Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2023

Pulang

Aku tidak tau bagaimana memaknai arti kata pulang sesungguhnya, barangkali arti pulang adalah ketika seseorang menemukan tempat ternyaman yang menjadikan dirinya menjadi utuh. Tidak ada kepalsuan yang ditunjukkan sehingga hanya akan memunculkan pribadi yang selama seharian ditutupi tanpa sadar. Mungkin saja malam ini aku lelah hingga merindukan rumah, mungkin saja aku merindukan segala hal yang ada di sana. Dari mulai suara burung peliharaan bapak yang bersiul tengah malam, dinginnya kamar, pun hangatnya percakapan antara ibu dan anak hingga larut malam. Kusadari betapa nyamannya semua itu setelah tidak bisa lagi merasakannya. Masih perlu waktu tiga bulan untuk liburan, tiga bulan untuk pulang. Ternyata mewujudkan keinginan untuk pulang hanya saat liburan panjang itu tidak mudah. Dan ya, aku sudah tau itu sebelumnya. Akan tetapi tidak boleh kerinduan ini menyiksaku semalaman, sebab malam masih panjang.   Akhirnya aku memutuskan menelepon seseorang yang sudah kenal dekat...

Jiwatrisna

Hidup yang Biasa Saja. Malam itu Jiwatrisna (kita panggil saja Jiwa) datang menemui saya dengan keadaan ngos-ngosan seperti habis lari maraton. Mata saya memandangnya bingung, wajahnya lelah, bajunya kusut, jilbab yang morat-marit, juga mulut yang terbuka guna membantu menghirup oksigen ekstra. "Loh ada apa?" Tanyaku. Ia mengatur napas, "anu ..." "Anu apa?" Saya masih menunggu.  "Numpang mandi di tempatmu. Di tempatku airnya mati." Jawabnya kemudian. Saya segera menyuruhnya masuk dan dia langsung menuju kamar mandi, setelah selesai kami berbincang sebentar. Jiwa ini bisa dibilang adalah orang yang jarang membuka obrolan jika tidak ditanya, apalagi tidak penting-penting amat. Akan tetapi jika dengan saya dia bisa bercerita dengan lugas, barangkali karena kita memang dekat.  "Setelah kuliah kesibukanmu apa biasanya?" Tanyaku setelah ia keluar dari kamar mandi. Dia terkekeh mendengar pertanyaan dariku, "kau ini kayak tidak kenal aku s...

Kelilit Utang!

sumber diambil dari instagram @ahquote Mengapa di zaman sekarang pacaran seakan menjadi tren yang harus dilakukan? Banyak sekali anak muda yang sadar maupun tidak sadar telah menghabiskan waktu hanya untuk satu kalimat itu. Bayangkan saja, diumur yang baru belasan tahun fokus mereka dipenuhi oleh pasangan. Bagaimana cara membuat pasangan kita senang? Bagaimana agar dia tidak marah? Bagaimana mempertahankan hubungan yang sudah seperti makanan sehari-hari yang mulai membosankan?  Fokus itu kemudian menjadi boomerang bagi mereka untuk mengalihkan perhatian akan masa depan diri sendiri. Bahkan memikirkan perihal jadi apa nanti saat mereka dewasa saja sudah tidak sempat, apalagi memikirkan potensi yang harus dimiliki untuk bertahan di dunia yang keras ini.   Saya punya teman, barangkali kisahnya bisa menjadi sebuah pelajaran.  Dia seorang perempuan yang pernah cerita bahwa sejak SD hingga SMP sudah memiliki mantan kekasih lebih dari 30 orang. Tentu itu hal lua...

Manusia Plintat-Plintut!

Manusia Plintat-Plintut!  Lelah sekali rasanya. Lagipula siapa suruh jadi manusia plin-plan. Keputusan diambil tanpa mengukur kemampuan sampai membuat pikiran kocar-kacir mencari tempat. Sejak awal sudah dijelaskan jangan jadi manusia yang tidak punya pendirian, apa jadinya hidupmu jika keputusan saja tak becus kau pertahankan. Memangnya kekhawatiran apa yang ada dalam kepala bulusmu itu? Jangan-jangan tak lebih penting dari sekedar memikirkan perihal bumi itu datar atau bulat. Ataukah tentang matahari yang bergerak atau diam di tempat? Pikiranmu berlari ke depan, tubuhmu terpaku berjam-jam. Ayolah kawan, yang benar saja?!  Sampai kapan kau mau jadi manusia Plintat-Plintut seperti itu? Tidakkah kau malu? Tidakkah justru orang lain akan memandangmu aneh seperti cacing kepanasan di bawah pohon beringin. Aku saja terheran-heran melihatmu seperti itu.  Pernah suatu ketika kau bertanya bagaimana bisa orang lain berhasil atas keputusan konyol mereka. Bagimu itu sang...

CERPEN - Musim Gugur Tahun Ini (3)

Ini cerpen tidak jelas yang saya buat. Ini sudah jauh dari tanggal update, jadi maafkan. Walaupun begitu, semoga kalian bisa menikmati ceritanya . Aku berbalik dan berjalan mendekat. Kedua laki-laki berbeda usia itu menatapku dengan skeptis. "Apa maksud dari obrolan kalian barusan? Apakah kalian sudah saling mengenal? Apa kalian menymbunyikan sesuatu dariku?" Mereka berdua hanya diam.  "Jawablah!"  Aku ingin mendapatkan jawaban, bukan kebisuan.  "Hikaru! kamu mengenal ayahku?" Aku menatapnya dengan tajam agar dia mau menjawab pertanyaan yang kuajukan. Lalu kemudian dia mengangguk. "Sejak kapan?" Tanyaku. "Sejak lama." Jawabnya dengan nada rendah. Mendengar jawabannya aku merasa kebingungan, dia bilang baru pindah ke daerah ini. Lantas bagaimana dia bisa mengenal ayahku sejak lama? Aku seperti orang bodoh yang tidak tau harus berbuat apa. Aku butuh penjelasan. Tiba-tiba kurasakan kepalaku berputar, terasa sakit luar biasa. Aku hanya bisa...