Langsung ke konten utama

Temukan Arti Perjalanan (Resensi Buku Ziarah - Paulo Coelho)

Judul : Ziarah (The Pilgrimage)

Penulis : Paulo Coelho 

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 

Tahun terbit : 2011

Halaman : 264


"Tempat teraman untuk kapal adalah dermaga, tapi bukan itu alasan kapal dibuat." (Petrus, hal 31)

Menempuh jalan kebajikan bukanlah satu hal yang mudah. Dalam buku ziarah, sang pemeran utama yakni Paulo, melakukan perjalanan sejauh 500 mil. Perjalanan tersebut mengarah ke kuil rasul James di katedral Santiago de Compostela, arah barat laut Spanyol. Rute ini menjadi jalan ziarah utama umat kekristenan pada abad pertengahan. 

Cerita dimulai ketika Paulo hendak di angkat menjadi guru dan kesatria Ordo melalui ritual tradisi. Dalam ritual, Paulo akan diberikan pedang oleh sang guru. Dengan perasaan bahagia dan kebanggaan yang luar biasa, Paulo menerima pedang tersebut tanpa ragu. Tetapi, gurunya justru marah pada Paulo sebab ia tidak menolak pedang tersebut ketika diberikan.

"Seharusnya kau menolak pedangmu. Jika kau menolaknya, pedang itu akan diberikan kepadamu, karena penolakanmu menunjukkan kemurnian hati." (Sang Guru, hal 11)

Karena kegagalan tersebut, sang guru menyuruh Paulo untuk mencari pedangnya di antara manusia biasa. Untuk menemukan pedang itu, ia harus melakukan perjalanan ke jalan Santiago. Rute yang sering di lewati peziarah untuk meningkatkan spiritualitas dalam diri mereka. Perjalanan yang tidak mudah bagi Paulo, sebab ia harus melawan rasa takut pada kematian dengan melakukan apapun yang perintahkan oleh Petrus, pemandu perjalanan. Seperti halnya mengangkat batu besar yang roboh agar berdiri kembali dengan tangan kosong bekas gigitan anjing. 

Dalam perjalanan itu juga, Petrus mengajarkan latihan-latihan RAM. Sebuah rentetan latihan semacam ritual untuk melatih kepekaan indra. 

Sebenarnya, Petrus ingin mengajarkan pada Paulo tentang makna dalam perjalanan ke jalan Santiago. Karena diawal, Paulo hanya terfokus untuk segera menemukan pedang miliknya. Bagi Petrus, pembelajaran sebenarnya ada pada makna perjalanan. Pedang hanyalah sebuah alasan mengapa perjalanan ini dilakukan, andai pun tujuan tersebut tak berhasil dicapai, maka makna sebenarnya tidak akan hilang. 


Buku Ziarah Menurut Pandangan Pribadi

Bukan sebuah karangan ketika saya menyebut Paulo melakukan perjalanan sejauh 500 mil ke Santiago. Entah buku ini adalah hasil pengalaman Paulo sendiri ataukah imajinasinya saja, semua itu masih menjadi perdebatan. 

Paulo Coelho, laki-laki kelahiran Brazil yang karyanya banyak dibaca oleh orang-orang di dunia. Sebelum ia menjadi sastrawan, Paulo bekerja sebagai sutradara teater sekaligus aktor. Demi mengikuti keinginan hati, akhirnya Paulo memilih menjadi seorang penulis. Ziarah kemudian menjadi karya ke 6  Paulo yang diterbitkan pada tahun 1987. 

Sebelumnya, salah satu impian saya ialah menulis buku perjalanan semacam ini. Mulai terinspirasi ketika membaca buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Akan tetapi, Ziarah dikemas dalam bentuk yang berbeda. Paulo seakan lebih condong menuliskan perjalanan spiritualnya ketimbang menulis karakteristik masyarakat yang ditemuinya pada setiap tempat seperti Agustinus. 

Pembaca juga seolah diajak mencari-cari apa sebenarnya makna dari perjalanan. Bagaimana seseorang dipaksa melewati medan terjal yang tak pernah terpikirkan dan masih mau melewatinya walau ingin menyerah. Bagaimana suatu mimpi mendapatkan pedang bisa menjadi alasan kuat Paulo bertahan atas semua kesusahan yang dilewati. Saya jadi berpikir jika semua orang memiliki tujuan jelas seperti Paulo, akankah semua orang rela melakukan perjalanan tersebut meski harus bersimbah darah. Akankah semua orang fokus pada jalannya masing-masing sehingga tidak ada istilah pengikut atau ikut ikutan.

Selanjutnya buku ini menggunakan bahasa berat yang tidak semua orang nyaman membacanya. Atau mungkin memang Paulo mentargetkan pembaca adalah orang dewasa yang memiliki ketertarikan perihal spiritual. Tapi, meski menggunakan bahasa berat, susunan alurnya sudah sangat rapi. Sehingga pembaca tidak dibingungkan tentang gambaran tempat di dalam cerita.




Rabu, 2 Oktober 2024
Di ruang kelas dosen KWU.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...