Di sebuah café aku
melihat seorang laki-laki dewasa yang mengundang pengunjung agar
menghampirinya. Semua orang terheran-heran, nampak jelas pertanyaan di benak
mereka, hingga pada akhirnya salah seorang dari kami menghampiri dan menanyakan
mengapa? Laki-laki itu, dengan senyum mengatakan, “akan aku ceritakan
sebuah kisah, aku ingin kalian semua mendengarnya.”
Kata orang, tak baik bila
menolak seseorang yang ingin berbagi kisah. Barangkali saja, laki-laki itu
memang membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesah. Maka kami semua,
pengunjung café saling pandang, lalu menghampiri laki-laki itu. Setelah tikar
di gelar oleh penjaga café yang juga terlihat bingung, dalam hening kami
menunggu laki-laki itu bercerita. Cerita yang membuat kami penasaran, kisah
seperti apa yang membuat laki-laki ini ingin berbagi pada semua orang.
Sebelum memulai cerita,
laki-laki itu menyeruput kopi, suara tarikan napas panjang terdengar,
sepertinya ini akan menjadi cerita panjang. Hingga sesaat kemudian, mulutnya mulai
terbuka, pada titik ini awal kisah pun dimulai.
“Apa kalian semua pernah
membayangkan, bagaimana jika dari kalian ada yang dapat melihat masa depan? Tapi
tolong jangan bayangkan karena menaiki mesin waktu sebab kemajuan teknologi atau semacamnya. Cukup dengan ketika terbangun
di pagi hari, kalian mendapati tempat asing yang berbeda. Semua orang dan tempat tak
ada yang dikenal. Pernahkan terlintas pikiran macam itu?”
Semua orang terdiam, satu-persatu
mereka menggelengkan kepala. Laki-laki itu kembali melanjutkan ceritanya.
“Pagi itu aku terbangun,
sinar matahari langsung menusuk ketika aku baru saja membuka mata. Seingatku, semalam
aku tidak tidur di tempat ini. Sebuah lahan luas dengan satu pohon besar tanpa daun
yang menjadi tempat teduh. Satu pertanyaan yang terlintas saat itu adalah, kegoblokan
macam apa lagi kali ini yang tidak aku ingat sampai bisa tidur di tempat
ini? Akan tetapi setelah benar-benar bangun, aku ingat semalam tidak tidur di
sini, dan aku pun tidak dalam keadaan mabuk.”
Mataku memperhatikan
sekeliling, semua orang nampak menyimak dengan hikmat.
“Aku pun berdiri, melihat
sekeliling, dan memang tak ada yang kukenal. Kakiku ragu-ragu melangkah tanpa tau
mau ke mana. Sepuluh menit aku berjalan ke arah timur, suara-suara perlahan
mulai muncul. Langkahku semakin yakin untuk menuju sumber suara, hingga saat pandangan
itu di depan mata. Kalian tak akan bisa bayangkan apa yang aku lihat.” Laki-laki
itu dengan sengaja mengambil jeda untuk kalimat selanjutnya. Memang dasar bajingan,
laki-laki berumur itu berhasil membuat kami semua menunggu penasaran.
“Lihat apa mas?”
Akhirnya pertanyaan itu
keluar dari mulut salah seorang yang tidak kukenal, setidaknya itu mewakili isi
pikiran kami.
“Aku melihat segerombolan
orang berebut makan. Mereka merebutkan bangkai rusa yang telah mati. Mereka
semua terlihat berbeda, tubuh kurus, kulit coklat dengan mata merah menyala.
Kupikir mereka adalah segerombolan kanibal yang sedang melakukan pesta, tapi
pikiran itu berubah ketika aku baru sadar bahwa itu hanya hewan. Lalu sesaat kemudian aku juga menyadari bahwa di sekitarku banyak bekas runtuhan bangunan. Seolah bom telah meledak di tempat ini hingga hanya menyisakan
puing-puing bekasnya saja yang termakan oleh alam. Perlahan, kakiku melangkah mendekati segerombolan
dari mereka, hingga mereka pun menyadari kehadiranku.
Tatapan yang diberikan
oleh mereka sangat melekat diingatanku. Terkejut, bingung, penasaran, takut,
semua terlihat jadi satu. Ragu-ragu aku menggunakan Bahasa Indonesia, mencoba
apa mereka memahami bahasaku, dan ternyata mereka memang paham.
Mereka menanyaiku banyak
hal yang terdengar aneh di kepala, pertanyaan seperti dari mana aku mendapatkan
pakaian ini atau dari mana aku mendapatkan sabuk celana yang kupakai. Mereka
ingin tau banyak hal. Sedangkan aku hanya menjawab, nemu di jalan. Aku
tidak peduli mereka percaya atau tidak, sekarang giliranku mendengar cerita
mereka.
Seorang remaja, mungkin
usia 18 tahun bercerita kalau sepuluh tahun lalu semua nuklir yang ada di dunia
meledak. Setiap wilayah merasakan dampaknya, negara-negara kehilangan teknologi
mereka, semuanya rusak. Caos terjadi di mana-mana. Aku terdiam mendengar itu
semua, kupikir memang suatu saat nuklir yang di simpan akan terpakai, kudengar
banyak negara yang berebut membuat nuklir yang lebih hebat, bahkan lebih besar efeknya
ketimbang yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Jika memang ada seperti itu, aku ingin tau. Hingga banyak yang kami obrolkan saat
itu, tapi aku tidak mau membagikan ke kalian.”
Benar-benar bajingan
sungguhan, dia yang memulai namun menggantung di tengah jalan.
“Singkatnya kami
mengobrol hingga larut malam, lalu aku mengantuk dan tertidur. Paginya saat
bangun, aku melihat atap, sangat mirip dengan atap kamar kosan temanku. Lalu
seseorang membuka pintu dengan kesal, sambil mengatakan bahwa aku hanya tidur
seharian dan tidak bisa dibangunkan. Sepanjang sore aku teringat peristiwa itu,
lalu malamnya kubagikan ke kalian. Lalu pertanyaanku saat ini adalah, bagaimana jika, aku
mengatakan kalau semua yang kuceritakan bukan karangan? Apalagi mimpi belaka.
Apa kalian akan percaya?”
Kami semua saling diam
sembari memandang satu sama lain, hingga akhirnya, aku membuka suara.
“Percoyo mas!”
Komentar
Posting Komentar