Orang macam saya ini memang sepatutnya ngeroso isin. Tahun 2024 tercatat cuma 27 persen masyarakat Indonesia yang bisa kuliah. Saya salah satu yang masuk dalam persentase tersebut. Banyak yang bilang kalau harus banyak-banyak bersyukur karena bisa sampai di tahap ini. Ya, kalau sedang waras saya akan bersyukur. Tapi kalau kumat biasanya ngedumel membayangkan harus bersabar selama empat tahun di dinding kampus (kalau gak molor).
Orang tua saya mungkin hanya tau sebatas anaknya kuliah, mengerjakan tugas, gabung SM, lalu sisanya melakukan hal suka-suka. Saya jarang sekali cerita kegalauan menjadi mahasiswa. Misal seperti kegalauan kalau sejak hari pertama ospek saya sudah ngeroso tidak cocok kuliah. Sejak kakak-kakak yang galak itu (kata temen) melakukan serangkain acara dengan berorasi setiap hari. Bersikeras membakar semangat mahasiswa baru. Sejak saat itu saya sudah males (tidak bermaksud menyinggung pihak terlibat) karena hanya fokus orasi tanpa aksi. Mbok ya sesekali aksi nyata, misal diajak ke gedung DPR terdekat lalu langsung minta ngubah aturan yang merugikan rakyat. Atau bantu petani di sawah panen padi sambil jelasin betapa capeknya harus bekerja di bawah terik matahari. Agar mahasiswa juga ikut merasakan perasaan petani yang namanya sering disebut-sebut.
Barangkali mungkin kegalauan itu disebabkan karena saya berangkat dari kampung ke kampus dengan membawa ideologi masyarakat kulot. Membayangkan kalau nanti akan bisa membuat revolusi di kampung-kampung. Misal dengan membantu membuat inovasi mesin tanam padi otomatis, kelas teknologi gratis, membuat rumah belajar gratis, dan banyak lain. Saya tidak tau kalau kampus sekarang membuat mahasiswanya berpikir lebih jauh ke depan. Mulai dari bagaimana jadi juragan beras sukses, kiat-kiat menjadi anggota DPR, juga bekerja keras agar cepat dapat uang dalam jumlah banyak. Kemaslahatan masyarakat bukan lagi tugas kami. Yang penting balik modal dulu karena kuliah sudah menghabiskan banyak uang. Sungguh sangat visioner (untuk diri sendiri).
Memang, sejak dulu mahasiswa dilabeli sebagai muda-mudi yang akan melakukan perubahan kepada bangsa. Perubahan macam apa itu belum saya cari tau lebih banyak. Kalau maksudnya perubahan dengan membuat mahasiswa semakin mahir memiliki otak komersial, maka sepertinya itu berhasil. Tapi kalau perubahan lain saya kurang ngerti.
Mungkin jika mbah Kasim Arifin bangkit dari kubur dan melihat mahasiswa jaman sekarang, beliau akan geleng-geleng kepala. Sambil bilang, kok gak onok mahasiswa saiki sing nerusno pengabdianku KKN 15 taun ndek pelosok gae ngembangno deso? Kok malah gae papan e tok sing isine bukti nek tau mrene, terus sesuk e roboh kenek udan. Aku biyen gak perlu papan, masyarakat e malah sing gae dalam tekan jenengku.
Memang mbah, sekarang, zaman sudah semakin berubah. Kampus-kampus sekarang ini sedang berlomba-lomba untuk menghasilkan lulusan yang sukses di dunia kerja. Bukan lagi mementingkan budi pekerti, maknanya telah berubah. Saya jadi teringat sebutan Nietzsche pada jenis manusia semacam ini, the last man. Manusia yang sudah kehilangan makna hidup, tak memahami lagi tujuan mereka sesungguhnya. Alhasil jadi beginilah rupa dunia sekarang mbah, mau bagaimana lagi, tuntutan zaman. Kalau semakin lama manusianya tidak semakin rusak, maka mungkin Tuhan tak akan tega mendatangkan kiamat.
Saya pun sudah jadi bagian di dalamnya, kadang malu juga kalau membayangkan sudah sekolah tinggi tapi tidak dapat kerja dengan gaji besar. Ah, tak ada bedanya saya dengan mereka, mbah. Mau bagaimana lagi mohon dimaklumi, tuntutan zaman. Saya jadi katut-katutan.
N. Anisa
Dimensi paralel 1 (28/1)
Komentar
Posting Komentar