"Mungkin akan menarik jika hasrat seks memang bisa dihilangkan"
Agaknya tulisan Leo Tolstoy dalam bukunya “The Kreutzer Sonata” yang menyindir tentang seks bisa menggiring manusia bersikap layaknya binatang memang benar adanya. Buku yang sudah ada sejak 1889 itu seolah memberi peringatan bahwa nafsu seks membuat pengikutnya berubah menjadi binatang menjijikkan. Tak penting apakah pernyataan itu diamini oleh semua orang. Sebab nyatanya, fenomena manusia binatang memang ada di mana-mana, bahkan di setiap zaman.
Mungkin akan menarik jika hasrat seks memang bisa dihilangkan. Tolstoy membayangkan itu di saat orang-orang sekelilingnya hanya memikirkan soal hubungan badan. Tak penting apakah terikat dengan pernikahan atau tidak, panggilan hasrat tak pernah bisa ditolak. Bayangkan betapa hebatnya seks menjadi pusat kehidupan Rusia di-eranya. Itulah alasan muncul keresahan yang berbuah tulisan dari Tolstoy.
Keresahan yang memiliki bentuk nyata, era 90-an di Rusia orang-orang sudah tidak lagi menganggap pernikahan adalah ikatan suci yang mengikat tanggung jawab, kesetiaan, dan pengendalian nafsu. Manusia lebih mirip layaknya binatang yang melakukan seks dengan banyak pasangan. Tak heran, manusia memang makhluk rumit ciptaan Tuhan yang bisa berubah-ubah. Jika mengikuti nafsu menjadi binatang, mengikuti kejahatan menjadi setan, dan menjadi malaikat bila mengikuti kebaikan. Itulah mengapa dia dibekali oleh akal, agar dapat berpikir jalan mana yang mengarah pada peningkatan martabat dan penemuan hakikat.
Sayangnya, tak semua manusia bisa menggunakan akalnya dengan tepat. Jika bergeser ke era sekarang, mungkin kasusnya lebih parah dari zaman Tolstoy sebab adanya media sosial yang mempercepat persebaran. Sebut saja seperti kasus yang belakangan ini ramai diperbincangkan melalui media sosial. Sosok Agus, pria disabilitas yang melecehkan belasan perempuan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Seperti yang dimuat dari media, ada seorang korban yang berani melapor setelah mengalami pelecehan. Awalnya tersangka menolak tuduhan itu dengan dalih bahwa dia sendiri saja tidak bisa melepas pakaian tanpa bantuan orang lain karena tidak memiliki tangan, jadi bagaimana caranya melecehkan orang lain. Sekilas, nampak masuk akal. Akan tetapi, binatang mampu melakukan hal di luar akal manusia. Setelah diselidiki ternyata pelecehan itu memang terjadi. Dilansir dari kementerian pemberdayaan perempuan dan anak, sejak Januari hingga November 2024 tercatat sebanyak 20.460 kasus kekerasan seksual yang tersebar di Indonesia. Angka tersebut tentunya tidak sedikit, dan kasus Agus hanya salah satu di antaranya.
Andaikan saja kasus itu tak pernah viral, mungkin hanya akan menjadi satu bagian angka dalam data kasus pelecehan yang tercatat. Untungnya, dunia saat ini sudah berkembang dengan teknologi, sehingga segala informasi mudah diakses dan tersebar. Mungkin, pada era 90-an media informasi tak semarak sekarang, sehingga masih terbatas akan persebaran kasus yang ada. Sehingga, dengan persebaran informasi yang lebih cepat seharusnya bisa membuat masyarakat lebih peduli lagi mengenai kasus-kasus yang sedang ada. Khususnya pelecehan seksual.
Masyarakat harus bisa lebih kritis lagi melihat kasus pelecehan yang bisa terjadi di mana saja. Mereka juga harus segera membuat penyelesaian agar kasus ini tidak semakin bertambah. Penyelesaian yang benar-benar menyelesaikan, bukan hanya penundaan semata. Tak cukup hanya dengan sekedar memberikan hukuman saja lewat aparat kepolisisan. Sebab yakin saja, jika hanya dilaporkan, satu sampai dua tahun ke depan kasusnya akan terlupakan setelah pelaku dihukum namun perilaku binatangnya akan tetap diwariskan.
Agaknya memang perlu perhatian dari masyarakat agar memiliki kesadaran penuh tentang tanggung jawab di sekitarnya. Paling sederhana, dengan cara membuat dan menciptakan lingkungan yang mendidik untuk menjadi seorang manusia utuh. Manusia yang memiliki akal, hati nurani, serta welas asih kepada sesama agar tidak melakukan perilaku keji. Sehingga mungkin, tidak perlu mencoba penyelesaian dengan cara Tolstoy untuk melarang seks dan segala macam hal yang memicu timbunya nafsu, agar dilarang, dihilangkan, atau dimusnakan. Sebab bagaimanapun juga, seks adalah cara manusia supaya mendapatkan keturunan. Hanya saja bagaimana prosesnya-lah yang menjadi pembeda manusia dengan binatang. Apakah dengan bermartabat atau tidak.
Terus terang saja, persoalan-persoalan manusia binatang akan selalu terulang di setiap zaman. Semoga saja, jauh di masa depan, binatang seks yang sekarang masih banyak tersebar di penjuru dunia sudah berhasil dihilangkan. Amin.
Nur Anisa
Pernah diterbitkan oleh Warta UTM edisi Bubar
Komentar
Posting Komentar