Kadang memang sering begini, saya sendiri juga bingung kenapa bisa begini. Rekan-rekan yang dekat dengan saya mungkin sudah hafal betul dengan kebiasaan saya yang suka mengerjakan pekerjaan sekaligus di akhir deadline. Pernah saya coba untuk menjadi murid rajin yang mengerjakan tugas di jauh hari sebelum dikumpulkan. Dan hasilnya? ya, tidak menyenangkan. Otak saya malah terasa tidak bisa dipakai. Tidak mau diajak kerja. Sulit sekali menyuruhnya untuk berpikir keras saat sisi otak lain mengatakan bahwa tugas dikumpulkan masih jauh-jauh hari. Efek orang cerdas.
Duh, rasanya saya seperti kalah dengan bawahan karena berhasil dikontrol jadi begini.
Baiklah, karena menyadari mereka yang tidak mau diatur, maka saya mencoba mencari jalan keluar. Kira-kira begini jalan keluarnya. Pokoknya tugas harus dikerjakan, jangan sampai diabaikan lalu ditinggal. Meskipun mepet beberapa jam, bahkan melewati deadline. Pokoknya harus tetap dikerjakan!
Untungnya, bawahan saya itu nganut, dengan perintah seperti itu saya merasa semakin jarang tidak menyelesaikan tugas. Tentu saja jika dibandingkan dengan dulu, saya lebih bisa diandalkan sekarang. Setidaknya sedikit.
Tapi sayangnya, ada hal yang tidak bisa saya kompromi. Rasanya berat betul menjalankan, karena memang tidak suka. Di dunia perkuliahan yang luar biasa bebas dan luas ini, saya masih sulit memaklumi kalau ada pertemanan yang memandang status sosialnya saja. Tak perlu dijelaskan secara panjang, saya yakin pembaca tulisan ini akan mengerti apa maksudnya. Kalau belum paham, artinya anda masih belum cukup umur. Anda bisa kembali lagi ke blog ini saat dirasa sudah dewasa dan paham.
Saya memang tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka, mungkin saja memang faktor ekonomi sudah dijadikan prinsip bagi sebagian golongan. Saya setuju kalau itu dibutuhkan, supaya bisa nyambung kalau ngobrol, kalau diajak jajan, atau kalau diajak belanja. Tapi tetap saja, saya tidak suka.
Kembali ke teori umum yang sering dipakai, kalau manusia akan bergerumbul dengan getaran frekuensi yang sama seperti dirinya. Maka dari itu pertemanan akan menentukan bagaimana dirimu terbentuk nantinya. Itu memang benar rekan-rekan semua, saya yakin seratus persen. Kalau ada yang tidak percaya, langsung komen saja (red: komentar akan dibalas saat penulis sudah tidak sibuk).
Balik lagi ke topik awal, niat saya menulis tulisan ini karena sedang merasa tidak jelas. Tidak jelas karena sedang merasakan fase nihilis yang menghasut untuk berhenti melakukan apa-apa. Bukan karena malas, bukan juga karena tidak ada tugas. Tapi cuma karena ingin melamun saja.
Setelah itu kembali melakukan tugas menumpuk yang memanggil untuk segera diselesaikan. Meskipun sambil batin pegel.
Sudah ah, cukup celotehan gabut ini, saya pamit dulu. Mau lanjut ngerjain tugas.
Telang, 11 November.
Kafe Medan, bersama sekumpulan orang-orang asing pejuang rapat yang tidak saya kenali.
N. Anisa

Komentar
Posting Komentar