Langsung ke konten utama

Si Parasit Lajang - Ulasan


Beliau perempuan bebas dan berani melakukan apa yang ada dalam pikirannya. Sedangkan saya? ah,  masih amatiran, jadi tidak berani.


Buku ini sudah lama masuk dalam jajaran bacaan yang ingin segera saya tamatkan. Saya masih ingat betul ketika pertama kali membaca buku Cerita Cinta Enrico dengan penulis yang sama, namun dengan usia yang masih belia. Bayangkan saja, bocah SMP yang hanya iseng ingin membaca buku di perpustakaan, tak sengaja meminjam buku karya Ayu Utami yang memiliki ciri khas feminis dan penggemar film biru. Saya sudah merasa buku itu terlalu vulgar, tapi entah kenapa, rasa penasaran dari pemikiran yang dituangkan Ayu Utami membuat saya terus ingin melanjutkan membaca.

Sekarang, bertahun-tahun setelahnya, ketika saya membaca Si Parasit Lajang. Barangkali ini masa yang tepat, sehingga saya mampu memaknai dengan pikiran yang lebih terbuka. Maka seperti yang mungkin sudah anda tau, Si Parasit Lajang berisi esai milik Ayu Utami yang menjelaskan mengapa dia tidak ingin menikah. Hal itu tertulis pada bagian prolog yang diberi judul 10+1 Alasan untuk Tidak Kawin. Baginya, pernikahan menjadi hambatan untuk bebas dalam menentukan jalan hidup, dalam meraih cita-cita dan semua mimpi. 

Ah, saya sebenarnya malas mengakui bahwa saya setuju dengan pernyataan ini. 

Tetapi, bukan berarti anda langsung bisa melabeli saya sebagai feminis atau anti pernikahan. Tolong jangan langsung beranggapan seperti itu!

Saya akan memberikan penjelasan mengapa saya setuju.

Di masyarakat Indonesia saat ini, mayoritas beranggapan kalau pernikahan adalah sebuah kewajiban. Katakanlah di kampung halaman saya, perempuan yang belum menikah di atas usia 25 tahun akan dilabeli sebagai perawan tua. Sehingga pertanyaan mengapa belum menikah menjadi hal biasa yang akan dilontarkan oleh tetangga. Padahal bisa saja, si perempuan sedang berusaha mewujudkan mimpinya, dan tidak semua mimpi perempuan terpusat pada pernikahan. Alhasil si perawan tua ini sering dikasihani, karena tak kunjung menemukan pujaan hati.

Akan tetapi di sisi lain, saya dapat melihat maksud kepeduliaan di baliknya, sebab mayoritas masyarakat desa menjunjung tinggi dogma agama. Maka tak heran kalau mereka akan saling mengingatkan (meski dengan cara yang tidak mengenakkan) jika ada seseorang yang melanggar/belum melaksanakan salah satunya. Sebab katanya, menikah akan menyempurnakan separuh agama, jadi kalau belum menikah maka agamanya belum sempurna (kurang lebih seperti itu).

Ayu Utami beranggapan bahwa hal semacam ini akan menjadi penghalang kebebasan, sebab setelah menikah, baik laki-laki maupun perempuan akan kehilangan kebebasan. Mereka akan sibuk dengan tanggung jawab, bekerja dari pagi hingga larut malam, mengurus anak, membayar pajak, dan mengulangi rutinitas yang sama setiap hari. Baginya, itu terlihat tidak menarik. Mengapa harus menikah jika dia bisa melakukan apa saja tanpa perlu terikat oleh pernikahan. Juga tidak ada jaminan kalau menikah tidak akan bercerai di kemudian hari, sehingga pilihan untuk melajang menjadi jalan alternatif yang efektif dan efisien. 

Sekilas, argumen ini nampak meyakinan bagi saya diawal, sangat logis. Namun, tetap terasa ada yang mengganjal. Setelah saya cari tau, bagian ini yang mengganjal. 

Jadi, sejak diawal saya sudah mengatakan untuk jangan langsung melabeli saya feminis atau anti pernikahan karena setuju dengan pendapat Ayu Utami. Sebab saya punya tambahan argumen yang sangat bertolak belakang dengan penulis buku ini. Perbedaan ini bisa karena latar belakang keluarga dan agama. Saya lahir di keluarga yang bisa dibilang cukup mengamini dengan dogma agama, serta aturan norma masyarakat yang ada di desa. Karenanya, saya juga mengamini bahwa menikah memang bagian dari menyempurnakan agama. Di mana hal ini sulit diamini oleh Ayu Utami karena dia tidak terikat oleh norma dan dogma agamanya. 

Beliau perempuan bebas dan berani melakukan apa yang ada dalam pikirannya. Sedangkan saya? ah,  masih amatiran, jadi tidak berani.

Selama membaca buku ini saya tau beberapa hal mengapa perempuan pada akhirnya memilih untuk tetap sendiri (tidak menikah). Pemikiran mereka yang rumit, unik, bebas, dan liar. Membuat saya ketika selesai membaca refleks membatin, wow amazing!

Saya pun semakin tidak bisa berkata-kata saat mengingat bahwa penulis yang bukunya sedang saya baca, dengan segala alasannya untuk tidak menikah. Kelak di masa depan, jauh setelah tulisan di buku itu dibuat. Pada akhirnya dia sudah menikah.

Maka saya ucapkan selamat meski telat, untuk mbak Ayu Utami.


N.A
9/17


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...