.
Ya, untuk menjadi bebas berarti mengerti apa yang sedang dilakukan.
Untuk menjadi manusia bebas saya mengamini bahwa tak perlu ada persaingan. Setiap manusia tumbuh dari biji yang berbeda-beda. Alhasil ketika dewasa memiliki hasrat yang bermacam-macam pula. Sehingga bebas menentukan jalan hidup sesuai apa yang mereka inginkan. Persaingan seakan hanya menyediakan satu jalan saja untuk dilewati. Saya tidak suka menganggap orang lain sebagai pesaing, saya lebih senang menyebutnya sebagai pembelajar. Baik bagi dirinya dan diri saya.
Akan tetapi nyatanya di kehidupan ini penuh dengan persaingan. Bahkan sejak kecil sampai dewasa persaingan ada di mana-mana, saling membandingkan.
Alhasil ujung kebebasan bagi saya ialah ketika sudah terbebas dari semua persaingan. Bebas menjalani hidup dalam ideologi yang dianutnya sendiri tanpa berebut mana yang lebih baik. Melakukan sesuatu karena memang menginginkannya, bukan karena paksaan. Serta menerima semua konsekuensi dengan dagu terangkat. Dan itu masih belum sanggup untuk saya capai.
Sedangkan kebebasan bagi orang lain bisa saja berbeda penafsiran.
Kamis, 20 Juni 2024
Komentar
Posting Komentar