Suara motor lalu-lalang melewati warung makan sebelah jalan. Melihat matahari yang sudah mengarah ke Barat sepertinya menjadi alasan banyak kendaraan yang lewat. Mahasiswa sudah mulai ramai keluar dari gerbang, warung makan ini pun silih berganti kedatangan pembeli, yang kebanyakan dari mereka membeli ayam geprek dengan gratis es teh (jika makan di tempat), menu andalan saya sejak awal warung makan ini dibuka, mungkin sekitar setengah tahun yang lalu. Pun tak jarang ketika selesai kuliah saya mampir ke sini seorang diri.
Akan tetapi kali ini berbeda, seorang perempuan duduk di samping saya dengan memesan menu yang sama. Sesaat kita saling diam menikmati makanan masing-masing.
Sekilas bagi yang belum mengenal, wajah perempuan itu terkesan judes, tak ramah. Namun setelah mengobrol dengannya, barulah tau bahwa wajahnya tak selalu menggambarkan persis seperti karakter yang dia punya. Dia tetap merespon ketika ditanya, meskipun terkadang hanya dengan satu sampai dua kata. Berhubung saya sudah mengobrol banyak, dia menanggapi obrolan saya dengan nyaman. Dan ketika dia nyeletuk saat melihat pengendara perempuan lewat membuat obrolan kita semakin mengalir begitu saja. "Kenapa ya, perempuan yang dibedak'i itu cuma wajahnya saja?"
Sambil tertawa kecil saya menjawab, "ya kan memang begitu umumnya, untuk wajah."
"Kenapa nggak lehernya juga gitu, coba liat anak tadi. Lehernya item tapi wajahnya putih." Ujarnya santai.
Sebenarnya saya tidak ada niatan untuk membela peristiwa langka yang sialnya sering terlihat mata itu. Namun saya masih membalas argumennya. "Ya masak nanti kalau lehernya iya, tangannya juga, terus ke kaki. Semuanya? Kan repot nanti, habisin bedak."
"Ya tetap aja." Jawabnya sambil melahap nasi.
Sungguh, memang aneh perempuan jutek ini. Lagi, beberapa saat kemudian dia kembali bergumam, "cantik." Saya reflek menoleh, nampak laki-laki dan perempuan yang berboncetan, sayangnya mereka membelakangi, jadi saya tidak bisa melihat wajahnya. Selang beberapa detik dia melanjutkan kata, "motornya. Eh tau tidak, aku pernah pingin beli motor kayak gitu tapi nggak boleh sama nenek. Alhasil beli motor matik."
Motor yang dia maksudkan kurang lebih seperti ini.
Gila (batin saya), memang sejak awal perempuan ini agak lain. Ia adalah perempuan yang sedikit tomboi, terlihat oleh pakaian yang sedang digunakan. Di saat banyak perempuan berseliweran menggunakan gamis, rok, kulot, dan kemeja rapi nan cantik. Dia sehabis matkul hanya menggunakan celanan hitam (cocok untuk jogging), kaos lengan panjang, dan tas berwarna emas yang kecil. Lagi lagi, memang agak lain perempuan ini.
Kami mengobrol banyak hal yang ngalor-ngidul. Saya sampai lupa sudah membahas apa saja. Hanya yang paling teringat adalah saat obrolah diakhir karena saya pamit pulang sebab anak kecil pemilik warung mendekat dan tiba-mau menggigit kaki saya. Mungkin niatnya hanya ingin bermain, dengan cara bersembunyi di bawah meja, memukul kaki saja kemudian ganti ingin menggigitnya. Alhasil sudahlah, saya pulang saja. Pulang dengan membawa bekas di celana kulot putih saya. Bekas yang membuat saya berharap sepanjang jalan kalau itu bukan air liurnya. (Pasti bukan sih, saya masih yakin hingga menulis ini).
Oh ya, nama perempuan itu Riham Ali, panggilannya Riham. Namun kelakuannya lebih condong ke Ali.
Komentar
Posting Komentar