Langsung ke konten utama

Entitas

 


Sebagai anak polos dan positive vibes (jare kancaku), dulu saya menilai kalau hanya ada orang baik dan buruk. Maka dari itulah saya rasa mengapa bapak cukup serius membatasi cara saya bersosial di lingkungan luar agar terhindar dari orang-orang buruk. Kalau kata dosen yang mengaku bisa membaca karakter orang dari tulisan tangan, saya ini termasuk orang yang lempeng – hidupnya lurus-lurus saja. Tidak menarik dan tertarik dengan dunia luar yang pada kenyataannya memang tidak menarik. Bagi saya.

Hingga pada suatu masa yang tidak pernah di sangka-sangka, saya bertemu dengan entitas baru yang sangat menarik untuk dipahami. Suatu entitas abstrak yang menggabungkan antara baik – buruk, benar – salah, bodoh – pintar, bahagia – menderita, dan segala macam antonim lainnya. Mereka bertemu dalam satu garis vertikal, horizontal, zig-zag, kubah, dan segala macam garis yang menjadikannya paradoks.

Entitas aneh ini sering membuat saya sibuk sendiri, mumet, kadang kuwalahan menangani. Melalui berbagai perasaan yang berubah-ubah, kadang memuji dan kadang komat kamit gak karuan.

Namun itu membuat saya semakin penasaran untuk lebih jauh mengenal, lebih jauh memahami pola pikir bagaimana entitas ini bekerja. Melakukan riset kecil-kecilan, diskusi sembari ngopi, kadang juga dicaci maki karena ikut-ikutan entitas tidak jelas ini. Maka dari perjalanan yang belum panjang ini, saya ingin membuang unek-unek dari hasil riset pribadi. Begini kira-kira hasilnya.

Manusia memiliki banyak karakter yang sudah Tuhan ciptakan, tentu saja, ini hal klasik yang harus dipahami semua orang agar mereka tak mudah menghakimi karakter orang. Tak hanya karakter, cara belajar seseorang pun punya gayanya sendiri, dari mulai auditori, visual, kinestetik, verbal, dan solitary. Kalau kata seseorang yang saya tiru omongannya, beliau bilang kalau ada dua jenis manusia, yang suka bermain dan suka belajar. Argumen ini tidak akan dibarengi dengan bukti valid, tapi mari anda dan saya pahami maksudnya.

Manusia ada yang sejak lahir memang senang belajar, dia melihat dunia dengan cara unik yakni mencari pertanyaan dan mencari jawaban. Mereka sibuk diskusi dengan isi kepala sehingga tidak terlalu peduli dengan dunia luar. Mereka senang belajar sendiri tanpa dibatasi, terkadang mencoba mendobrak tembok kenormalan untuk menemukan hal baru yang bisa dia nilai sendiri tanpa ada unsur “jarene”.

Maka orang seperti ini tidak cocok belajar dengan sistem pendidikan Indonesia sekarang, karena mereka tidak senang jika harus disejeniskan (dalam tanda petik).

Lalu ada golongan kedua, manusia yang lebih senang bermain, mereka yang lebih cenderung didorong agar mau belajar. Keunggulannya mereka seringkali mudah beradaptasi dengan keadaan sosial saat ini karena dunia sekarang berjalan di atas kesenangan. 

Saya rasa argumen ini cukup lemah, namun bisa menyadarkan kalau tidak semua manusia sama dan mau dibuat sama.

Entitas abstrak ini memiliki komposisi keduanya, namun lebih cenderung pada kategori pertama. Penuh dengan jiwa-jiwa yang ingin mendobrak kewarasan dan kenormalan. Mereka yang bekerja dari bawah, melawan arus bahkan membuat arusnya sendiri. Layaknya ungkapan Nietzsche perihal Ubermensch. Saya memiliki keyakinan kalau entitas ini masuk dalam kategori yang di maksud filsuf nihilism itu.

“Nietzsche juga percaya bahwa dengan berhadapan dengan konflik, maka manusia akan tertantang, dan segala kemampuan yang dimilikinya dapat keluar dengan sendirinya secara maksimal. Maka, tidak mengherankan apabila Nietzsche sangat gemar sekali dengan kata-kata peperangan, konflik dan sebagainya yang dapat membangkitkan semangat manusia untuk mempunyai kehendak berkuasa. Nietzsche menginginkan manusia untuk bertumbuh, menjangkau keluar, menarik diri keluar, menuju ke atas bukan keluar dari moralitas atau amoralitas, namun karena ia hidup, dan karena hidup adalah kehendak untuk berkuasa. Manusia haruslah bersikap jujur terhadap dirinya, dan selalu bersikap inovatif (Nietzsche, 1998:201-2).”

Maka disimpulkanlah bahwa entitas ini memang beginilah bentuknya. Saya harap anda mengerti maksud saya. Maka dengan begitu saya bisa mengakhiri tulisan ini dengan lega. Terimakasih untuk para pembaca yang saya harap bijaksana. Saya akhiri tulisan ini sampai di sini.


22 Agustus 2025

N.A


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...