Aku menatap sendu kearah hujan yang turun di balik kaca jendela. Melihat dirimu yang seolah menari di sana, dan membayangkan diriku yang tertawa bahagia melihatnya. Apakah kau masih ingat, Kayra? Dulu kau berkata akan selalu mengajakku bermain hujan, jika hujan turun di hadapanmu.
Lantas lihatlah sekarang, Kayra. Hujan turun di hadapanku namun terlihat dengan matamu. Bukankah itu berarti hujan turun di hadapanmu? Lalu mengapa kau tidak mengajakku bermain hujan?
Aku mohon kembalilah. Aku sangat merindukanmu.
Jika saja kesempatan menghampiriku untuk bisa bicara padamu. Pertama aku akan memarahimu! Lalu menanyakan, "Mengapa kau lakukan ini semua padaku?
Namun sebelum menanyakan itu, aku akan menceritakan pada semua tentang pengorbananmu. Agar dunia tau dan berpikir sama denganku, bahwasanya hidupmu lebih penting dari hanya sepasang bola mataku ini.
Pagi itu kau berkata padaku bahwa siang nanti kita akan memilih gaun pengantin, ya, kita akan segera menikah. Kau berkata dengan penuh semangat dan gembira, sedang aku hanya tersenyum sambil mengiyakan.
Engkau adalah gadis yang ceria, Kayra. Hanya dengan melihatmu bicara lelahku bisa hilang. Dan hanya dengan melihatmu tertawa marahku bisa berkurang.
Ingatkah kau, Kayra. Dulu aku pernah memarahimu lantaran kau bermain hujan saat badanmu tidak sehat. Dan kau hanya tersenyum sambil berkata, "Tenang saja, aku dan hujan adalah sahabat. Jadi ia tidak akan membuatku bertambah sakit." Mendengarmu seperti itu, jujur saja aku ingin berkata bahwa hujan tidak sebaik yang kau katakan. Namun aku urungkan saat melihat bibirmu yang membiru. Segera aku menyuruhmu untuk mengganti pakaianmu.
Temanku pernah berkata, aku beruntung mendapatkanmu. Dan ya, aku mengakui itu. Tapi aku berpikir dan bertanya. Apakah engkau, Kayra, juga merasa beruntung mendapatkanku? Lantaran diriku yang tidak pernah memberikan hal romantis yang biasa perempuan harapkan. Karena sungguh, aku tidak bisa bersikap romantis.
Aku pernah mencobanya, dan kau tertawa terbahak bahak saat aku memberikanmu sebuah kata romantis yang berbunyi: Awan adalah Kayra, sedang diriku adalah langit. Dahiku mengerut tanda bertanya apa yang membuatmu tertawa seperti itu. Lalu kau berkata seolah mengerti apa yang aku tanyakan, "Kalimatnya lucu, apalagi di tambah ekspresi kamu yang kayak gitu?"
Saat itu aku benar-benar tidak mengerti, ekspresiku seperti apa hingga membuatmu tertawa mendengar kata itu. Tetapi aku hanya diam, agar bisa menikmati suara tawamu yang mengalun merdu di telingaku. Lalu menyimpan baik-baik wajah ceriamu yang aku tak tau, apakah tawa itu akan bisa aku jaga nantinya.
Kau juga pernah bertanya padaku, "Apakah yang tersisa dari hidup setelah kehilangan?" Namun aku berkata tidak tau, dan menyuruh kau menjawabnya, tetapi kau juga berkata tidak tau karena kau belum pernah merasakannya. Aku tertawa mendengar jawabanmu, dan kamu pun sama. Saat itu aku merasa sangat bahagia bisa tertawa bersamamu, Kayra.
Hingga, peristiwa itu menghancurkan semua kebahagiaan kita. Aku tidak menyalahkan Tuhan, karena membuat diriku kecelakaan dan tidak bisa lagi melihat dengan bola mataku sendiri. Aku justru menyalahkan takdir, mengapa takdir mempertemukan aku denganmu jika telah tau bahwa aku akan membuat dirimu menderita karena takdirku.
Waktu itu aku mendengarmu menangis dengan begitu hebatnya.
Aku sudah gagal, Kayra, aku telah membuatmu menangis seperti itu bahkan sebelum kita menikah. Meskipun mataku tertutup, aku bisa melihat wajahmu yang penuh dengan air mata di hadapanku.
