Akan ku ceritakan apa yang kudengar. Tapi kau akan menuduhku dusta, karena tuli. Mesti berapa kali kukatakan bahwa aku bisa mendengar walau tak punya telinga. Aku dapat mendengar dedaunan saling bergesek bersamaan sehingga mencipta melodi polifonik. Aku bisa mendengar suara burung yang saling sapa, gemuruh langit sebelum hujan tiba, bahkan nyanyian pilu burung hantu tengah malam yang sedang dilanda nestapa. Terkadang, aku mendengar kidung merdu tiba-tiba saat sedang sendirian. Sebuah melodi indah yang membuat tubuhku bergerak sesuai dengan irama. Saat itu tiba, kurasakan tubuhku seakan menari-nari di atas awan, terasa begitu ringan.
Maka akan kuceritakan apa yang kudengar.
Malam itu kulihat dia duduk di tempat yang sama, kursi kayu dari pohon bambu. Mirip malam-malam sebelumnya, perempuan itu duduk dengan putung rokok di sela jari. Bibir merah darah, pakaian terbuka yang menonjolkan buah dada dan paha. Tahi lalat di leher, serta bekas luka bakar di betis sebelah kanan. Rambut panjang tergerai, sesekali tergoyang oleh sapuan angin malam. Orang-orang sering menatapnya dengan pandangan hina, tercela, penuh dosa. Kau bisa menyebutnya seorang pelacur. Dia tidak akan jengkel dengan sebutan itu.
Maka malam itu kami mengobrol untuk kesekian kali. Wulan tertawa mendengar guyonanku yang tak pernah dia percaya. “Aku bisa membayangkan bagaimana kau memahami ucapanku, karena kau memang mahir membaca gerak bibir. Tapi aku tidak percaya kau bisa mendengar suara dari balik dinding yang ada di sini.”
“Aku tidak memaksa kau untuk percaya, aku hanya mengatakan rahasiaku pada seseorang yang mau menemaniku mengobrol setiap malam.”
“Baiklah, ada hal lain yang membuatku penasaran, bagaimana rasanya jadi beda. Apa kau pernah marah pada Tuhan karena tidak memberimu telinga?” ujarnya.
Kukatakan pada Wulan bahwa aku tidak pernah marah. Lalu kuceritakan dialogku pada Tuhan tatkala beberapa saat sebelum meniupkan ruh ke rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Ketika sedang membagikan semua indera, aku berkata tak ingin memiliki telinga agar tidak bisa mendengar ucapan busuk manusia. Meskipun aku tidak memiliki telinga, Tuhan menggantinya dengan telinga lain yang berbeda. Alhasil aku masih bisa mendengar suara-suara yang ada di bumi. Aku bisa mendengar suaramu yang sepadan dengan suara hujan kala mengguyur tanah gersang. Aku bisa mendengar bunyi yang belum sempat keluar lewat mulut, hanya mengendap dalam dada. Jadi aku tak pernah marah, karena akulah yang minta.
Aku juga tak marah saat perempuan yang kusebut ibu menelantarkanku setelah balita. Dia menjulukiku sebagai pembawa bencana, sebab hidupnya hancur saat aku lahir. Barangkali saja karena melihat bayi coklat tua yang lahir tanpa telinga, membuatnya tak mau mengakui bahwa aku anaknya. Persetan dengan hal itu, sebab tanpa orang tua aku masih bisa menghirup udara. Walau harus hidup berpindah-pindah, di tengah ramainya ibu kota. Bahkan aku sudah menjelajahi setiap sudut gang-gang kumal yang ada. Bertemu dengan berbagai manusia, mendapat pandangan hina. Karena jujur saja, jikalau melihat rupaku mungkin kau akan bereaksi yang sama.
“Jadi kau yang memintanya?”
“Ya.” Wulan diam beberapa saat, kuyakin dia memikirkan ucapanku barusan. Asal tau saja, dibalik wajahnya yang sangar, Wulan sering menangis diam-diam dibalik heningnya malam, jangan tanyakan bagaimana aku bisa tau. Hidupnya tak jauh beda denganku, terkucil dan dikucilkan.
Bahkan aku pernah mendengar seorang ibu yang berkata pada anaknya agar tak meniru perilaku Wulan, jangan pernah mendekati perempuan hina dan penuh dosa. Sedangkan padaku, orang-orang berkata agar menghidar dari lelaki jelek yang tak memiliki telinga. Orang yang sering menghabiskan waktu lebih banyak di pembuangan sampah. Atau jangan mendekati orang gila yang mengaku bisa mendengar padahal telinga pun tak ada.
Obrolan kami berhenti saat seorang laki-laki dengan jas hitam rapi datang. Wulan membuang putung rokok yang ia pegang, lalu menyambut dengan senyuman. Maka waktu seperti inilah aku akan cepat-cepat pergi.
Tapi sebelum benar-benar pergi, aku tau ada yang aneh dengan laki-laki itu. Garis wajahnya tegang, sorot mata sayu, dia sedang menyimpan banyak pikiran. Mungkin sebab aksi tuntutan yang dilayangkan banyak orang di jalanan sekarang. Sebab kutau dia salah satu angota dewan. Hingga esok harinya, aku kembali mendatangi Wulan, dan dia sudah hilang. Aku tau orang-orang tak ada yang peduli, justru ucapan syukur terlontar lantaran pelacur sudah tidak ada lagi di wilayah mereka. Tapi diam-diam, warga penasaran juga, mereka mulai bertanya-tanya kemana perginya sang pelacur.
Ku ceritakan ini pada kalian, aku mendengar semua peristiwa semalam.
Begini, pada mulanya laki-laki itu memang sengaja ingin menyingkirkan Wulan, sebab takut ketahuan menjalin hubungan terlarang. Suara jeritan perempuan itu terdengar saat rambutnya dijambak, teriak kesakitan saat pukulan berulang kali dilayangkan. Kudengar Wulan memohon ampun sambil berjanji tak akan pernah menceritakan pada siapapun bahwa dia adalah simpanan anggota dewan.
Karena yang dihadapi Wulan adalah jelmaan setan, maka segala ucapan tak akan didengar. Ia didorong hingga kepalanya membentur dinding ruangan, saat itulah, suara kesakitannya hilang. Beberapa saat kemudian laki-laki lain datang, mereka menyeret Wulan layaknya bangkai binatang yang harus segera dibuang.
Aku menyesal karena meninggalkan Wulan sendirian. Setiap orang yang kuminta bantuan agar mencari jasad Wulan beranggapan bahwa aku seorang pendusta. Tak ada seorang pun yang percaya.
Hingga satu malam, saat aku sendirian duduk di kursi kayu dari bambu yang biasa Wulan tempati. Aku mendengar satu suara. Suara yang datang dari kesunyian, yang ketika tiba membawa semerbak keharuman.
Mereka berkata bahwa saat Wulan dibawa, ia menangis sembari berkata.
“Akhirnya aku terbebas dari kehidupanku yang menyiksa.”
Kuceritakan ini pada kalian, tapi kalian menganggapku dusta.
N. Anisa

Komentar
Posting Komentar