Langsung ke konten utama

Cerpen - Bagaimana Jika ....


    Di sebuah café aku melihat seorang laki-laki dewasa yang mengundang pengunjung agar menghampirinya. Semua orang terheran-heran, nampak jelas pertanyaan di benak mereka, hingga pada akhirnya salah seorang dari kami menghampiri dan menanyakan mengapa? Laki-laki itu, dengan senyum mengatakan, “akan aku ceritakan sebuah kisah, aku ingin kalian semua mendengarnya.”

    Kata orang, tak baik bila menolak seseorang yang ingin berbagi kisah. Barangkali saja, laki-laki itu memang membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesah. Maka kami semua, pengunjung café saling pandang, lalu menghampiri laki-laki itu. Setelah tikar di gelar oleh penjaga café yang juga terlihat bingung, dalam hening kami menunggu laki-laki itu bercerita. Cerita yang membuat kami penasaran, kisah seperti apa yang membuat laki-laki ini ingin berbagi pada semua orang.

    Sebelum memulai cerita, laki-laki itu menyeruput kopi, suara tarikan napas panjang terdengar, sepertinya ini akan menjadi cerita panjang. Hingga sesaat kemudian, mulutnya mulai terbuka, pada titik ini awal kisah pun dimulai.

    “Apa kalian semua pernah membayangkan, bagaimana jika dari kalian ada yang dapat melihat masa depan? Tapi tolong jangan bayangkan karena menaiki mesin waktu sebab kemajuan teknologi  atau semacamnya. Cukup dengan ketika terbangun di pagi hari, kalian mendapati tempat asing yang berbeda. Semua orang dan tempat tak ada yang dikenal. Pernahkan terlintas pikiran macam itu?”

    Semua orang terdiam, satu-persatu mereka menggelengkan kepala. Laki-laki itu kembali melanjutkan ceritanya.

    “Pagi itu aku terbangun, sinar matahari langsung menusuk ketika aku baru saja membuka mata. Seingatku, semalam aku tidak tidur di tempat ini. Sebuah lahan luas dengan satu pohon besar tanpa daun yang menjadi tempat teduh. Satu pertanyaan yang terlintas saat itu adalah, kegoblokan macam apa lagi kali ini yang tidak aku ingat sampai bisa tidur di tempat ini? Akan tetapi setelah benar-benar bangun, aku ingat semalam tidak tidur di sini, dan aku pun tidak dalam keadaan mabuk.”

    Mataku memperhatikan sekeliling, semua orang nampak menyimak dengan hikmat.

    “Aku pun berdiri, melihat sekeliling, dan memang tak ada yang kukenal. Kakiku ragu-ragu melangkah tanpa tau mau ke mana. Sepuluh menit aku berjalan ke arah timur, suara-suara perlahan mulai muncul. Langkahku semakin yakin untuk menuju sumber suara, hingga saat pandangan itu di depan mata. Kalian tak akan bisa bayangkan apa yang aku lihat.” Laki-laki itu dengan sengaja mengambil jeda untuk kalimat selanjutnya. Memang dasar bajingan, laki-laki berumur itu berhasil membuat kami semua menunggu penasaran.

    “Lihat apa mas?”

    Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut salah seorang yang tidak kukenal, setidaknya itu mewakili isi pikiran kami.

    “Aku melihat segerombolan orang berebut makan. Mereka merebutkan bangkai rusa yang telah mati. Mereka semua terlihat berbeda, tubuh kurus, kulit coklat dengan mata merah menyala. Kupikir mereka adalah segerombolan kanibal yang sedang melakukan pesta, tapi pikiran itu berubah ketika aku baru sadar bahwa itu hanya hewan. Lalu sesaat kemudian aku juga menyadari bahwa di sekitarku banyak bekas runtuhan bangunan. Seolah bom telah meledak di tempat ini hingga hanya menyisakan puing-puing bekasnya saja yang termakan oleh alam. Perlahan, kakiku melangkah mendekati segerombolan dari mereka, hingga mereka pun menyadari kehadiranku.

    Tatapan yang diberikan oleh mereka sangat melekat diingatanku. Terkejut, bingung, penasaran, takut, semua terlihat jadi satu. Ragu-ragu aku menggunakan Bahasa Indonesia, mencoba apa mereka memahami bahasaku, dan ternyata mereka memang paham.

    Mereka menanyaiku banyak hal yang terdengar aneh di kepala, pertanyaan seperti dari mana aku mendapatkan pakaian ini atau dari mana aku mendapatkan sabuk celana yang kupakai. Mereka ingin tau banyak hal. Sedangkan aku hanya menjawab, nemu di jalan. Aku tidak peduli mereka percaya atau tidak, sekarang giliranku mendengar cerita mereka.

    Seorang remaja, mungkin usia 18 tahun bercerita kalau sepuluh tahun lalu semua nuklir yang ada di dunia meledak. Setiap wilayah merasakan dampaknya, negara-negara kehilangan teknologi mereka, semuanya rusak. Caos terjadi di mana-mana. Aku terdiam mendengar itu semua, kupikir memang suatu saat nuklir yang di simpan akan terpakai, kudengar banyak negara yang berebut membuat nuklir yang lebih hebat, bahkan lebih besar efeknya ketimbang yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Jika memang ada seperti itu, aku ingin tau. Hingga banyak yang kami obrolkan saat itu, tapi aku tidak mau membagikan ke kalian.”

    Benar-benar bajingan sungguhan, dia yang memulai namun menggantung di tengah jalan.

    “Singkatnya kami mengobrol hingga larut malam, lalu aku mengantuk dan tertidur. Paginya saat bangun, aku melihat atap, sangat mirip dengan atap kamar kosan temanku. Lalu seseorang membuka pintu dengan kesal, sambil mengatakan bahwa aku hanya tidur seharian dan tidak bisa dibangunkan. Sepanjang sore aku teringat peristiwa itu, lalu malamnya kubagikan ke kalian. Lalu pertanyaanku saat ini adalah, bagaimana jika, aku mengatakan kalau semua yang kuceritakan bukan karangan? Apalagi mimpi belaka. Apa kalian akan percaya?”

    Kami semua saling diam sembari memandang satu sama lain, hingga akhirnya, aku membuka suara.

    Percoyo mas!”




Sekber
29 Juli 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...