Langsung ke konten utama

Klasik

 



Di luar kamar hujan turun sangat deras. Saking derasnya butiran besar air jatuh dari sela plafon atap kamar yang telah usang, membikin kasur saya basah. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang. Saya akan tidur dengan keramaian hujan, dan meringkuk di bagian kasus yang tidak terkena tetesan  air.

Akan tetapi, tulisan ini saya buat bukan untuk meluapkan keluh kesah tentang plafon kamar yang tiba-tiba bocor.

Beberapa menit yang lalu saya baru saja selesai menonton video perbincangan tiga orang dewasa yang topiknya cukup menarik bagi saya. Judul videonya lumayan panjang di YouTube, saya malas mencari tau, mungkin jika anda tidak sengaja menonton video yang mirip dengan topik yang sedang saya tulis. Maka kemungkinan besar video itulah yang sudah saya tonton.

Mereka membahas tentang masa klasik and lost of identity. Masa klasik di sini bukan dimaksudkan peradaban yang ada pada negara barat, melainnya masa klasik peradaban yang ada di pulau Jawa. Jika diibaratkan masa seperti time line yang mempermudah. Maka dijelaskan pada masa awal terdapat masa prasejarah, di mana topik ini tidak dibahas. Kemudian abad 5-15 masuk pada masa klasik yang sering dijuluki sebagai era hindu budha. Pada abad 16-17 terjadi masa transisi sebelum pada akhirnya masuk di masa kolonial di abad 17-20.

Pada era klasik, peradaban di Jawa mengalami kehidupan yang tenteram. Bahkan disebut sebagai masa keemasan peradaban di pulau Jawa, sebab pada saat itu pendidikan sudah ada dan berhasil di terapkan oleh masyarakat Jawa. Tapi jangan bayangkan pendidikan adalah sistem yang diajarkan di sekolah seperti sekarang, sebab kurikulumnya diadopsi dari masa kolonial. Pada era klasik, pendidikan lebih terfokus pada cara menghormati alam. Sebab seperti yang kita tau, hutan terbentang sangat luas di pulau Jawa, terkhususnya pada masa klasik di mana jumlah penduduk tidak sebanyak sekarang.

Maka bagi mereka, alam adalah bagian dari kehidupan. Sebuatan Bhuana Agung (alam raya), di mana manusia bagian dari alam semesta, apa yang terjadi di alam akan terjadi pada tubuh manusia. Ungkapan ini mengingatkan saya pada film documenter yang saya tonton beberapa tahun lalu. Di mana menjelaskan bahwa makhluk hidup saat ini sudah tercemari oleh mikroplastik yang di produksi oleh manusia sendiri. Mikroplastik itu masuk ke dalam sumber makanan, seperti ikan, lalu manusia memakannya. Hingga pada saat meneliti tinja manusia, diketahui bahwa sudah ada mikroplastik di dalamnya.

Pendikan era klasik pada saat itu begitu berbeda dengan masa sekarang, mereka diajarkan untuk bersikap cukup, mengambil seperlunya dari alam. Alam menjadi manifestasi spiritual untuk saling menjaga dan menghormati, sehingga pada aturan-aturan masyarakatnya pun dengan tegas akan menghukum orang yang merusak alam.

Sedangkan jika menengok keadaan alam di zaman ini. Rasanya semuanya sudah dieksploitasi. Pergeseran ideologi membuat manusia kini memandang alam adalah objek sumber daya, bukan lagi bagian dari alam semesta seperti halnya manusia. Maka manusia disebut telah kehilangan identitas, seperti halnya masyarat Jawa modern yang tidak mengenal sejarah peradaban mereka. Mentok hanya sampai ingatan sejarah pada masa kolonial Belanda. Barangkali ini tidak hanya dialami oleh masyarakat Jawa saja, mungkin krisis identitas sedang dialami oleh semua manusia modern. Di mana mereka mengalami kebingunan tentang nilai-nilai yang diyakini, tujuan hidup, atau cara pandang perubahan teknologi yang meningkat pesat saat ini.

