"Memangnya kenapa jika kau tidak menjadi apa-apa?"
Pertanyaan itu kulontarkan pada sahabatku yang sudah tidak bertemu selama hampir tiga tahun belakang. Setelah kelulusan kuliah, mereka seolah terlepas dari sangkar lalu mulai mencari jalannya masing-masing. Tak kerkecuali Herman, teman terdekatku. Dulu kami bertemu ketika dalam satu komunitas yang sama, yakni pendakian.
Kulihat laki-laki ini sudah banyak berubah dari terakhir kali kita bertemu. Herman yang kukenal adalah seseorang yang suka melempar candaan di tongkrongan, dia ceria, dia tak pernah melakukan sesuatu yang tidak ia kehendaki. Aku masih ingat ketika dia kupaksa turun dari pendakian tanpa berhasil sampai puncak saat kakinya terluka. Aku juga masih ingat betul bagaimana dia bersikeras untuk terus melanjutkan perjalanan. Aku mungkin tak akan terlalu khawatir jika kita tidak pergi berdua saja saat itu, masalahnya jika dia kenapa-kenapa, aku juga tidak bisa berbuat banyak. Perlengkapan yang kita bawa hanya sebatas Carrier masing-masing yang berisi tenda, sleeping bag, dan makanan. Sialnya tidak ada yang berinisiatif untuk membawa obat-obatan.
Saat itu Herman berusaha keras untuk nampak baik-baik saja meskipun luka karena goresan duri dikakinya terus saja mengalirkan darah. Hingga akhirnya kita berdua berhasil sampai puncak dengan selamat. Dengan segala perjuangan dan resiko penambahan waktu pendakian hingga dua hari. Aku menyadari bahwa, Herman yang saat itu suka bercanda, ternyata teguh pada prinsip jika sudah memutuskan.
Akan tetapi, Herman didepanku seolah bukan Herman sahabatku dulu. Wajahnya kusut, cerianya hilang. Sorot matanya seringkali menerawang jauh, entah apa yang sedang dia bayangkan. Matanya seakan menggambarkan bahwa dia memikul beban yang sangat berat. Hingga meraung-raung agar minta diselamatkan. Mungkin itulah sebabnya dia memintaku untuk datang.
Herman tiba-tiba saja menelponku setelah menghilang tiga tahun tanpa kabar. Aku yang terkejut saat tau panggilan itu dari Herman langsung mengiyakan untuk bertemu saat itu juga. Meskipun aku perlu menempuh perjalanan setidaknya tiga jam menggunakan motor.
"Masalah besar, Yan," jawabnya atas pertanyaanku barusan.
Baru beberapa menit aku datang di salah satu kafe yang ada di Surabaya, dia langsung menanyakan satu pertanyaan yang membuatku heran. Bagaimana jika selama dia hidup, dia tidak berhasil menjadi apa-apa? Bukannya menanyakan kabar atau memberi penjelasan atas menghilangnya selama ini, Herman malah langsung melempariku dengan pertanyaan aneh itu.
"Kau ada masalah apa, Her?" tanyaku.
Dia diam. Obrolan seketika hening. Aku hanya menunggu kalimat muncul dari mulutnya, selama itu, aku juga akan tetap diam memberikan ruang untuk pikirannya menerawang hal-hal yang tidak aku pahami. Lalu setelah hampir lima menit, dia akhirnya bercerita.
"Setelah tiga bulan lulus kuliah, aku belum berhasil di terima kerja di mana saja. Saat itu ibuku sakit, Yan. Dia perlu di bawa ke rumah sakit, tapi sialnya, dia punya anak pertama yang tak becus. Sudah dikuliahkan dengan susah payah, tapi setelah lulus dia bahkan tidak sanggup untuk membawanya berobat. Aku benar-benar merasa bersalah. Lalu satu minggu yang lalu, ibuku meninggal, karena penyakitnya sudah sangat parah. Selama tiga tahun ini aku berusaha mencari kerja apa saja untuk membeli obat ibuku. Kau tau kan Yan, aku hanya punya ibuku, dia segalanya bagiku. Tapi lihatlah, bahkan di akhir hidupnya, dia hanya melihat anaknya ini tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya menangis di sisi ranjang sambil berucap," kalimatnya berhenti. Herman menangis.
Aku menunggunya hingga tenang, lalu kemudian dia kembali berkata.
"Ibu bisa pergi dengan tenang, aku baik-baik saja sendirian. Aku mengatakan itu pada ibuku. Apa kau bisa bayangkan?"
Mendengar itu hatiku ikut teriris, bagaimana bisa dia melewati semua itu sendirian? Aku cukup dekat dengannya, mungkin teman yang paling dekat. Mengapa dia tidak meminta bantuan padaku?
"Aku senang kau mau kuajak bertemu." Ujarnya berusaha mengalihkan topik.
"Kau gila! selama ini kau yang menghilang dan tidak bisa dihubungi. Jadi bagaimana bisa aku menolak ajakanmu untuk bertemu setelah tiga tahun hilang tanpa kabar?" Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku.
Dia terkekeh pelan. Namun aku sadar itu dipaksakan, perasaanku campur aduk. Herman benar-benar berubah.
"Aku turut berduka cita, Her. Aku sedikit marah kenapa kau tidak mengabariku lebih awal."
Lagi-lagi, dia hanya tersenyum.
Mengapa semakin dewasa, manusia seolah-olah dipaksa untuk menyembunyikan perasaan mereka. Seolah ada aturan tak tertulis yang mengharuskan orang dewasa tidak lagi kekanak-kanakan, tidak boleh seperti anak kecil yang menangis kencang ketika ada hal yang tidak mereka suka. Aku tak tau mengapa bisa seperti itu, sebab aku sendiri pun terjebak di dalamnya.
Seperti Herman yang kuyakini adalah laki-laki dewasa. Dia menahan semua rasa sakit, menyimpannya sendiri, berjuang sendiri, lalu berusaha agar terlihat baik-baik saja. Akan tetapi, meminta bantuan juga tak akan menurutkan martabatnya. Entah apa yang ada di pikiran Herman, dia sulit terbaca.
"Kamu sekarang lagi sibuk apa Her?" tanyaku ingin tahu lebih banyak.
"Tidak ada, sebenarnya aku hanya ingin bertemu sebentar saja. Sudah lama kita tidak mengobrol."
"Kenapa hanya sebentar? kita bahkan belum satu jam mengobrol, ada banyak hal yang masih perlu dibahas."
"Tidak, Yan. Aku buru-buru. Dan ya, untuk pertanyaanmu tadi, menjadi masalah besar kalau kau tidak berhasil jadi apa-apa. Mungkin dalam hati kecilmu percaya bahwa Tuhan memang tidak melihat dari keberhasilan mahkluk-Nya. Tapi Yan, orang-orang melihat, mereka menilai, keluarga terdekatmu akan ikut merasakan, bahkan, jiwamu pun akan terkikis perlahan jika hidupmu hanya sebatas menjadi seorang pencundang."
Kali ini, aku yang terdiam.
"Senang bertemu kembali, kawan lama. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi," dia terkekeh pelan, "aku pergi dulu."
Aku mengamati dari balik punggungnya yang semakin menjauh. Butuh waktu beberapa saat agar sesuatu terlintas di kepalaku. Hingga dengan cepat aku berdiri, lalu mengejar Herman yang sudah tidak terlihat lagi. Bagaimana aku bisa lambat untuk menyadari. Bahwa laki-laki itu akan segera bunuh diri.
15 November 2024
N. Anisa
Peluk jauh Herman~
BalasHapus