Langsung ke konten utama

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (Resensi Buku)


Judul buku: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! 

Tahun terbit: Oktober 2003 (Cetakan 1)

Penerbit: ScriPtaManent

Penulis: Muhidin M. Dahlan

Jumlah: 318 halaman


Bagaimana cara saya memberi gambaran jelas tanpa anda membaca bukunya?


Kiran, tokoh utama yang diawal cerita bertemu dengan sahabat lama ketika masih di pondok lalu menyeret dan melakukan pengakuan bahwa sekarang ia adalah seorang pelacur, tubuhnya sudah di jamah oleh banyak lelaki diluaran sana. Mendengar itu sahabatnya terkejut, apa yang dialami Kiran selama ini hingga berani berbuat dan berkata semacam itu? 

Begitulah kiranya prolog buku ini dimulai.

Dulu ketika dipondok, Kiran dikenal sebagai perempuan yang taat pada perintah agama. Kiran selalu bersama dengan sahabatnya, keduanya haus akan ilmu agama dan ibadah, forum-forum islami pun diikuti agar dahaganya terisi. Hingga suatu ketika, Kiran ditinggal oleh sahabatnya. Dari situ mulailah kesendirian membuatnya bergejolak, tak ada lagi yang bisa diajak berdiskusi, beribadah, dan melakukan kebaikan bersama. 

Hari-harinya terasa datar sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria yang menjadi teman diskusi di sebuah forum. Pikirnya saat itu pria ini sangat cerdas, tegas, dan memiliki kemampuan mengatur kalimat yang baik. Omongannya seakan bisa menghasut siapa saja untuk percaya dan mengamini hal yang dikatakan. Tak terkecuali Kiran, yang akhirnya bergabung pada organisasi yang dianut oleh pria tersebut. 

Dalam organisasi itulah kesehariannya disibukkan untuk berdakwah, mencari penganut lebih banyak lagi. Menyebarkan ideologi yang mereka bawa tentang negara islam, negara yang berdasarkan syariat Islam sepenuhnya. Kala itu tahun 90an, banyak huru-hara yang sedang terjadi di Indonesia. Tak hanya ideologi negara Islam, penganut komunis pun dikabarkan sedang merajalela. 

Hingga suatu ketika, organisasi mereka berantakan karena di labeli sebagai aliran sesat. Masyarakat mengucilkan dan mencemooh penganut organisasi tersebut. Kiran yang merasa ini masa-masa kritis berharap organisasinya bisa semakin kuat dengan saling mendukung sesama anggota. Namun, banyak diantara mereka justru lari menyelamatkan dirinya sendiri.

Hingga di satu titik, Kiran juga ikut melarikan diri. 

Kecewa, kesal, sesal, dan amarah, semua bercampur jadi satu. Kiran mengutuki Tuhan dengan berbagai cemooh, mengapa bisa jadi begini hidupnya. Padahal selama itu ia menyebarkan syariat Tuhan, mengapa justru Tuhan mengkhianatinya dengan kesusahan. Karena merasa dikhianati itulah, Kiran memulai langkah perlawanan. 

Perlawanan melawan apa yang dilarang oleh Tuhan.

—Pagi benar-benar telah datang seperti sedia kala. Dan hari ini aku akan turun kembali menemui hidup. Aku, sang nabi kejahatan, akan menemui kehidupan bumi yang makin lama makin gelap. Nantikan aku manusia-manusia! aku, sang nabi kejahatan, sang putri api, akan terus mengganggu, menyobek-nyobek, dan membakar topeng-topeng kemunafikan hidupmu. Tunggu saja, aku segera datang.— (Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur)


Buku ini benar-benar menarik bagi saya. Sebuah ketertarikan yang entah dari mana asalnya. Saya semakin yakin ada batas tipis antara cinta dan benci. Kiran adalah wujud kekecewaan cinta yang melahirkan kebencian murni. Murni karena dia merasakan sendiri sebuah pengkhianatan. Namun di sisi lain, bukankah kecewa/khianat timbul karena ekspektasi manusia itu sendiri. Sedari awal Kiran memiliki kepercayaan bahwa dia sudah berjalan bersama Tuhan, maka dia yakin seratus persen kalau takdirnya akan mudah. Bahkan mudah itu sudah ditafsirkan sendiri olehnya sedemikian rupa. Dan ketika dobrakan takdir yang dia anggap buruk itu datang, semua angan-angan hancur beterbangan. 

Titik balik di mana dukungan menjadi perlawanan.

Sebuah hubungan rumit antara Tuhan dengan manusia yang berlabel pendosa. Bahkan ditengah-tengah melakukan dosa, manusia itu masih mengingat Tuhannya, meski dengan perasaan berbeda. Hal itu membuat saya teringat ucapan bapak suatu malam agar selalu berbuat baik kepada siapa saja, kita tak pernah tau apa yang ada di dalam hati seseorang. Bisa saja, orang yang dianggap paling berdosa sekalipun lebih sering mengingat Tuhan daripada mereka yang memberi peringatan tentang hukum Tuhan siang dan malam. 

Bisa saja, karena manusia tak tau apa-apa.

Mungkin ketika senggang, saya sarankan membaca buku satu ini. Tentu saja tanpa paksaan.


Jumat, 6 September 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...