Langsung ke konten utama

Kadang Memang Suka Begini

 


Kadang memang sering begini, saya sendiri juga bingung kenapa bisa begini. Rekan-rekan yang dekat dengan saya mungkin sudah hafal betul dengan kebiasaan saya yang suka mengerjakan pekerjaan sekaligus di akhir deadline. Pernah saya coba untuk menjadi murid rajin yang mengerjakan tugas di jauh hari sebelum dikumpulkan. Dan hasilnya? ya, tidak menyenangkan. Otak saya malah terasa tidak bisa dipakai. Tidak mau diajak kerja. Sulit sekali menyuruhnya untuk berpikir keras saat sisi otak lain mengatakan bahwa tugas dikumpulkan masih jauh-jauh hari. Efek orang cerdas.

Duh, rasanya saya seperti kalah dengan bawahan karena berhasil dikontrol jadi begini.

Baiklah, karena menyadari mereka yang tidak mau diatur, maka saya mencoba mencari jalan keluar. Kira-kira begini jalan keluarnya. Pokoknya tugas harus dikerjakan, jangan sampai diabaikan lalu ditinggal. Meskipun mepet beberapa jam, bahkan melewati deadline. Pokoknya harus tetap dikerjakan!

Untungnya, bawahan saya itu nganut, dengan perintah seperti itu saya merasa semakin jarang tidak menyelesaikan tugas. Tentu saja jika dibandingkan dengan dulu, saya lebih bisa diandalkan sekarang. Setidaknya sedikit.

Tapi sayangnya, ada hal yang tidak bisa saya kompromi. Rasanya berat betul menjalankan, karena memang tidak suka. Di dunia perkuliahan yang luar biasa bebas dan luas ini, saya masih sulit memaklumi kalau ada pertemanan yang memandang status sosialnya saja. Tak perlu dijelaskan secara panjang, saya yakin pembaca tulisan ini akan mengerti apa maksudnya. Kalau belum paham, artinya anda masih belum cukup umur. Anda bisa kembali lagi ke blog ini saat dirasa sudah dewasa dan paham.

Saya memang tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka, mungkin saja memang faktor ekonomi sudah dijadikan prinsip bagi sebagian golongan. Saya setuju kalau itu dibutuhkan, supaya bisa nyambung kalau ngobrol, kalau diajak jajan, atau kalau diajak belanja. Tapi tetap saja, saya tidak suka. 

Kembali ke teori umum yang sering dipakai, kalau manusia akan bergerumbul dengan getaran frekuensi yang sama seperti dirinya. Maka dari itu pertemanan akan menentukan bagaimana dirimu terbentuk nantinya. Itu memang benar rekan-rekan semua, saya yakin seratus persen. Kalau ada yang tidak percaya, langsung komen saja (red: komentar  akan dibalas saat penulis sudah tidak sibuk). 

Balik lagi ke topik awal, niat saya menulis tulisan ini karena sedang merasa tidak jelas. Tidak jelas karena sedang merasakan fase nihilis yang menghasut untuk berhenti melakukan apa-apa. Bukan karena malas, bukan juga karena tidak ada tugas. Tapi cuma karena ingin melamun saja.

Setelah itu kembali melakukan tugas menumpuk yang memanggil untuk segera diselesaikan. Meskipun sambil batin pegel.

Sudah ah, cukup celotehan gabut ini, saya pamit dulu. Mau lanjut ngerjain tugas. 





Telang, 11 November.

Kafe Medan, bersama sekumpulan orang-orang asing pejuang rapat yang tidak saya kenali. 

N. Anisa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...