Tanganku mengepal dengan kuat, sebab rasa sakit di hatiku karena mendengar tangismu. Aku berusaha meyakinkan dirimu agar berhenti menangis seperti itu, namun kau mengeluarkan kalimat yang langsung membuatku membisu, "Apa gunanya aku melihatmu lagi, sedangkan dirimu tidak bisa melihatku sama sekali."
Aku merasa waktu itu kau ingin meninggalkanku, Kay. Dan aku sadar itu, bahwa laki laki sepertiku ini hanya bisa membuat pasangannya menderita. "Jika kamu tidak ingin melihatku lagi, maka silahkan pergi. Aku tidak menahanmu agar bisa terus bersamaku yang cacat ini." Kalimat itu aku keluarkan dengan rasa perih yang menggerogoti hati. Setelah itu aku mendengar langkah kaki yang perlahan pergi.
Saat itu jiwaku telah hilang, Kayra. Hilang bersama langkah kakimu yang perlahan pergi, dan hilang saat aku mengizinkanmu meninggalkanku.
Hingga, hari-hari berikutnya aku jalani hidup tanpa jiwa, dan tenggelam dalam nestapa.
Ketika harapanku akan hidup telah redup. Dokter mengatakan bahwa aku mendapatkan donor mata. Aku senang saat itu walaupun tidak sesenang mendengar kamu kembali padaku. Aku berpikir akan menemuimu saat aku sudah bisa melihat lagi. Bukan untuk memintamu agar kembali lagi padaku, tetapi meminta senyummu agar bisa kusimpan dalam memoriku untuk terakhir kali.
Beberapa bulan kemudian aku datang ke rumahmu, aku mengetuk dan berharap kau berkata rindu padaku, seperti aku rindu padamu. Namun yang membuka pintu justru bukan dirimu, aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya.
Aku bertanya kau dimana, Kayra. Tetapi orang itu berkata tidak mengenal namamu, aku ingin marah saat itu. Bagaimana dia tidak mengenal nama orang yang tinggal di rumah ini. Namun aku urungkan saat tetanggamu, yang sering kau ceritakan padaku seperti saudaramu sendiri itu memanggil namaku.
Dia berkata bahwa aku tidak akan pernah lagi bisa bertemu denganmu. Aku ingin menjawab bahwa aku akan selalu mencarimu dimanapun itu, namun kalimat selanjutnya membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Dia berkata, "Kayra telah tiada." Aku mengelak kenyataan itu dalam pikiranku, tidak mungkin kau meninggalkanku di dunia ini kan, Kayra.
Orang itu melanjutkan bicaranya saat melihatku yang hanya diam mematung.
"Saat Kayra berpisah denganmu, dia menjadi berbeda. Tak ada lagi ceria yang selalu dia tunjukkan, dan tak ada lagi tawa yang ia keluarkan. Kayra seolah mati, tetapi tubuhnya hidup. Hingga suatu hari ia berkata bahwa lebih baik dirinya yang tidak bisa melihatmu lagi, daripada kamu yang tidak bisa melihat sama sekali. Waktu itu saya bingung dengan apa yang di maksud Kayra. Hingga kejadian yang tidak saya duga terjadi, dia kecelakaan parah dan meminta dokter untuk mengambil matanya agar diberikan padamu. Dan, nyawa Kayra tidak bisa selamat."
Aku menatap orang itu yang sedang menahan tangisnya. Sedangkan diriku tak mampu lagi berkata.
Apakah kau tau apa yang lebih sakit daripada membiarkanmu pergi dariku? Yaitu kau, yang membiarkan diriku tenggelam dalam nestapa seumur hidupku seorang diri.
Dan aku membuktikannya sekarang. Sudah bertahun tahun lalu dirimu meninggalkanku, namun kenanganmu tak bisa lepas dari diriku, atau mungkin karena matamu ini, yang tak mau aku tidak melihat kenangan tentang kebersamaan kita selama itu.
Dan sekarang aku bisa menjawab pertanyaanmu dulu, Kayra.
Apa yang tersisa dari hidup setelah kehilangan?
Yang tersisa dari hidup setelah kehilangan adalah, kenangan sebelum hilang.
Cerpen lama, saking lamanya saya jadi geli bacanya.
Februari 2021
Komentar
Posting Komentar