Untuk kedua kali aku kembali mengunjungi Cendono. Sebuah nama bukit yang berada di wilayah Pacet bagian Barat, bukit yang bisa dibilang baru dibuka untuk jalur pendakian, yakni kurang lebih satu tahun belakang. Pada pendakian pertama, yaitu satu tahun yang lalu ketika rute baru saja di buka, aku terlalu meremehkan pendakian itu. Pikirku, Cendono hanyalah bukit baru yang tak terlalu tinggi dan cocok untukku yang tak punya pengalaman mendaki gunung sebelumnya, pastilah mirip seperti naik ke puncak Kraprak tempo dulu. Melelahkan, namun masih bisa dicapai.
Akan tetapi aku salah, meski hanya bukit, mendaki tetaplah mendaki. Dan kurasa tak perlu kujelaskan lebih rinci.
Lalu di pendakian kedua ini aku sama sekali tak berani meremehkan, dalam perjalanan ke rumah rekan pendakian (Sekar) aku telah menyiapkan diri untuk tersiksa atas kelelahan nanti. Namun sudah kuputuskan, bagaimana pun juga kita harus bisa sampai puncak.
Perjalanan pun dimulai dengan aku menjemputnya. Sembari menunggu, aku melihat di depan rumahnya terdapat sebuah ruko berisi pajangan gambar. Terakhir kali aku ke sana masih belum ada dua gambar epik yang menarik. Aku berdiri sembari memperhatikan dua gambar itu lamat-lamat, membuatku seketika teringat cerita tentang karya seni lukis pada abad Renaisans di Eropa. Masa di mana banyak seniman yang menjadikan manusia sebagai objek lukisan, sebagai sebuah keindahan dengan proporsi tubuh yang digambarkan telanjang. Sekaligus dijadikan pelarian untuk mewakili makna kebebasan.
Pukul setengah dua siang kita baru memulai perjalanan, di kepala dua orang ini, aku dan Sekar pastilah sudah sadar bahwa untuk kembali ke bawah akan memakan waktu hingga malam. Tapi mau bagaimana lagi, dua-duanya sudah merasa tertantang. Sehingga nekat sampai pucak tanpa senter ditambah baterai ponselku yang hanya tersisa dua puluh persen. Sehingga hanya mengandalkan ponsel milik Sekar yang sering dipakai untuk mengambil video dan gambar kita berdua selama perjalanan naik.
Jadi, aku baru tau kalu sekarang di Cendono telah di buka rute baru untuk mencapai pucak, ketika pertama di buka, puncak hanya di sediakan sampai bukitnya saja, yakni sampai 938 mdpl. Dan sekarang puncak bukit Cendono mencapai 1.131 mdpl.
Sekitar pukul setengah empat sore kita berhasil mencapai puncak bukit, di sana sudah berada lima orang perempuan yang beristirahat. “Gimana, lanjut puncak?”
“Aku penasaran, mumpung di sini. Ayo lanjut aja," ujarku.
Dengan kenekatan tanpa pikir panjang kita memutuskan untuk menambah ketinggian. Perkiraan awal hanya perlu waktu setengah jam lagi untuk mencapai puncak yang ke dua, tapi apa daya. Kakiku sedikit terasa sakit tidak seperti sebelumnya, perkiraan waktu itupun molor entah berapa lama. Di tambah semakin lama, matahari semakin tidak terlihat, tentu saja keduanya merasa was-was tanpa ada yang mengucap.
Kurang lebih setengah lima kita berhasil mencapai puncak yang kedua, Sekar mengatakan agar tidak istirahat terlalu lama di sini, karena kita memang sudah kemalaman. Aku pun setuju, alhasil kita berencana beristirahat sambil mengambil beberapa foto dan video dengan cepat.
Akan tetapi, beberapa menit kemudian tiga orang laki-laki datang, mereka mengaku dari pondok yang tiba-tiba merasa penasaran ke puncak Cendoro setelah selesai melakukan Jumat bersih di Masjid. Dalam hati kita berdua merasa lega karena tidak akan turun berdua saja. Padahal tadi aku sudah menyiapkan mental jika harus turun hanya berdua.
Ketiga orang itu bernama Alvin, Fajar, dan Armed. Alvin seusia kita berdua, dia juga teman SD dari salah satu teman SMA kita, sehingga ada saja obrolan yang dibahas. Sedangkan Fajar dan Armed satu tahun lebih tua, Fajar berasal dari Lampung sedangkan Armed dari Palu. Mereka mendapat beasiswa di salah satu Pondok Pesantren yang ada di wilayah Pacet.
Tak terasa kami mengobrol hingga pukul enam. Saat itu hembusan angin sudah semakin dingin, dinginnya sampai menembus jaket yang aku pakai. Karena sudah tidak kuat, akhirnya aku mengajak untuk turun. Satu hal yang luar biasa, hanya perlu waktu dua jam kurang untuk sampai ke bawah. Padahal ketika naik kita berdua butuh waktu tiga jam lebih, dua kali lipat lebih lama. Dan itu dilalui dengan susah payah.
Juli 2024
Komentar
Posting Komentar