Langsung ke konten utama

Kembali ke Perjalanan

Semua yang seperjalanan adalah kawan.


Perjalanan.

    Kata menggiurkan yang selalu ingin di dengar oleh para petualang. Bagi banyak orang, apalagi di tengah manusia modern sekarang. Perjalanan seringkali dibayangkan dengan menaiki pesawat terbang, mobil hitam, kapal pesiar, atau berbagai jenis kendaraan penggugah kenyamanan. Semakin nyaman maka akan semakin berkesan. Namun bagi jenis manusia lain, perjalanan sesungguhnya bukan sekedar mencapai tempat tujuan atau jenis kendaraan yang ditunggangi, melainkan menikmati setiap langkah, memperlambat pandangan, membaca manusia, menghadapi kelelahan demi kelelahan. 

Kalau kata Agustinus, perjalanan bukan tentang kaum masokis yang merasa senang dengan menyiksa diri, atau tentang keberanian Marco Polo yang melintasi Eropa menuju Asia. Perjalanan sendiri adalah pembuktian kesabaran. 

    Bayangkan saat anda dipaksa melakukan perjalanan seharian padahal bisa ditempuh hanya dalam waktu satu jam. Terik matahari, asap kendaraan hitam mengepul di jalan, yang kuyakin membikin orang malas hanya untuk sebatas keluar kamar. Maka untuk tetap berani melakukan perjalanan dan menerobos kesulitan, mereka harus memiliki alasan.

Jadi kali ini, anda akan mendengarkan cerita mengenai perjalanan yang melelahkan melalui tulisan ini beberapa menit ke depan, kuharap kalian tak akan bosan. 

    Perjalanan ini dimulai oleh sekumpulan anak muda yang tidak tau mereka akan dibawa ke mana. Mungkin saja, pengalaman naik perahu pertama kali memberikan kesan positif di awal. Deburan ombak, semilir angin, pemandangan kapal-kapal yang sedang singgah di tengah laut. Suara mesin kapal yang merusak keheningan, mereka semua diam, menikmati, mengamati, mendengar isi kepala sendiri.



Tapi dibalik kenikmatan ini, aku terpikir oleh bapak pengemudi perahu yang sudah melakukan ini ratusan kali. Menyeberang laut, mengantar ratusan orang selama hidup. Sehingga kegiatan ini mungkin jadi hal yang biasa. Maka mungkin ia sudah tidak lagi merasakan kenikmatan yang sama seperti saat pertama kali mencoba. 

    Aku jadi teringat pengalaman pertama kali ketika naik kapal. Tak putus mataku menyimak penjual asongan yang menjajakan jajanan pada penumpang. Tak ada satu pun penumpang yang mereka lewatkan untuk ditawari. Tak terkecuali aku, tentu saja. Ketangguhan dari sebuah perjalanan sebenarnya adalah mereka yang ikut menaiki kapal seharian hanya untuk menjual dagangan. Usaha yang tak kenal lelah demi seporsi nasi.  Terus berusaha menawari dagangan meski banyak penumpang yang tak menaruh minat. Barangkali dari sanalah seseorang belajar tentang perjuangan, selalu mencoba, tak pernah takut untuk tertolak. Hingga pada akhirnya lamunanku buyar oleh kalimat, "Kacang, air, kopi?" untuk yang kesekian kali. 

Maka seperti sebelumnya, aku berharap menemukan hal baru dari perjalanan kali ini. Meskipun dari rute yang pernah di lewati.

    Setelah turun dari perahu, ajakan-ajakan mulai terdengar dari tukang angkot. Ah, sudah lama aku tidak mendengar desakan ini. "Mau kemana mbak?"

"TP pak."

"Oh iya bisa, tujuh ribu saja ayo masuk!"

"Mau naik bus pak."

"Jauh-jauh, ayo lima ribu saja, masuk-masuk!"

"Naik bus saja pak, dekat sini ada halte," dengan wajah pasrah samar-samar aku mendengar ia berkata pada rekannya, "mereka mau naik bus."

Mendengar itu tanpa sadar aku tersenyum. 


