Puisi Pagelaran Maka di saat-saat seperti ini, apa sebenarnya yang diharapkan? Kesadaran bahwa pagi selalu datang, menyosong malam? Nyatanya dunia telah berputar, perubahan datang bersamaan Orang-orang datang bergantian, berdesak memaksa ruang Bisa jadi kesadaran memang benar rupa tantangan Tak heran pagelaran mesti diadakan Setiap malam Sendirian. Kesombongan Yang kontras saling bertabrakan; lalu perlahan memberikan pelajaran Katanya, Ia tak suka pada kesombongan, apapun warna rupa Bahkan pada bunga-bungan di taman yang mengaku paling indah, meski benar adanya Atau pada kepandaian segerombolan serigala yang senantiasa menjaga zona mereka Atau juga pada keberanian yang tak bisa dimiliki oleh semua orang Tetap saja, bagi-Nya kesombongan ialah begitu adanya Datang dengan lembut, lalu menyeruak sampai ke luar.
Di luar kamar hujan turun sangat deras. Saking derasnya butiran besar air jatuh dari sela plafon atap kamar yang telah usang, membikin kasur saya basah. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang. Saya akan tidur dengan keramaian hujan, dan meringkuk di bagian kasus yang tidak terkena tetesan air. Akan tetapi, tulisan ini saya buat bukan untuk meluapkan keluh kesah tentang plafon kamar yang tiba-tiba bocor. Beberapa menit yang lalu saya baru saja selesai menonton video perbincangan tiga orang dewasa yang topiknya cukup menarik bagi saya. Judul videonya lumayan panjang di YouTube, saya malas mencari tau, mungkin jika anda tidak sengaja menonton video yang mirip dengan topik yang sedang saya tulis. Maka kemungkinan besar video itulah yang sudah saya tonton. Mereka membahas tentang masa klasik and lost of identity. Masa klasik di sini bukan dimaksudkan peradaban yang ada pada negara barat, melainnya masa klasik peradaban yang ada di pulau Jawa. Jika diibaratkan ...