Disebutkan juga, peradaban dulu sebenarnya terfokus pada pengembangan spiritual, misalnya pembangunan piramida mesir dan candi Borobudur adalah bangunan-bangunan untuk aspek spiritual. Namun setelah masa revolusi industri semua berubah. Manusia mengenal sistem ekonomi (supply and demand) yang sudah menguasai dunia saat ini. Mitos-mitos tidak dipakai lagi, bahkan cenderung diremehkan dan dianggap sebagai ketertinggalan. Pun kemampuan untuk merasa cukup mengambil dari alam sudah tidak diajarkan lagi, sekolah-sekolah moderen lebih ingin menghasilkan produk yang mampu bersaing di ekonomi global. 

Maka kini menghormati alam telah menjadi hal yang ganjil.

Maka lama kelamaan, jika manusia tidak merubah, maka alam akan rusak. Bersamaan dengan itu manusia pun telah rusak.



Kamar kos, 10 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Takdir dan Free Will

Antara takdir dan free will (kehendak bebas) manusia. Saya sering bergelut tentang pembahasan takdir dan kehendak. Kadang sulit membedakan mana yang bisa saya ubah atau yang memang ini adalah takdir saya. Mungkin hal ini tidak hanya saya saja yang merasakan, barangkali anda juga. Maka hari ini, saya ingin membuang sampah dari hasil penangkapan saya saat sesi sinau dewe yang saya buat. Entah anda setuju dengan hal ini atau tidak, cukup anda baca saja. Ketika saya mendengar diskusi yang dilakukan oleh mas Sabrang, dalam hati saya berkata, “kok bener” tentang penjabaran yang dijelaskan. Jadi bisa dibilang, saya juga turut menjiplak dari apa yang disampaikan oleh beliau. Tentang takdir dan free will . Apa yang membedakannya? Apa gunanya free will jika takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia? Ini mungkin akan terdengar sederhana, bahwa takdir adalah ketentuan yang diberikan Tuhan dan tidak bisa dirubah oleh manusia. Jika anda terlah...

Nada Sumbang

  Tulisan ini akan saya buka dengan kalimat orang lain. Semakin kau mengenalku, maka semakin banyak kekuranganku yang kau lihat. Oleh sebab itu turunkanlah ekspektasimu tentang diriku. Aku hanya ragu saat kau melihatku, justru kau akan berkata, "kenapa kau begitu?", memangnya kau berharap aku ini apa? Aku tidak sebaik seperti apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas dihatimu. (Ali bin Abi Thalib) Saya hanya ingin mengabadikan tulisan itu, karena memang cocok diingat juga dibaca lagi dan lagi. Bahkan meskipun saya tidak tahu akan membahas topik apa yang berhubungan. Tapi ya sudahlah, mari ditulis dulu saja. Saya pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang cukup saya amini perkataan dan akhlaknya. Kalau kita sekarang ini sedang melakukan perjalanan panjang layaknya lari maraton, semenjak dari kandungan hingga nanti bertemu kembali dengan Tuhan Maha Esa. Selayaknya melakukan maraton, kita harus tau bagaimana mengatur irama, tempo, strategi, agar t...

Logoterapi

Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Pada tahun 1942, Viktor E. Frankl ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Sebuah penangkapan massal yang dikenal karena peristiwa genosidanya terhadap jutaan kaum Yahudi di Jerman. Sebelum ditangkap, Viktor sebelumnya adalah seorang Psikiater dari Wina, ia kemudian menerbitkan buku “Man’s Search For Meaning” untuk pertama kali pada 1946 dengan nama anonim setelah terbebas dari kamp. Di dalam bukunya, “Man’s Search For Meaning” Viktor membahas tentang teori logoterapi yang dia ciptakan sendiri. Sebuah kata yang diambil dari Bahasa Yunani yakni logos, yang berarti “makna”. Sesuai dengan artinya, logoterapis memusatkan pada pencarian makna hidup manusia. Hal itu juga berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami selama dalam masa tahanan Nazi. Di mana Viktor membaginya dalam tiga tahapan. Pertama saat jiwan...