Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2023

Sekumpulan Yang Terbuang

Nabi Adam turun ke Bumi untuk menjadi Khalifah bagi makhluk yang ada di dalamnya. Lalu kemudian para keturunannya mulai belajar adaptasi, membangun kelompok-kelompok kecil hingga kemudian menjadi sebuah golongan besar. Golongan itu terpecah-pecah menjadi berbagai etnis, agama, budaya, dan wilayah. Sebagian mereka mengaku memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain.  Setiap wilayah kemudian memiliki paradigma sendiri yang diukur dari komposisi sejarah, budaya, etnis, dan agama, lalu menentukan golongan  mana yang harus di hormati, dipertahankan, dan dibantai. Seringkali mereka yang dibuang adalah manusia-manusia yang tersisihkan oleh perkembangan zaman, atau lahir dalam sejarah yang tak diharapkan. Bagaimana bisa manusia memberi label pada spesiesnya sendiri tentang suatu tingkatan sosial yang berbeda. Dari perspektif manakah penilaian itu diukur?  Saya rasa masyarakat Rohingya hanya menginginkan pengakuan bahwa mereka juga adalah makluk Tuhan yang diut...

Resensi: Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk  Penulis: Ahmad Tohari  Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2003 ISBN: 978-979-22-7728-9 Jumlah halaman: 404 Buku ini berhasil membuat saya memahami maksud penulis tanpa harus berpikir keras. Tokoh utama Srintil adalah perempuan atau barangkali korban dari kebodohan, kemiskinan, serta kemelaratan yang terjadi di Dukuh Paruk. Budaya yang kental telah diartikan menjadi pilar-pilar kehidupan yang mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Kepercayaan itu membawanya menjadi seorang penari yang harus menjalankan semua tradisi sebagai seorang Ronggeng. Tradisi itu bagi saya menyalahi moral, agama, juga kemanusiaan.  Bagaimana bisa seorang gadis yang masih belasan tahun harus menjalani tradisi bukak-klambu, yaitu tradisi yang mengharuskan seorang Ronggeng melepas keperawanannya dengan lelaki yang berhasil memenuhi syarat yang diberikan. Sang Ronggeng tidak boleh menolak siapapun yang berhasil lolos, Srintil harus menjalani malam pan...

Tragedi Pembelajaran

Ah, rasanya bahkan sejak sebelum kaki menginjak di pulau Madura sudah banyak yang mengatakan bahwa pencurian di sana masih merajalela. Apalagi di daerah sekitar kampus Negeri satu-satunya di daerah itu, pencurian sepeda motor seakan menjadi tragedi yang sudah biasa di dengar. Merasa acuh jika itu bukan sepeda motor pribadi ataupun kaum kerabat, teman, pun kenalan. Namun menjadi tragedi mengerikan jika menimpa dirinya sendiri. Barangkali kami menyepelekan peringatan itu. Peringatan dari pengalaman korban pencurian di kosan maupun parkiran. Kami masih merasa aman, damai, dan tentram. Hingga perasaan apatis tanpa sadar sudah menghuni akal pikiran. Sehingga kami dengan tenang membuka tutup pintu gerbang tanpa rasa was-was. Jarang terkunci dengan benar karena kemarin-kemarin tidak terjadi apa-apa saat pintu masih terbuka.  Pintu terbuka lebar-lebar, para pencuri kembali menemukan ladang penghasilan.  Alhasil kejadian ini pun terjadi juga. Berkah untuk para pengambil, pe...

Generasi Beda Zaman

Saya memang tidak terlalu menyukai perdebatan, apalagi perihal politik. Sebab rasanya tidak akan berujung apa-apa kecuali salah satu pihak merasa pemikiran serta kepercayaannya berhasil mendapatkan tempat pada lawan bicara. Apalagi sebentar lagi pemilihan presiden, segala kericuhan sedang terjadi di mana-mana. Tidak hanya di media sosial, di kalangan masyarakat kelas bawah pun tengah sibuk mencari tau siapa yang akan memberi sogokan paling besar.  Terutama jika sedang membahas politik dengan bapak. Rasanya semua argumen yang saya keluarkan tidak bernilai jika kalimat mutiara yang sering beliau pakai keluar.  "Ya namanya juga pemimpin tidak ada yang sempurna. Semua orang punya kekurangan, semua orang juga punya kebaikan." Barangkali mungkin bapak sudah terlanjur jatuh hati dengan bapak presiden yang sekarang ini. Terkenal dengan segala kebijakan yang katanya pro dengan rakyat miskin. Bantuan yang berceceran dalam segala nama, seperti menjadi senjata untuk mengambi...

Ketidakjelasan

Ketidakjelasan sepertinya sedang saya rasakan akhir-akhir ini. Bagaimana tidak? bahkan untuk sekedar menulis pun saya ragu dan bimbang. Padahal itu bukanlah persoalan rumit yang butuh teori khusus untuk diselesaikan.  Bagaimana tentang hal-hal lain yang lebih kompleks dari itu?  Entahlah. Saya ingin membahas sedikit tentang pengendalian emosi. Tidak tau bagaimana seseorang yang dekat dengan saya selama berkuliah di sini bisa begitu mempunyai pengendalian emosi yang buruk. Pendekatan yang tanpa direncakan membawa kami harus berusaha saling mengenal. Benar saja, keterpaksaan itu sempat membuat saya sedikit stres karena pribadinya yang kasar. Tentu itu bukan hal yang terlalu buruk karena semua manusia punya sisi kasarnya masing-masing.  Akan tetapi masalahnya saya belum terbiasa. Sempat saya melakukan analisis tidak bermutu lewat google untuk mencari apakah dia punya penyakit bipolar atau gangguan lain semacamnya. Setelah saya membaca beberapa artikel, saya tetap...

Pulang By Leila Salikha Chudori

Judul Novel : Pulang Penulis : Leila S. Chudori Tahun terbit : Desember 2012 Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) ISBN : 978-602-424-275-6 Jumlah halaman : 461 Novel ini menceritakan tentang sosok Dimas dan rekan-rekannya yang diburu oleh pemerintah karena diduga bergabung dalam paham komunis PKI. Selama pengejaran itu Dimas berada di luar negeri hingga akhirnya berdiam diri di Paris. Di sana ia bertemu dengan Vivienne, perempuan cantik yang memiliki bola mata hijau. Keduanya menikah lalu melahirkan sosok perempuan cantik yang bernama Lintang Utara. Kelak, Lintang yang akan berkunjung ke Indonesia untuk membuat film dokumenter tentang sejarah ayahnya. Dan saat itulah Lintang memahami apa yang selama ini dialami oleh ayahnya. Ketika itu, ia akhirnya mengetahui puzzle sejarah yang selama ini ditutupi oleh Dimas, ayahnya. *** Leila lahir pada 12 Desember 1962. Beliau adalah salah satu sastrawan yang mengawali debutnya sejak anak-anak. Karya terkenalnya adalah Pulang...