 ***


Kakiku melangkah setelah mengamati bangunan merah megah yang kata ibu sering datang ke sini saat masih muda. JMP, singkatan dari Jembatan Merah Plaza yang berada di Surabaya. Tempat perbelanjaan yang menyimpan banyak sejarah. Bangunan yang berdiri sejak 1994 itu memang sengaja dibuat sebagai bentuk revitalisasi Jembatan Merah yang sudah ada sejak masa Belanda. Meski sudah sering datang kemari, aku masih belum pernah masuk ke dalam sini. 

    Sepi. Satu kata yang terlintas di kepala. Tak banyak pengunjung yang datang, toko-toko yang buka mayoritas menjual kain dan pakaian wanita. Entah kenapa saat masuk aku teringat adegan film horor yang mengambil lokasi suting di dalam mall. Hampir tak ada yang menjual makanan di dalam, dan hampir hanya ada orang tua dan dewasa yang berkunjung. 

Saat sampai di lantai 4, suasanya sudah benar-benar berbeda, eskalator sudah tidak lagi menyala. Kali ini benar-benar tidak ada orang sama sekali, bahkan para penjual pun tidak ada. Di salah satu toko kosong aku menemukan bekas brosur yang menampilkan potongan harga untuk produk pakaian yang dijual. Tertulis tahun 2016. Cukup lama tertempel untuk sebuah promo pakaian. Entah tahun ke berapa pemiliki memutuskan untuk menutup toko tanpa merobek brosur promo lebih dulu.


    Bangunan ini terdiri dari 5 lantai. Di lantai 4 dan 5 sudah tidak ada transaksi jual beli. Sebagian bekas barang dagangan masih ditinggal, seperti manekin dan alat kasir. Aku duduk di tangga paling atas, terlihat jelas orang-orang yang sedang berada di bawah. Saat sedang menikmati pandangan, orang di samping tiba-tiba membuka obrolan. "Apakah teknologi itu baik atau buruk?" 

Aku paham arah pertanyaan ini akan ke mana. 

Teknologi mempengaruhi cara hidup manusia, mempengaruhi semua zona, zona budaya, bahasa, makanan, juga transaksi jual-beli. Dulu lokasi ini sempat ramai, sebelum pada akhirnya sepi karena sudah banyak pembeli yang lebih memilih beli lewat benda pipih yang selalu mereka bawa ke mana-mana. Tak perlu lagi membuang tenaga untuk mencari barang dari satu tempat ke tempat lain. Banyak orang bilang itu disebut sebagai perkembangan zaman. Jadi wajar kalau semua serba instan.

      Maka lihatlah tempat ini, bukti nyata dari perubahan perdagangan yang semakin instan. Teknologi memang banyak membatu pekerjaan manusia, tapi pertanyaanya, sampai batas apa manusia menciptakan bantuan bagi dirinya? Aku jadi ingat pikiran liar Bintang Emon yang bilang kalau dia berharap di masa depan ada teknologi yang bisa membantu agar manusia tidak perlu lagi mengunyah makanan untuk mengisi perut. Kalau nanti itu benar-benar terjadi, aku akan bertepuk tangan paling keras pada manusia cerdas yang berhasil membuatnya. Gila!

Setelah kami selesai mengobrol cukup lama, aku mengajak mereka untuk kembali berkumpul dengan kawan-kawan yang lain. 

Lokasi ini adalah destinasi pertama, perjalanan masih panjang. Kami akan melakukan perjalanan bersama selama seharian. 

Perjalanan adalah tentang pencarian makna, pengharapan, kesabaran. Pelancong di tengah laut berharap dapat segera melihat daratan, pelancong gurun berharap dapat segera melihat hutan. 

Tepat hari ini mereka sudah selesai melakukan perjalanan. Mereka kembali ke hunian yang mungkin sudah dirindukan. Kasur, kipas, air, sabun, dan semua fasilitas lain yang akan menjadi berharga setelah perjalanan ini. Haha.

Selamat menikmati istirahat, 
semua yang seperjalanan adalah kawan. 
Meskipun pernah dibuat jengkel selama perjalanan.





Kamal
28/9/2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...